Sabtu, 06 Agustus 2011

Cerita pendek

Kalau membaca suatu Cerita pendek ( Cerpen ) yag terdiri dari banyak halaman akhirnya saya bertanya-tanya, apakah ini sebuah Cerpen atau Cerbung ( Cerita Bersambung )?

Makin lama, saya menulis Cerpen makin pendek, tetapi belum sependek yang terdiri dari 100 kata saja.

Di Website ada  web yang berisi ratusan Cerpen yang terdiri dari 100 kata saja. Mungkin anda tidak percaya. Cobalah simak web ini .

Salah satu Cerpen  itu adalah:

Blend

Would you like some coffee?
No?
Oh, you'd like some of this tea?
Well, I'm sorry, but I can't give you any.
You see, it's a special blend made just for me by this Chinese holistic herbal doctor I know.
I have no idea what's in it, but he said it's something for me and only me to drink.
What would happen if I gave you some?
I don't know, but I can give you his card.
What? You can't read it? It's blank?
But, I can... um... I think I'll pour out this tea and put some coffee on.


Iseng-iseng saya  hitung memakai fasilitas penghitung kata  yang ada di Microsoft Word 2003 yang sudah ter-install di Komputer saya ( Klik: Klik bersamaan tombol CTRL & tombol A / Klik Menu Tool / Klik Word count  ). Aha…….

Cerpen itu persis terdiri dari: 100 kata, tidak termasuk Judul Cerpen.

Nyeri pinggang



Pagi ini saat bangun tidur, pinggang saya terasa sakit.
Saya mengingat-ingat apa penyebab nyeri pingang ini? Ah..rupanya kemarin pagi saya  membersihkan rumput liar dan memangkas tanaman yang tumbuh terlalu rimbun di halaman depan rumah kami.

Dulu sewaktu usia  masih muda, tugas membersihkan halaman tidak menyebabkan nyeri pinggang. Setelah usia bertambah  tampaknya tubuh cepat lelah dan terasa pegel linu. Usia berangka depan enam sudah memiliki KTP seumur Hidup.

Setelah sarapan saya minum tablet penghilang rasa nyeri. Pinggang saya beri krim penghilang nyeri. Beruntung, nyeri itu tidak berkelanjutan. Saya dapat melakukan tugas rutin sepanjang siang itu.

Sore hari datanglah relasi saya, Pak AK. Ia gemar menyantap Tahu putih yang ia beli langsung dari pembuat Tahu di dekat rumah kami.

“Bas, saya baru beli Tahu, masih hangat nih.” Katanya.

Saya menjawab “Wah…jangan repot-repot. Kemana aja nih sudah lama tidak berkunjung ke rumah saya.”

“Biasalah, Bas, saya  sibuk kalau bulan Puasa. Banyak yang minta dibuatkan pakaian untuk Lebaran.” Maklum Pak AK ini seorang penjahit yang sudah banyak langganannya.

Setelah ngobrol ke Barat dan ke Timur, Pak AK mohon pamit.

Saya melihat tanaman Caisim di halaman depan rumah yang saya tanam 2 bulan yang lalu sudah berdaun lebar dan berwarna Hijau segar. Kalau Tahu itu di direbus dengan daun Caisim ini rasanya nikmat juga nih untuk makan malam.

Dalam waktu singkat jadilah  Tahu Caisim rebus. Malam itu  kami menyantap Tahu Caisim rebus yang rasanya segar menambah selera makan kami.

Kami menanam banyak tanaman di halaman depan rumah. Ada cabe merah, jahe, Pandan, Daun cincaw, Lidah Buaya, Jeruk Purut, Belimbing Wuluh dll. Kalau perlu bumbu dapur sering kali Isteri saya memetiknya dari tanaman yang tumbuh di halaman depan rumah.

Ada manfaatnya juga hobi gardening, bercocok tanam. Bila  sudah tidak ada tempat lagi, maka kami menanamnya ti  kantong plastik bekas bungkus belanjaan di pasar.

Pernah Isteri saya belanja Seledri dan  Kangkung. Akar tanaman itu di tanam di pot plastik. Beberapa hari kemudian, tumbuhlah tunas batang tanaman itu. Daun Hijau  yag masih muda itu tampak segar. Dua hari kemudian  daun-daun itu lenyap. Pernah saya memergoki ada seeokor Tikus yang melintas di dekat pot itu. Rupanya Tikus itu memakan daun-daun muda tadi.

