Rabu, 29 Juli 2009

Korban Narkoba



Masa yang paling indah adalah masa ketika duduk di SMU, begitu kata orang. Ada benarnya kalimat tadi. Aku mempunyai banyak teman antara lain Lisa. Rumah Lisa dekat dengan rumahku. Lisa seorang gadis yangcantik, periang, enak diajak bicara, sehingga tidak heran bila ia mempunyai banyak teman baik laki-laki maupun perempuan.
Lisa hidup dan dibesarkan oleh keadaan keluarga yang berkecukupan. Ayahnya seorang businessman yang sering bepergian keluar kota. Ibu nya seorang ibu rumah tangga yang aktip bergaul, membuat arisan bulanan untuk mengisi waktu sehari-hari. Tidak heran bila Lisa kurang mendapat perhatian orang tuanya.
“Nita, kau ikutlah denganku malam minggu besok.” Lisa berkata kepadaku sepulang dari sekolah. Kami menuntut ilmu di salah satu SMU di kota kami.
“Kemana Lis?” aku bertanya.
“Ke pesta si Lulu” jawan Lisa.
“Aku tak mau, malam Minggu keluargaku akan kedatangan Pamanku dari Solo. Aku harus membantu Ibuku di rumah” aku menolaknya.
“Iya dah, lain kali aku ajak ya, anak manis” Lisa meledekku.
Malam Mingu berganti malam Minggu, Lisa temanku selalu berpesta entah dimana tempatnya. Aku tidak memperdulikan keaktipannya. Sekali waktu aku pernah melihat Lisa turun dari mobil pemberian ayahnya, sambil memegang sebatang rokok. Dari mulutnya keluar asap rokok yang dihisapnya sambil mengemudikan mobilnya. Baunya tidak seperti rokok biasa yang sering aku hirup sebagai perokok pasip di dalam mobil angkutan kota. Aku curiga apakah Lisa mengisap rokok Ganja?
Kehidupan sosial Lisa yang tidak pernah diawasi orang tuanya makin tidak terkendalikan. Lisa sering berada di sebuah rumah teman lelakiku, Hasan yang sudah drop out dari SMU. Rumah Hasan dijadikan tempat berkumpul anak-anak muda. Kegiatan mereka tidak jelas selain membuat rumahnya penuh dengan asap rokok dan deru mesin sepeda motor.
Malam itu ada sepuluh orang laki-laki dan perempuan berada di rumah Hasan. Pada mulanya mereka mengisap rokok Ganja. Selanjutnya ada salah seorang teman Hasan, mengeluarkan alat suntik dan bubuk putih ( Putaw, Heroin ).
Toto mulai mempersiapkan alat suntik dan bubuk putih itu. Lalu ia menyunik dirinya sendiri di lengan kirinya, jarum menembus pembuluh darah baliknya. Teman-teman Toto secara bergantian dengan mempergunakan jarum yang sama menyuntik dirinya masing-masing.
 Lisa ditawari suntikan oleh Toto. Lisa menolaknya. Toto terus menerus memaksa Lisa mau disuntik bubuk putih tadi.
“Lisa, bila kau tak mau di suntik, maka kau bukan anggota geng kami. Semua teman-teman mau disuntik. Tidak apa-apa. Tidak ada bahaya apapun, Lisa.” Toto merayu Lisa
 Diledek begitu semangat Lisa bangkit dan akhirnya Lisa mau disuntik bubuk putih tadi. Sepuluh orang menjadi serasa terbang ( fly ). Tubuh-tubuh mereka bergelimpangan, tumpang tindih satu dengan yang lainnya.
 Keesokan harinya aku melihat Lisa di sekolah dengan wajah yang tidak rapih, seolah belum mandi. Padahal Lisa adalah seorang perempuan yang cantik. Tidak ada konsentrasi untuk belajar. Matanya selalu menutup kalau tidak diajak bicara. Efek Puthaw, bubuk Putih sudah mempengaruhi kehidupannya.
 Malam Minggu berikutnya, geng anak muda tadi berkumpul lagi di rumah Toto. Kali ini Lisa langsung meminta suntikan dari Toto. 
Toto yang bandar Narkoba berkata “Lisa, minggu yang lalu, saya beri gratis, tetapi kali ini kau harus membayarnya.”
Lisa menjawab “Aku tak bawa uang, To.”
“Tidak apa-apa kau berikan cincinmu itru kepadaku dan engkau akan mendapatkan suntikan dariku” Toto memaksa Lisa untuk menyerahkan cincin emas pemberian Ibunya kepada Toto.
Toto tertawa sambil melucuti cincin di jari manis Lisa.
Kebiasaan menyuntik bubuk putih tadi telah membuat semua anggota geng itu ketagihan. Bila Toto tidak berada di rumah, mereka menjadi gelisah. Badan mereka kesakitan ( sakaw ) dan mereka akan berbuat apa saja demi satu suntikan Putaw.
Perhiasan Lisa sudah habis dilucuti Toto untuk membayar harga Putaw. Sudah tiga bulan uang sekolah Lisa tidak dilunasi, uangnya dipakai untuk membeli Putaw. Suatu malam Minggu Lisa mengunjungi rumah Toto. Dengan badan yang loyo Lisa berkata kepada Toto untuk meminta satu suntikan Putaw. Disana sudah ada seorang laki-laki yang tidak dikenal oleh Lisa. Ia menyangka itu adalah salah satu anggota keluarga Toto.
“To, beri aku satu suntikan.” Lisa meminta kepada Toto.
“Boleh. Apa yang akan kauberikan kepadaku. Mana uangnya?”
“Aku tidak bawa uang. Uangku sudah habis,To” Lisa menjkawab dengan lesu.
“Begini saja Lis, Kau temani sahabatku ini Jaenal di kamarku. Mau kan?” Toto merayu Lisa.
Lisa yang sudah kepepet dengan keinginan menjadi Fly, hanya menganggukan kepalanya saja.
Jaenal dan Lisa berada di dalam kamar Toto. Lisa mau menyerahkan kegadisannya kepada Jaenal demi satu suntikan Putaw. Efek Narkoba sudah menjerat Lisa. Lisa tidak kuasa menolak orang lain untuk berbuat apa saja terhadap tubuhnya.
 Bulan depan Lisa sudah tidak sekolah lagi. Ayahnya kawin lagi dengan perempuan lain di kota Jakarta. Ibunya bangkrut akibat arisan yang dibuatnya dan temannya menipu Ibunya dengan membawa kabur uang ratusan juta rupiah. Suatu keluarga yang broken home.
Lisa akhirnya dirawat di salah satu Rumah Sakit Ketergantungan Obat di Jakarta. Biayanya yang mahal itu ditanggung Pamannya yang tinggal di Jakarta. Masa depan Lisa yang cantik sudah hancur akibat jeratan narkoba. Lisa menyesal, suatu penyesalan yang terlambat.
Aku bersyukur kalau aku selalu menolak ajakan Lisa untuk pergi ke pesta teman-temannya. Setelah kejadian itu aku lebih menekuni kegiatan kerohanianku.