Tikus itu rupanya masuk melalui  celah pagar besi. Di sebelah rumah kami masih ada tanah kosong yang  tidak dirawat oleh penghuninya. Tanah kosong itu ditumbuhi tanaman liar dan mungkin sekali temat tinggal para Tikus yang sering berkeliaran mencari makan ke rumah-rumah sekitarnya.

Isteri saya  jengkel juga  dengan ulah Tikus itu yang makan tanpa menanam sendiri. Saya membeli Lem Tikus di toko Besi terdekat. Lem itu saya oleskan pada sebilah papan dan diberi umpan Tikus berupa Ikan asin yang sudah dibakar. Bau harum Ikan asin ini membuat Tikus mendekati umpan itu dan tubuh Tikus melengket di papan tadi karena diatas papan itu ada Lem yang kuat sehingga Tikus tidak dapat  melarikan diri. Sampai pagi hari ia masih hidup. Matilah Tikus itu karena kepalanya dipukul sebatang kayu.

Selain  hobi menulis, hobi  bercocok tanam juga  saya rasakan ada manfaatnya.
Bila apa yang saya tanam itu dapat tumbuh subur, berbunga atau berbuah, alangkah gembira hati saya. Sesuai dengan moto Blog saya “Kita memetik apa yang kita tanam.”

Kalau kita menanam Jagung, pasti kita akan memetik Jagung juga dan bukan Padi.
Kalau kita menanam Kebaikan maka kita akan memetik Kebaikan juga. Dari pada menanam Kejahatan, lebih baik menanam Kebaikan.

Jumat, 10 September 2010

Ikan


Ketika saya utak-atik Blogger.com ternyata ada fasilitas “Fish”. Saya manfaatkan untuk meramaikan penampilan di Blog Kumpulan Cerpen ini.

Pada sebelah kanan tampilan Blog tampak 8 ekor ikan Mas dan 1 ekor ikan Hitam. Mereka aktip “berenang”. Bila kita klik Mouse di dekat Ikan-ikan tsb , maka akan terbentuk sebuah titik hitam. Klik berulang-ulang akn memunculkan sejumlah titik sebanyak klik yang kita buat.

Bintik-bintik Hitam itu seakan-akan makanan bagi mereka. Ikan-ikan itu akan berebutan melahap makanan yang kita berikan kepada mereka.

Ketika saya jenuh dengan kehidupan sehari-hari, maka dengan memberi makan kepada ikan-ikan itu, maka saya menjadi terhibur. Terkadang saya sudah beberapa hari tidak berkunjung ke “akuarium” itu dan lupa memberi makan ikan-ikan itu, tetapi mereka tetap hidup. Badan mereka tidak bertambah kurus karena tidak diberi makan dan mereka tidak bertambah besar / gemuk meskipun setiap hari diberi makan.

Bila anda berkunjung ke Blog saya ini, silahkan klik-lah Mouse anda berulang-ulang untuk memberi makan ikan-ikan saya. Terima kasih atas kesediannya.

Salam sukses.

Selasa, 23 Maret 2010

Menolak rejeki






Sebagai salah seorang karyawan suatu perusahaan swasta, aku berpenghasilan cukup memadai untuk menghidupi keluargaku dengan seorang isteri dan seorang putri.

Pada musim hujan seperti sekarang, rumput liar mudah sekali tumbuh di halaman depan rumah kami dan di tepi trotoar. Pada hari libur / Minggu saya sering membersihkan halaman dan mencabuti rumput di halaman depan. Sudah setahun cat pagar rumah kami sudah banyak yang terkelupas akibat teriknya sinar matahari dan derasnya air hujan yang turun saat ini.

Terpikir olehku untuk meminta seseorang yang dapat mengerjakan pekerjaan itu. Aku teringat kepada Pak Kosim yang sering datang untuk meminta pekerjaan kepada kami. Pak Kosim, 35 tahun dan isterinya bekerja sebagai penunggu sebuah kantor swasta di dekat rumah kami. Tugasnya menunggui Kantor itu, membersihkan dan menyediakan air minum untuk ara karyawan yang bekerja di kantor tsb. Pekerjaannya tidak berat, sehingga ada banyak waktu bagi Pak Kosim untuk mengerjakan pekerjaan sambilan di saat senggangnya.

Uang tabungan Pak Kosim sering dibelanjakan untuk membeli sebuah sepeda bekas dan kemudan dijual lagi bila dirasa ada keuntungan. Di depan kantor tempat ia bekerja ada banyak orang yang berjualan sepeda dan barang-barang rumah tangga lainnya.

Suatu hari Sabtu pagi ketika saya akan pergi ke tempat pekerjaan saya, saya sengaja mengunjungi Pak Kosim. Kebetulan Pak Kosim sedang menyapu halaman kantor tempat ia bekerja.

“Pak Kosim, ada pekerjaan nih. Bisa bantu saya?” saya berkata kepada Pak Kosim.

Pak Kosim menjawab “ Wah senangnya saya kalau dapat pekerjaan sambilan. Kapan Pak? “

Saya berkata lagi “Kalau ada waktu datanglah besok pagi ke rumah kami. Tugas Pak Kosim mencat pagar halaman rumah kami dan mencabuti runput liar di tepi trotoar.”

Saya pikir Pak Kosim akan menyanggupi permintaan saya, tetapi jawaban Pak Kosim ternyata katanya ia harus mengantar isterinya ke rumah salah satu saudaranya yang sedang sakit sehingga ia tidak dapat bekerja di rumah kami. Kalau hari kerja, Pak Kosim menjawab tidak bisa sebab ada tugas dari tempat ia bekerja. Entah tugas apa. Jadi Pak Kosim saat ini hanya dapat bekerja pada hari Minggu saja.

Saya pikir hari Minggu pagar rumah kami selesai di cat kembali, Jadi cukup hanya kerja 1 hari saja, tetapi ternyata Pak Kosim tidak mau mengerjakan tugas tsb. Padahal dengan bekerja sambilan di rumah kami ia akan mendapat uang ekstra bagi keluarganya.

Saya membatin berbuat kebaikan juga tidak mudah ya.
Akhirnya saya putuskan untuk mencari seorang Tukang yang mau bekerja keesokan harinya yaitu pada hari Minggu. Ternyata Pak Sidik menyanggupi untuk bekerja di rumah kami pada hari Minggu itu. Rejeki yang semula akan diberikan kepada Pak Kosim akhirnya berpindah ke tangan Pak Sidik. Sejak itu kalau ada perkerjaan di rumah kami, saya ogah minta bantuan Pak Kosim lagi.

Minggu, 21 Maret 2010

Manfaat lain nginap di Rumah sakit






Aku seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta. Di umur ini 40 tahun aku bekerja sebagai tenaga administrasi. Pemilik perusahaan ini adalah teman ayahku sehingga aku tidak sukar bekerja di perusahaannya. Aku betah bekerja selama 5 tahun dengan gaji yang layak untuk dapat menghidupi keluargaku. Isteriku bekerja sebagai seorang Guru sebuah Taman Kanak-kanak di kota kami.

Kami mempunyai 2 putra, Alimin, 10 tahun dan Sidik 8 tahun. Mereka mengikuti pendidikan di sebuah SD yang tidak jauh dari rumah kami. Rumah sederhana ini adalah pemberian dari ayahku. Aku bersyukur kepada Tuhan bahwa keluarga kami diberkati keadaan tubuh yang sehat dan hidup layak. Untuk transporatasi sehari-hari kami menggunakan sebuah sepeda motor yang kami beli dengan mencicil. Setiap pagi aku mengantar isteriku ke tempat tugas dan anak-anak pergi ke sekolah mereka dengan berjalan kaki.

Suatu hari ketika bangun tidur aku merasa tubuhku lemas, sedikit demam, padahal kemarin aku masih sehat. Pulang dari kantor tubuhku makin demam. Aku berobaat kepada seorang dokter praktik umum yang terdekat dengan rumah kami. Aku dianjurkan agar dilakukan pemeriksaan darah. Hasil pemeriksaan darahku, menunjukkan aku menderita Tipes. Dokter menyarankan agar aku dirawat di Rumah Sakit. Setelah berunding dengan keluargaku, aku dirawat di Rumah Sakit Umum di kotaku. Beruntung bos-ku bersedia membiayaiku perawatan di RS.

Ah…ternyata menjadi pasien ternyata tidak enak. Badan demam, lesu, tidak selera makan dan yang lebih parah lagi aku tidak dapat berkumpul untuk sementara dengan keluargaku. Setiap sore isteri dan kedua anak kami menengok aku di Rumah Sakit. Demam akan muncul ketika sore hari dan malam hari, pada pagi hari demam menurun. Aku minum beberapa macam obat yang diberikan oleh dokter Herman yang merawatku.

Sakit dapat diderita oleh siapa saja. Kalau bisa jangan sakit sebab sakit pada saat ini merupakan suatu kemewahan bagi kebanyakan orang. Biaya berobat atau perawatan di Rumah Sakit akan banyak menyedot biaya.

Berbaring di bed dalam waktu beberapa hari membuat aku tidak betah. Dari pada aku membuang waktu aku akan mencoba menukis dikala aku tidak demam.