Karet KB


“Sudah siap berangkat Sri? aku bertanya kepada Bidan Sri Mulyati.
“Sudah, Dok” Bidan Sri menjawab pertanyaanku.
“Ajaklah Seksi PKM ( Penyuluhan Kesehatan Masyarakat ) ikut, aku tunggu di mobil Pusling ( Puskesmas Kililing )”
Hari itu akhir tahun 1982, kami dari Puskesmas akan mengadakan Penyuluhan Kesehatan dalam rangka penyuluhan KB ( Keluarga Berencana ) di sebuah Desa yang termasuk di dalam wilayah kerja Puskesmas kami.
Pemerintah sedang berusaha agar seluruh penduduk mengikuti program KB. Laju pertambahan penduduk yang tinggi menyebabkan jumlah penduduk secara nasional melonjak drastis. Kecepatan pertambahan penduduk belum dapat diimbangi dengan kecepatan pertambahan hasil pertanian.
Untuk urusan KB, Puskesmas kami diwajibkan agar target KB di Kecamatan kami berhasil. Bahkan seluruh PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) hanya diperbolehkan memunyai 2 orang anak saja. Bila mempunyai lebih dari 2 orang, maka anak ke 3 tidak akan mendapat tunjangan anak sebesar 5 % dari gaji bulanan. Selain itu akan sulit mendapat promosi jabatan yang lebih baik.
Setelah acara diawali dengan Kata Sambutan oleh Kepala Desa setempat mulailah Bidan Sri melakukan tugasnya melakukan Penyuluhan KB kepada warga Desa yang sebagian besar terdiri dari kaum Ibu karena kaum Bapaknya sedang bekerja di sawah maupun di kota terdekat sebagi buruh harian.
Macam-macam alat KB yang dijelaskan pemakaiannya. Agar warga desa lebih jelas dan mengetahui alat-alat KB maka Bidan Sri melakukan peragaan alat-alat yang telah disediakan oleh BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ). Alat peraga itu berupa sebuah plakat yang di permukaannya di rekatkan: Spiral ( IUD ), Strip Pil KB, Botol Obat Suntik KB, dan Karet KB ( Kondom ).
Setelah berbicara panjang lebar tentang cara penggunaan semua cara KB, Bidan Sri mulai berbicara tentang cara pemakaian Karet KB.
“Bapak dan Ibu sekalian, yang terakhir akan saya peragakan bagaimana caranya menggunakan Karet KB. Meskipun cara Karet KB ini tidak seefektip cara KB lain, tetapi lebih baik menggunakan salah satu cara KB dari pada tidak memakai sama sekali” kata Bidan Sri.
“Bagaimana sih cara menggunakannya?” seorang bapak yang duduk dibelakang bertanya.
“Rupanya Bapak sudah tidak sabar. Sebentar ya pak, saya akan membuka dulu bungkusnya, agar semua yang hadir dapat melihat dengan jelas bagaimana bentuknya Karet KB ini” Bidan Sri dengan tangkas menjawab.
Bidan Sri melanjutkan ceramahnya “Karet KB ini harus dipasang oleh Bapak, sebelum Bapak dan ibu hendak melakukan hubungan suami-isteri.”
“Caranya begini, pasangkanlah karet KB seperti ini ( sambil memasukkan Karet KB ke dalam jari telunjuk tangan kirinya ). Setelah terpasang maka Bapak dan Ibu boleh melakukan hubungan. Setelah selesai maka Karet ini dapat dibuang di tempat yang aman. Karet KB bersifat sekali pakai saja.”
“Berapa Karet KB yang dapat kami terima, Bu?” bapak tadi bertanya lagi.
“Setiap pasangan akan kami beri jatah 3 buah karet KB. Bila membutuhkan lagi silahkan Bapak atau Ibu peserta KB dapat menghubungi kami di Puskesmas” Bidan Sri menjawab.
----
3 bulan kemudian datanglah sebuah pasangan suami-isteri peserta KB ke Puskesmas. Bapak Amin marah-marah kepada Bidan Sri.
“Bagaimana ini Ibu Bidan, kami telah ikut KB, tetapi kok perut isteri saya membesar lagi?”
Bidan Sri bertanya “”Bapak atau Ibu ikut cara KB apa?”
“Saya pakai Karet KB dan sudah mengikuti penjelasan ketika Ibu Bidan menerangkan kepada kami di desa kami” kata Pak Amin ini.
“Apakah Bapak yakin bahwa isteri Bapak hamil lagi?”
“Yakinlah. Isteriku sudah 3 bulan tidak datang bulan. Bagaimana ini Bu, ikut KB kok gagal” Pak Amin makin marah.
“Baik. Apa bapak sudah benar menggunakan Karet KB? Coba bagimana cara memakainya” Bidan Sri menguji Pak Amin.
“Saya sudah mengikuti cara yng dijelaskan Ibu Bidan yaitu memasangkan Karet KB di jari telunjuk tangan kiri saya, lalu kami melakukan hubungan” Pak Amin menjawab dengan bersemangat.
“Itu salah Pak” kata Bidan Sri
“Kok salah sih”.
“Bapak harus memasangnya di alat Bapak, bukan di jari telunjuk” Bidan Sri melanjutkan.
“Tapi Ibu Bidan memperagakan memasang Karet KB di jari telunjuk” Kata Pak Amin.
“Itu karena sopan santun Pak dan lagi pula alat siapa yang mau dipakai sebagai alat peraga di depan umum?” kata Bidan Sri dengan sewotnya.
“Lain kali Bapak memasangnya di alat Bapak yang sudah tegang, bukan di jari telunjuk tangan” kata Bidan Sri.


Selasa, 28 Juli 2009

Dokter pikun

Bila kita menghadiri Pesta Ulang Tahun, maka akan terdengar nyanyian yang bertema “Selamat Ulang Tahun dan Semoga Panjang Umur.” Benarkah kita ingin panjang umur? Bagaimana kalau diberi panjang umur tetapi badan kita sakit-sakitan? Sebaiknya tema itu diubah menjadi “Semoga Awet Muda.” Siapa sih yang tidak ingin tetap muda?
Banyak Dokter yang telah mengadakan penelitian agar manusia tidak menjadi tua. Misalnya dengan membuat HCG, Human Growth Hormone yang konon dapat menghambat proses ketuaan. Sampai sekarang masih terjadi pro dan kontra atas hasil penemuan hormon ini.
Bulan yang lalu aku mengunjungi rumah sahabatku si Asikin. Sahabatku ini sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang putra dan putri. Ayah Asikin meninggal tiga tahun yang lalu akibat usia lanjut. Ibundanya yang sudah manula tinggal bersama keluarga Asikin. Ibunda Asikin bernama Juarti dan berumur sekitar 67 tahun.
“Selamat pagi Bu” aku menyapa Ibu Juarti.
Beliau acuh tak acuh ketika aku berkata seperti itu.
“Agus, pendengaran Ibuku sudah berkurang. Kalau ingin berbicara dengannya, kita harus berbicara di samping telinganya.” Kata Asikin.
Meskipun penglihatan Ibu Juarti masih cukup bagus, tetapi pendengarannya sudah banyak berkurang.
Aku mendekati Ibu Juarti dan bicara di samping telinga kanannya “Selamat pagi, Bu.”
Ibu Juarti menoleh ke arah aku berdiri dan tampak ia tersenyum.
“Apakah Ibu sudah sarapan?” aku melanjutkan bertanya.
“Belum, aku belum sarapan” sahutnya. Tampak giginya tinggal dua.
Semula aku heran, katanya belum sarapan tetapi di sampingnya tampak sebuah piring yang masih tersisa sedikit Bubur dan Ibu Juarti masih memegang sebuah sendok.
Asikin berkata “Ibuku baru saja sarapan, tetapi Ibu sudah melupakannya.”
Aku pernah membaca sebuah artikel di sebuah harian nasional tentang penyakit Pikun atau Dementia senilis suatu keadaan kemunduran ingatan akibat proses umur lanjut. Rupanya benar kalau sudah manula, maka ingatan jangka pendeknya menjadi buruk, tetapi ingatan jangka panjangnya masih bagus. Kejadian masa kecil, ketika mereka duduk di SD atau ketika ia belajar naik sepeda masih diingatnya dengan baik. Mereka dapat bercerita panjang lebar tentang masa kecil mereka dengan lancar. Sedangkan kejadian yang masih baru atau baru saja dilakukannya sudah tidak ingat lagi. Suatu saat aku juga akan mengalami kedaan Dementia senilis, bila aku diberi umur panjang oleh Yang Maha Kuasa.

---
Sejak 2 hari yang lalu aku sedikit demam dan sakit menelan. Aku sudah mengurangi merokok, tetapi keluhanku masih belum membaik. Aku tak mau penyakitku ini berlarut-larut dan sore hari aku mengunjungi Dokter Umum langganan keluarga kami, Dokter Wisnubrata.
Aku menjadi pasien pertamanya.
“Siapa nama anda dan dimana alamatnya?” Dokter Wisnu bertanya untuk dicatat di dalam lembar Kartu Pasienku.
“Nama saya Agus Abidin, tinggal di Jalan Ampere nomer tujuh, Dok” aku menjawab pertanyaannya.
“Apa keluhan saudara dan sudah berapa lama?”
“Saya merasa demam dan kalau menelan terasa sakit sejak dua hari, Dok. Saya belum minum obat apapun” aku menjawab lagi.
“Baik, silahkan berbaring” kata Dokter Wisnu sambil menunjuk ke arah bed pemeriksaan pasien.
 
Setelah memeriksa Tekanan darahku, meraba dahiku menyinari tenggorokanku dengan lampu senter, mendengarkan bunji jantung dan paru-paruku, Dokter Wisnu berkata “Sudah. Silahkan duduk kembali.”
Ketika Dokter Wisnu menulis hasil pemeriksaan kesehatanku, aku bertanya “Berapa biaya pemeriksaannya, Dok”
“Biaya periksa dua puluh ribu rupiah” jawabnya.
Aku memberikan uang selembar lima puluh ribuan baru kepadanya.
Dokter Wisnu menerimanya dan dari laci mejanya, ia mengambil dan menyerahkannya kepadaku uang tiga lembar puluhan ribu.
Setelah selesai menulis selembar resep, Dokter Wisnu menyerahkannya kepadaku sambil berkata “Ambillah obat ini di Apotik terdekat.”
“Terima kasih, Dok”
Aku berdiri dan ketika aku hendak menuju ke pintu keluar, Dokter Wisnu berkata “Anda belum membayar biaya pemeriksaannya.”
Aku tersentak kaget. Rasanya aku sudah memberikan biaya pemeriksaan dan Dokter sudah memberikan uang kembaliannya kepadaku. Mengapa Dokter masih menagihnya.
Dengan tenang karena tidak merasa bersalah aku berkata “Dok, tadi saya sudah memberikan uang lembaran lima puluh ribuan yang berwarna biru dan Dokter sudah mengembalikan uang tiga lembar sepuluh ribuan. Ini uang kembaliannya” aku menjawab sambil memperlihatkan uang kembaliannya.
Dokter Wisnu membuka laci mejanya untuk memeriksa benarkah tadi ia sudah memasukkan uang lima puluh ribuan berwarna biru? Beruntung aku menjadi pasien pertamanya, sehingga laci Dokter belum banyak terisi uang.
Akhirnya ia menyadari bahwa memang aku sudah membayar biaya pemeriksaan.
Dokter Wisnu berkata kepadaku sambil tersenyum “Sorry Gus, aku lupa.”
 