“Santi, tolong bawakan aku sebuah buku dan sebuah ballpoint untuk aku menulis,” kataku kepada suatu sore kepada usteriku.

“Pak untuk apa?” jawab isteriku.

“Aku ingin menulis di kala aku tidak demam. Aku tidak betah kalau diam saja berbaring menunggu aku sembuh.” Aku menjawab.

Isteriku berkata lagi “Menulis? Tumben kalau di rumah tidak biasanya bapak menulis. Iya sudah besok aku bawakan. Semoga tulisan bapak dapat berguna.”

Sepulang mereka membesuk aku sore itu dan melahap jatah makan malam aku teringat akan sebuah kata yang aku baca dari sebuah buku yang berbunyi demikian ”Menulis adalah salah satu cara untuk menghilangkan Stres.”

Stres? Benar, aku mengalami Stres juga dikala aku di rawat di Rumah Sakit ini.
Aku mencoba menulis, tetapi mau menulis apa? Akhirnya aku menulis Diary, sebuah catatan harian selama aku masuk Rumah Sakit ini. Tidak terasa tulisanku sudah mencapai sepuluh halaman buku tulis yang diberikan oleh isteriku. Kecapean aku menulis, membuatku tertidur dengan lelap. Aku bangun keesokan harinya dengan badan agak segar. Demamku sudah tidak ada lagi setelah aku dirawat selama 4 hari.

Ketika Dokter Herman datang memeriksaku pagi itu, aku bertanya apakah aku sudah boleh pulang? Setelah melihat catatan grafik suhu tubuhku yang sudah normal, ia berkata “Pak Abidin, besok bapak boleh pulang.”

Ah…betapa senangnya. Aku sudah boleh pulang berarti aku sudah mulai sembuh, meskipun dokter menyarankan agar aku perlu istirahat 1-2 hari lagi di rumah. Isteriku dan kedua putra kami juga gembira, kalau aku sudah boleh pulang ke rumah besok pagi.

Sepulang dari Rumah Sakit, kebiasaanku membuat tulisan semakin gemar aku lakukan. Bahkan aku belajar dari teman sekantor untuk membuat sebuah Blog di Internet. Dari Buku-buku panduan yang aku pinjam dari temanku ini, aku mulai membuat sebuah Blog pribadi. Artkel-artikel yang aku posting ke Blog-ku berkisar antara pengalaman-pengalaman yang aku alami sejak kecil samai aku berkeluarga.

Aku membeli sebuah Laptop bekas untuk menunjang penulisan Blog di Internet. Kegiatan mengakses Internet ini mempunyai hikmah lain yaitu aku jadi dapat berkomunikasi dengan teman-teman seolah ku semasa di SMU melalui email. Di kala senggang kedua putra kami juga ikut belajar Internet.

Aku bermimpi suatu saat kelak aku dapat membeli sebuah Laptop lagi agar keluarga kami dapat mengakses Internet. Pendidikan anak-anak kami juga akhirnya nanti akan mempergunakan komputer / Laptop. Isteriku yang semula tidak menyetujui rencanaku, akhirnya juga ikut menikmati browsing di Internet untuk mencari berita atau hiburan.

Ternyata hikmah dari aku nginap di Rumah Sakit adalah keluarga kami rajin menggunakan Laptop dan mengakses Internet.

Mirip slogan Coca-cola, Internet dapat dilakukan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja alias 24 jam.

Sabtu, 13 Maret 2010

Doa yang tulus



Aku menikah 3 tahun yang lalu dan diberkati seorang putra 1 tahun. Kami tinggal di sebuah rumah pemberian Mertua. Sosial ekonomi mereka tergolong lebih mampu dari pada sosial ekonomi keluargaku.

Aku bekerja di sebuah Bank swasta di kotaku. Gajiku setiap bulan cukup untuk membiayai keluargaku. Tahun yang lalu terjadi suatu musibah yang tidak aku duga. Pihak Mertuaku meminta aku agar menceraikan isteriku. Proses perceraian di Pengadilan sudah disiapkan. Mungkin Mertuaku kurang berkenan mendapat menantu yang hanya seorang karyawan dan ingin agar putrinya dinikahkan dengan pria lain yang lebih mapan. Akhirnya kami berpisah dengan isteri dan putraku tercinta. Dunia ini aneh, apa saja dapat terjadi sesuai dengan keinginan asal tersedia fasilitas, meskipun sebenarnya itu tidak manusiawi.