Dokter bisa lupa akan kejadian yang baru saja terjadi tetapi masih ingat akan gejala penyakit-penyakit, nama obat-obat, cara pemeriksaan yang dulu pernah dipelajari ketika ia masih muda saat mengikuti pendidikan di Fakultas Kedokteran. Rupanya siapapun akan mengalami dementia senilis, bila diberi panjang umur.
 




Bosan hidup

Aku merasa beruntung mempunyai seorang teman, Karta. Begitu teman-temanku memanggilnya, kepanjangan dari Kartanegara. Aku menggangap Karta sebagai teman dekat, kami berteman dan menuntut ilmu di sekolah yang sama sejak kami duduk di salah satu SMP dan SMU di kota kami. Aku menyenangi kepribadian Karta yang low profile. Prestasi di SMP dan SMU jauh melebihi prestasi belajarku yang rata-rata saja.
Meskipun nilai Rapor semua mata pelajaran diatas rata-rata, Karta tidak sombong dan mau membantu kami teman-temannya yang memerlukan bantuan ilmu pengetahuan. Karta mempunyai filosofi Ilmu Padi, makin berisi makin menunduk. Filosofi ini bertentangan dengan si Badu. Badu seperti tong kosong berbunyi nyaring. Bicara banyak tetapi hasilnya tidak ada. Orang Amrik bilang sebagai NATO, No Action, Talk Only.
Dua puluh lima tahun kami tidak berjumpa dengan Karta setelah kami lulus SMU. Aku melanjutkan di Perguruan Tinggi yang ada di kota kami, belajar Ilmu Sosial Politik. Karta melanjutkan study di kota Bandung, sekolah Dokter. Selesai pendidikan Dokternya, Karta kembali ke kota kami untuk bertugas sebagai Dokter Umum di salah saru Rumah Sakit. Nasib baik selalu menyertai orang yang baik. Isteri Karta seorang Ibu Rumah Tangga yang enak diajak bicara, ramah dengan lingkungannya. Mereka dikarunia seorang putra dan seorang putri yang saat ini mereka sedang sekolah Dokter juga di Amrik. Tahun depan putra sulungnya akan menyelesaikan sekolah dokternya pula.
Meskipun sebagai seorang Dokter Umum, Dokter Karta tidak rendah diri, ramah kepada para pasiennya dan bertangan dingin. Hampir semua pasien yang berobat kepadanya sembuh. Tidak heran bila Dokter Karta mempunyai banyak pasien. Banyak pasien dan keluarganya datang mencari Dokter Karta untuk berobat. Ada beberapa keluarga yang menjadi pasiennya mulai dari orang tuanya, anak-anaknya dan cucunya, kalau sakit selalu berobat kepada Dokter Karta. Aku kagum kepada temanku ini.
Saat ini kami sudah pensiun dari Pegawai Negeri Sipil dari masing –masing Departemen. Kami sering berjumpa di saat kami belanja di Departemen Store atau di Toko Buku yang ada di kota kami.
“Hai Nus, apa kabar?” seseorang menyapaku di sebuah Toko Buku. Aku menengok kepadanya, ternyata ia adalah temanku Dokter Karta. Rupanya ia sedang melihat-lihat buku-buku pula di Toko itu.
“Met siang, Dok.” aku membalas sapaannya.
“Ah tak usah panggil aku Dokter di tempat ini. Panggil namaku saja, Karta.” Begitu jawabnya. Suatu jawaban yang low profile. Sifat merendahnya tidak berubah sejak aku berteman dengannya.
“Sedang mencari buku apa Nus?” Karta bertanya.
“Aku dititipi untuk membeli buku barunya J.K. Rowling, Harry Potter oleh anakku yang bungsu” aku menjawab.
“Yunus, bisakah kita ngobrol sejenak?” Karta bertanya. Suatu pertanyaan yang biasa bila teman lama bertemu. Ngobrol.
“Bisa. Dimana?” aku mengiyakan.
“Kita ngobrol di lantai 3 yuk. Kita ngobrol sambil minum.” kata Karta kemudian.
“Kau yang traktir aku ya. Aku lagi tongpes ini.”
Dokter Karta berkata “Beres.”
Setelah menyedot jus Alpukatnya, Karta berkata kepadaku yang menyedot jus Meljer ( melon-jeruk ), “Nus, aku mau cerita tentang pasienku.”
“Baiklah, aku akan menjadi pendengar yang baik. Bagaimana ceritanya?’ aku ingin sekali mendengarkan cerita Pak Dokter Karta ini. Apa sih masalahnya sehingga ia sengaja mencari teman untuk ngobrol soal pasiennya?
“Begini Nus” Karta mulai menceritakan kisahnya kepadaku. Udara yang sejuk oleh AC sentral, perut terisi juice, ngobrol dengan teman lama ah…. nikmatnya.
----
Dokter Karta berkisah. Aku mempunyai seorang kenalan, namanya Pak Alimin. yang akhirnya menjadi pasienku. Aku mengenal seluruh anggota keluarganya. Umurnya 3 tahun diatas aku. Ia penderita Darah Tinggi.
Pak Alimin dan isteri memunyai 6 orang anak. Dua laki-laki dan empat perempuan. Yang bungsu masih sekolah di SD. Anak yang sulung, Yono sudah menikah dan menempati rumah Mertuanya. Kerjanya serabutan dan tidak betah kerja lama di suatu tempat atau toko. Akhir-akhir ini Yono sering datang kerumah Pak Alimin untuk minta uang. Pak Alimin tidak memberi uang karena ia sudah berumah tangga dan sudah dapat mencari nafkah sendiri. Seharusnya Yono sebagai anak yang sudah bekerja, yang memberi uang kepada orang tuanya. Ibunya secara diam-diam memberi Yono uang ala kadarnya. Yono tidak puas diberi sedikit uang oleh Ibunya. Yono marah-marah dan teriakannya terdengar oleh Pak Alimin. Terjadilah perang mulut di dalam keluarga pasienku itu. Seringnya perang mulut ini mengakibatkan penyakit Darah Tinggi Pak Alimin sulit disembuhkan. Stres masalah keluarga yang menjadi faktor pencetus kumatnya penyakit Darah Tinggi.

Suatu saat pukul 20.00 aku mendapat panggilan per telepon dari Ibu Alimin. Katanya suaminya tidak bangun-bangun dari tidurnya sejak 2 jam yang lalu. Aku datang dan memeriksa Tekanan Darah Pak Alimin, 180/100. Tinggi. Tidak biasanya. Biasanya sekitar 160/90 mm Hg. Reflex anak mata negatif, anak mata melebar. Tak ada reaksi apapun ketika kulit kakinya dicubit. Pak Alimin mengalami Koma. Aku memberi advis untuk segera membawa Pak Alimin ke Rumah sakit terdekat. Isterinya menolak dengan alasan tidak punya uang. Seluruh anggota keluarganya, memanjatkan doa-doa agar Pak Alimin ini segera sadar dari Komanya. Aku bingung juga. Aku berdiskusi dengan isteri Pak Alimin di ruang tengah.
Kemudian terdengar suara anak perempuannya berteriak memanggil Ibunya.
“Bu, ibu…. bapak sudah bangun!”
Aku dan Ibu Alimin segera masuk kamar tidur Pak Alimin.
Aku menyalami Pak Alimin dan ia bertanya “Kok ada Pak Dokter disini. Ada apa Dok?” tampaknya Pak Alimin bingung melihat kehadiranku di kamar tidurnya.
“Aku kebetulan lewat rumah Bapak, lalu aku mampir.” Aku menjawab sekenanya.
Aku bertanya “Pak Alimin, tadi Bapak pergi dari mana? Kok lama perginya.”
Setelah melihat langit-langit kamar tidurnya Pak Alimin menjawab “Saya sudah pergi jauh, masuk suatu terowongan yang berputar-putar, badan saya seperti ada yang menyedot ke depan. Saya melihat di ujung terowongan itu suatu sinar putih yang menyilaukan mata. Entah mengapa badanku tersedot lagi ke belakang dan akhirnya ke luar dari terowongan itu.”
“O… begitu, baiklah Pak Alimin, silahkan minum air teh hangat ini “ kataku yang sebelumnya aku minta disediakan air teh hangat manis kepada salah satu putrinya.
Pak Alimin segra minum air itu dengan lahapnya seperti orang ynag sedang kehausan.
Kejadiaan itu terulang 1 kali lagi selang beberapa bulan kemudian. Ia koma 1 jam dan sadar dengan sendirinya. Sepertinya ia mempunyai nyawa cadangan.
Suatu saat Pak Alimin ketika bertemu denganku berkata demikian “Dokter, nanti kalau menjumpai saya dalam keadaan tidak sadar lagi, saya minta saya disuntik mati saja” Pak Alimin memohon kepadaku.
“Tak mau aku menyuntik mati pasienku.” Aku segera mejawab permohonannya yang konyol itu.
“Wah kalau begitu, Dokter bukan sahabatku lagi” kata Pak Alimin yang seperti sudah kehilangan akal.
“Pak Alimin, mengapa mengajukan keinginan seperti itu”
“Dok, saya mempunyai Darah Tinggi, kalau nanti saya sadar dari pingsan suatu saat, saya mungkin akan mejadi lumpuh. Saya akan mati sebelah badan dan saya tidak bisa bekerja lagi. Untuk makan kami harus menjual rumah karena kami sudah tidak punya apa-apa lagi selain rumah yang kami tinggali. Nanti keluarga saya akan tinggal di kolong jembatan. Saya tidak mau itu terjadi” kata Pak Alimin dengan sedihnya.
Ya Tuhan, kok pikiran Pak Alimin seperti itu jauhnya. Aku sukar memahami jalan pikirannya.
Aku menjawab ”Aku tak mau menyuntik mati pasienku sendiri. Itu melanggar hukum. Aku sekolah dokter untuk menyembuhkan orang, bukan untuk membunuh orang.”
Pak Alimin termenung, kecewa dengan penolakanku tadi.
Bagaimana ya, aku dapat menyadarkan pikirannya yang sedang kacau itu. Akhirnya aku mempunyai ide jawaban yang mungkin sekali dapat menyadarkan Pak Alimin yang sedang putus asa ini.
“Pak Alimin, seandainya aku telah membuat Bapak meninggal dunia. Kemana perginya roh Bapak?” aku bertanya kepadanya.
“Roh saya akan berada di ahirat.”
“Iya benar, lalu Malaikat Penjaga akan bertanya kepada Bapak “Siapa namamu?”
Bapak akan menjawab “Nama saya Alimin.”
“Alimin bin siapa?”
“Alimin Bin Samsudin.”
Malaikat akan membuka Buku Kehidupan dan mencari nama itu pada tanggal itu.
Lalu Malaikat berkata “Akimin Bin Samsudin belum waktunya mengadap kesini. Pulanglah kembali.”
Aku melanjutkan “Roh Pak Alimin akan turun kembali ke dunia. Di dunia Bapak akan mencari rumah ( badan ) nya sendiri, tetapi rumahnya sudah tidak ada lagi karena jenasahnya sudah dikuburkan. Lalu Roh Bapak akan mencari-cari rumah dan jadilah Roh gentayangan. Apa Pak Alimin mau seperti itu?”
Pak Alimin diam seribu bahasa mendengar ucapanku.
Pak Alimin sekarang sudah meninggal akibat Koma yang ketiga kalinya. Meskipun dibawa ke Rumah Sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Sekarang Pak Alimin sudah terbebas dari segala penderitaannya di dunia yang fana ini.
Demikianlah kisah Pak Alimin, Nus. Itulah yang telah kuceritakan kepadamu.
Karta melanjutkan dengan sebuah pertanyaan kepadaku “Nus, bagaimana komentarmu tentang kisah itu?”
Aku menjawab “Argumentasi kamu itu dari mana dapatnya sehingga Pak Alimin mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya?”
Karta menjawab “Aku pernah melihat sebuah film yang menceritakan tentang kematian, persis yang kuceritakan kepada Pak Alimin tadi. Rupanya argumentasiku untuk menolak mengakhiri hidupnya itu masuk di akal Pak Alimin.”
“Nus….. aku bersyukur bahwa aku tidak melakukan permintaan Pak Alimin tadi” kata Dokter Karta sambil menyedot sisa jus Alpukatnya.-





Uang dan teman.


 Saat itu aku duduk di kelas III SMU. Mesin sepeda motorku mesti diperbaiki, tenaganya sudah berkurang. Maklum sepeda motor tua. Aku menabung hari demi hari dengan menyisihkan uang saku. Sudah terkumpul sebanyak Rp. 30.000,- cukup untuk biaya perbaikan sepeda motorku atau setara dengan harga beras setengah kwintal saat itu.

 Sore ini teman sekampugku datang kerumahku. Setelah berbasa-basi ujung-ujungnya temanku ini bermaksud ingin meminjam uang kepadaku. Alasannya uang itu untuk biaya berobat ibunya yang sedang sakit.

“Aku tak punya uang sebanyak itu”, kataku kepadanya.
“Tolonglah Bud, lusa ayahku gajian, uangmu akan kukembalikan, jawab Jaedi.
“Aku akan memperbaiki mesin sepeda motorku di bengkel.” aku ngotot tak mau meminjamkan uangku kepadanya.
“Uang itu kami butuhkan untuk biaya berobat Ibuku, sakit Ashmanya kambuh lagi, semalaman ia tak bisa tidur,” Jaedi merengek.

Aku tak tega kalau Ibu temanku itu meninggal dunia seperti salah satu keluargku yang meninggal bulan lalu akibat penyakit Ashma berkomplikasi Radang paru-paru. Saat itu aku juga perlu uang untuk sepeda motorku, aku tak mau kalau aku naik sepeda lagi ke sekolah.

“Budi, pinjami aku uang. Lusa ayahku gajian, akan kukembalikan uangmu.” Sekali lagi Jaedi merengek.
Lusa kan 2 hari lagi, tidak lama. Biarlah aku pinjamkan uangku kepadanya. Aku mengalah.

“Berapa sih uang yang kauperlukan?” aku bertanya kepadanya.
“Hanya tiga puluh ribu rupiah saja”, kata Jaedi.
“Kau ambillah TV 14 inchi kami, kalau kau tak percaya.” Jaedi melanjutkan rayuannya.

Aku takut itu barang curian dan nanti aku dituduh sebagai penadah barang curian. Aku menolak mengambil TV nya.

“Baiklah aku pinjamkan uang sebanyak itu tetapi segeralah kau kembalikan lusa. Kalau tidak, awas kau,” aku mengancamnya.
“Baik Bud, engkau temanku yang baik sekali.” 
Aku benci mendengar rayuan gombalnya.

2 hari kemudian aku naik sepeda untuk sampai di sekolah.
Hari yang dijanjikan tiba. Aku menunggu di rumah kedatangan Jaedi yang akan mengembalikan pinjamannya kepadaku. Sampai malam hari, aku tidak melihat batang hidungnya.

“Puih..., sialan benar itu orang. Penipu. Penipu,” aku marah besar.
Sudah ditolong lupa mengembalikannya.
Aku tunggu lusa-lusa berikutnya, tetapi Jaedi tidak kunjung datang kerumahku. Dengan nekat aku datangi rumahnya di kampungku. Ternyata Ibunya sehat-sehat saja, tidak pernah menderita sakit Ashma. Ibunya mengatakan bahwa Jaedi pergi ke Jakarta tepat sehari setelah ia menerima uang dariku. Penipu kau Jaedi.

 Aku pulang dengan kecewa dan marah. Kok bisa-bisanya Jaedi temanku menipuku dengan alasan yang dibuat-buat, Ibunya sakit. Wah kualat tuh orang…..kualat kau.
Aku pernah membaca sebuah nasihat di sebuah majalah yang berbunyi: “Kalau engkau meminjamkan uang kepada temanmu, maka engkau akan kehilangan kedua-duanya.”

 Benar sekali. Aku kehilangan uangku dan temanku, aku kehilangan kedua-duanya. Sampai saat ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jaedi, temanku itu. Jangan pernah meminjamkan uang kepada teman. Kalau ada uang, berilah dengan ikhlas sebanyak yang kita mampu. Tak usah dikembalikan. Tak usah pura-pura meminjam, yang akibatnya kita akan selalu menunggu-nunggu pengembalian uang kita. Lebih baik beri dan lupakanlah. Tidak ada Stres berkepanjangan dan tidak ada kemarahan. Hal-hal seperti itulah yang bisa menjadi faktor pencetus penyakit Darah Tinggi.-








Telepon Genggam



Di banyak tempat aku melihat banyak orang telah menggunakan telepon genggam. Sambil melintas jalan raya pun mereka berhalo-halo dengan lawan bicaranya. Berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu dimana harga telepon genggam masih mahal bagi kebanyakan orang di negara kita.
Saat ini sudah beredar bermacam-macam merk dan tipe telepon genggam. Setiap enam bulan sekali muncul tipe yang lebih baru. Dengan demikian harga bekas tipe yang lama makin turun.
Ketika aku berkumpul di kantin kantor tempat aku bekerja, aku sering mendapat guyonan teman-temanku.
“Hasan, teleponmu sudah ketinggalan jaman tuh. Gantilah telepon tukang ojek itu dengan yang baru seperti aku punya.”
Enak saja mereka mengatakan hal itu. Entah dari mana mereka mendapatkan telepon tipe baru mereka, padahal gajia bulanan mereka tak jauh berbeda dengan gajiku. Aku enggan mengganti telepon Nokia 8310 yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Telepon itu masih bagus kwalitas suaranya, mudah di gunakan dan dapat menangkap siaran radio FM terdekat.
Temanku Abidin, seorang pensiunan dari suatu Departemen, juga menggunakan telepon genggam yang sama dengan milikku. Ia juga membanggakan teleponnya.
Pernah suatu hari berkata kepadaku “San, teleponku ini sudah jatuh beberapa kali tetapi tidak rusak. Telepon itu bandel dan aku menyukainya.”
Aku menjawab “Betul Din, teleponku juga bandel. Aku memiliknya sejak 4 tahun yang lalu, ketika harganya masih diatas dua juta rupiah. Sekarang yang bekasnya hanya dihargai sekitar lima ratus ribuan saja. Kalau mau dijual atau tukar tambah, kita mesti menambah uang cukup banyak untuk membeli tipe yang lebih baru.”
Suatu hari Abidin berkata kepadaku “San, menantu perempuanku kemarin dari Jakarta datang dan membelikan telepon genggam Nokia terbaru.”
Aku berkata “Wah, bagus lah, tentu Nokia terbaru mempunyai lebih banyak fasilitas.”
“Iya sih, tetapi aku kan tidak bisa kirim dan terima SMS sejak dulu. Aku hanya menggunakan telepon genggam hanya untuk bicara saja.”
“Gampanglah Din, belajar sebentar akan bisa kirim SMS. Kau mintalah kepada mantumu untuk diajari kirim SMS.”
 
Minggu depan kami bertemu lagi di suatu toko buku di kotaku.
“Hai San. Apa kabar?” seseorang menyapaku. Ternyata Abidin temanku.
“Baik Din. Bagaimana kabar telepon Nokian terbarumu. Apa sudah bisa kirim SMS?” aku menjawab sapaannya.
“Aku diajari mantuku kirim dan terima SMS. Kami saling kirim SMS dengan telepon genggamnya.”
“Wah baguslah kalau sudah bisa kirim SMS. Nanti kita bisa berkomunikasi melalui SMS yang biayanya lebih mudah dari pada kalau bicara langsung melalui telepon genggam” kataku.
Abidin diam dan menunduk.
Kemudian ia berkata “Itulah San, sekarang aku tidak bisa kirim SMS lagi.”
“Emangnya kenapa dengan teleponmu itu. Apakah rusak?”
“Bukan, San.”
“Lalu apa masalahnya?” aku bertanya dengan penasaran. Nokia model baru, lalu sudah diajari SMS, kok sekarang ia tidak bisa kirim SMS.Apa yang tidak beres?
“Begitu menantuku pulang ke Jakarta, aku lupa tombol mana yang harus aku pencet. Itulah masalahnya San.” Kata Abidin dengan wajah sedih.
“Iya sudah kalau begitu tukarlah Nokia barumu dengan Nokia aku punya, nanti aku ajari kau kirm SMS. Mau enggak?” aku menggoda Abidin.
“Aku tidak mau San.” Kata Abidin.
“Mengapa tidak mau.”
“Nokia baruku itu kan hadiah kenang-kenangan dari mantuku. Aku tak mau tukar dengan model lama lagi. San, tolong ajari aku kirim SMS ya. Nanti aku traktir kau makan di Rumah Makan Padang. Kau makanlah sepuas-puasnya. Engkau mau kan, San?” Abidin merayu aku.
Tawaran itu aku sanggupi. Apa susahnya mengajari Abidin, untuk kirim dan terima SMS? Siang itu sudah waktunya makan siang dan saat itu sedang tanggung bulan. Ada rejeki nomplok nih. Gayung bersambutlah. Terjadilah transaksi ajar- mengajari SMS. Aku puas dan Abidin puas, bisa kirim dan terima SMS. Win win solution-pun terjadilah.
Ketika aku pindah ke kota lain beberapa beluan kemudian, bila aku teringat temanku Abidin, aku tertawa dalam hati. Kok ada ya orang yang susah belajar SMS dengan telepon genggam yang sejak berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dipegangnya. Aku masih setia dengan Nokia 8310. Aku tidak membutuhkan banyak fasilitas yang belum tentu aku pergunakan. Aku ingin agar telepon genggam kembali kepada fungsinya yaitu menerima dan mengirim pesan suara dimana saja, kapan saja, siapa saja seperti slogan Coca-cola. Aku masih setia dengan “telepon tukang ojek”ku ini.




Senin, 27 Juli 2009

Si Dora

Sejak anjing Labardor kami si Bona meninggal akibat usia lanjut, keluarga kami memelihara seekor anjing betina jenis Rottweiler, namanya si Dora. Umur si Dora sudah 3 tahun, umur yang sulit untuk dilatih kebiasaan sehari-hari. Kami mendapatkan si Dora dari adik ipar kami di Jakarta. Ia memelihara 6 ekor anjing ras yang berasal dari Jerman ini. 

Karena usianya yang sudah 3 tahun kami mendapat kesulitan untuk melatih bila si Dora ingin buang air besar atau kecil. Sering kali kami membiarkan ia berangin-angin di halaman depan rumah, sambil menjaga kalau-kalau ada tamu yang datang ke rumah kami, ia tentu akan menyalak ketika ia melihat ada orang asing yang masuk ke halaman rumah. Kami tidak pernah merantai anjing peliharaan kami kecuali kalau sedang dimandikan, sehingga anjing-anjing peliharaan kami tidak galak kalau melihat tamu datang.

Sudah lima bulan si Dora berada di rumah kami. Dora agak bandel kalau di panggil untuk pergi ke halaman belakang rumah, ketika ada tamu di rumah kami. Rupanya ia lebih senang dekat dengan kami. Sekali waktu saya kedatangan tamu, dan mereka takut ada anjing hitam yang berbadan besar ini. Aku panggil Dora agar mau pergi ke halaman belakang rumah kami, tetapi ia lebih senang berbaring di lantai ruang keluarga kami. Aku mencoba mengangkatnya agar ia mau pindah ke halaman belakang, tetapi ia bahkan menolak berdiri atau bangun dari tempatnya. Ah… berat sekali badannya, mungkin beratnya sekitar 45 kg. Akhirnya aku pancing ia dengan sepotong telur rebus. Pancinganku berhasil, ia segera mendekati tanganku dan mau dibimbing pindah ke halaman belakang rumah. Aku geli, rupanya anjing juga masih bisa diakalin dengan makanan yang ia sukai.

Karena usianya yang sudah cukup untuk dikawinkan kami membawanya ke rumah salah seorang yang mempunyai anjing Rottweiler. Ia bernama Charles, suatu nama yang keren juga. Mirip nama seorang pangeran Inggris. Sering kali aku mendengar nama seekor anjing diberi nama yang mirip dengan nama seorang manusia. Dora kami tingalkan di rumah pemilik Charles selama 3 hari agar mereka mau berkenalan dan mau kawin selama alami. 3 hari kemudian aku dan isteriku mengunjungi rumah relasi kami. Tuan dan Nyonya rumah sedang keluar rumah sehingga kami hanya dapat bertemu dengan 2 orang pembantu mereka. Kami bertanya kepada mereka apakah si Dora dan si Charles mau kawin dalam waktu 3 hari ini. Mereka menjawab, rasanya mereka hanya bermain-main saja dan mereka tidak pernah mereka melihat anjing-anjing itu kawin. Akhirnya kami membawa pulang kembali si Dora ke rumah kami tanpa ada hasil perkawinan dengan si Charles. Kemungkinan besar si Dora belum saat subur yang ditandai dengan keluarnya darah dari alat kelaminnya.

Anjing jenis Rottweiler jarang menyalak, tetapi bila ia menyalak pasti ada sesuatu yang tidak beres. Sesekali si Dora juga menyalak ketika mendengar suara tukang Baso melewati rumah kami dengan membunyikan pikulannya. Bila ada tamu dan kami membukakan pintu, Dora juga acuh saja. Mungkin ia menganggap tuan rumah sudah mengetahui kedatangan seseorang masuk ke dalam rumah. Dora berbaring di lantai dan hal ini menyebabkan tamu kami tidak berani masuk ke dalam ruang tamu, karena katanya ia takut ada anjing yang besar. Kami mengatakan jangan takut. Selama anda tidak bermaksud jelek, anjing kami tidak akan menyerang anda. Padahal si Dora itu acuh tak acuh bila ada tamu datang. Sifatnya ini agak tidak biasanya seperti anjing-anjing lain yang kami pelihara. Kalau kami memeliharanya sejak ia berumur 3 bulan, mungkin kami dapat melatihnya dengan baik. Kalau sudah 3 tahun sulit melatihnya, karena ia juga mempunyai sifat bandel, tidak menuruti kehendak tuan rumah, kecuali dipancing dengan sedikit makanan.

Suatu pagi setelah isteriku meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya, aku melepaskan si Dora di halaman depan rumah. Pintu pagar diselot bagian atasnya saja sehingga tamu masih dapat membuka pintu itu dari arah luar rumah. Tiba-tiba aku mendengar suara bel pintu berdering yang berarti ada seseorang yang berdiri di depan rumah kami. Aku segera menghampiri pintu rumah yang mempunyai pintu lain yaitu pintu besi yang dianyam jarang-jarang untuk ventilasi udara. Aku melihat seroarng relasi berdiri di depan pintu tadi dan di sebelah kanannya duduk seekor anjing warna hitam dengan manisnya.

Aku bertanya kepada relasiku “ Apakah anda datang dengan membawa anjing ini?”
Relasiku, Pak Saelan berkata “ Tidak. Ini kan anjing anda sendiri.”
“Astaga.” Aku berseru, kok si Dora tidak menyalak ketika ada orang asing masuk ke halaman rumah? Apa ia disuap dengan makanan oleh tamuku ini? Ternyata tamuku ini semula ragu-ragu ketika melihat ada seekor anjing hitam besar, tetapi ketika pintu halaman terbuka dan anjing tadi tidak menyalak, ia berani memasuki halaman rumah kami.
Ia berkata “Anjing anda baik ya. Tidak menggigit saya.”
Dalam hati aku berkata “Wah anjing ini tidak bisa jaga rumah sama sekali. Ada orangpun ia diam saja, padahal ia tidak bisu. Ia bisa menyalak tetapi tetapi kali ini kok diam membisu.”

Aku mengatakan kejadian ini kepada isteriku setelah tamuku pulang. Isteriku malah terbahak-bahak ketika mendengar kisah si Dora ini. Anjing ini kok diam saja ketika ada orang asing masuk ke rumah. Seminggu kemudian si Dora kami antarkan kembali ke Jakarta. Disana ia dihamili oleh Rottweiler jantan yang ada di kennel adik iparku. Dora hamil dan mempunyai 5 ekor puppies yang sehat-sehat. Kami memelihara sepasang anjing ras Cow-cow, yang kami terima dari saudara kami yang lain. Mereka banyak menyalak bila ada tamu yang datang. Ini baru anjing namanya.