Aku kembali ke rumah Ibuku yang sudah lanjut, 75 tahun. Keluargaku tidak dapat berbuat banyak, selain menghiburku agar aku tetap tabah. Iya benar akau harus tetap tabah dan tetap semangat. Aku pikir tidak menjadi gila saja aku sudah bersyukur.

Saat ini aku sudah berhenti dari Bank itu. Sekarang aku bekerja di sebuah toko makanan jadi seperti Mie instan dll. Pemilik toko, Tn. A ini adalah atasan aku semasa aku bekerja di Bank tadi. Tn. Dan Ny. A ini cukup pelit meskipun aku bekerja sungguh-sungguh. Tugasku adalah menjadi driver sebuah mobil box yang setiap harinya mensuply 2-3 toko lain. Untuk menjalankan tugasku ini, aku tidak diberi asisten untuk mengangkat dus-dus mie tadi. Jadi tugasku merangkap jadi driver dan pengangkut barang.

Saat istirahat siang haripun aku hanya mendapat jatah mie instan. Jarang aku makan nasi pada saat makan siang. Makan nasi hanya 2 kali yaitu pagi dan malam hari di rumah ibuku. Itupun dengan lauk yang sederhana seperti Tahu, Tempe dan Kecap. Dari pada aku kelaparan dan tidak dapat hidup maka aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Mau pindah kerja saat ini terasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup.

Hari demi hari aku menjalani hidup dengan sabar. Aku bersyukur akau masih dapat tinggal di rumah ibuku. Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dengan gajiku kami hidup berdua dengan Ibuku di sebuah rumah kecil.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat dielakkan. Suatu pagi, Ibuku ketika hendak berdiri setelah sarapan pagi, tiba-tiba Ibuku terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Aku terkejut melihat Ibuku terjatuh. Ya Tuhan….cobaan lagi yang menimpa keluarga kami. Ada sedikit benjolan di belakang kepala Ibuku dan muntah satu kali.

Aku minta ijin kepada bos karena harus mengantar Ibuku untuk berobat kepada dokter terdekat. Ada seorang Dokter, dr. B yang buka praktik dekat dengan rumah kami. Ibuku setelah diperiksa oleh dr. B. katanya kesehatan Ibuku dalam keadaan baik. Ada sebuah benjolan yang terjadi akibat adanya perdarahan dibawah kulit. Ibuku mendapat resep obat berupa tablet dan gel untuk menghilangkan benjolan di kepala.

Terdengar ketukan pintu samping ruang praktik dr. B. Rupanya Ibunda dr. B ingin bicara dengan putranya. Ketika pintu terbuka ternyata Ibuku dan Ibunda dr. B saling kenal dan sempat ngobrol sejenak. Ibunda dr. B tampaknya lebih tua dari usia Ibuku tetapi masih segar dan sehat.

Ibuku bercerita keadaan keluarganya terutama keadaanku setelah bercerai ( dengan tidak wajar ) dengan isteri dan putranya. Ibuku prihatin benar dengan penghasilanku setiap bulan meskipun bekerja tidak mengenal lelah. Ibuku tampak seperti putus asa dalam menjalani hidup kami di dunia ini.

dr. B banyak memberikan banyak kata-kata penghiburan dan memberikan dorongan agar aku dan Ibuku tetap semangat dalam menghadapi segala macam cobaan hidup ini. Keadaan sosial ekonomi keluarga dr. B juga katanya tergolong sederhana saja, bukan dari keluarga yang kaya. Hal ini membuat dr.B lebih tabah dan lebih kuat dalam segala cobaan hidup. Aku mendengar perkataan dr. B bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dipikul oleh manusia artinya Tuhan Maha Mengetahui kondisi setiap umatnya. Tabah dan tetap semangat dalam hidup ini. Kalau isteri dan putraku harus meninggalkan aku, sudahilah kenangan pahit itu dan hiduplah untuk hari ini dan selanjutnya tanpa harus melihat ke belakang lagi. Mohonlah dan ketuklah pintu Tuhan semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagiku dan Ibuku tercinta.

Tidak terasa hampir 1 jam kami berkonsultasi dengan dr. B yang baik hati itu.
Ibuku minta agar dr. B mendoakan kami. Dengan spontan dr. B berdoa bersama kami di ruang praktiknya. Doa dipimpin oleh dr. B yang diikuti oleh aku dan Ibuku dalam hati dan mengamini setiap permohon kami kepada Tuhan. Doa yang ringkas, padat dan rendah kati akhirnya ditutup dengan kata Amin. Hatiku dan hati Ibuku lega setelah didoakan. Kami tahu bahwa dr.B bukanlah seorang rohaniawan tetapi seorang dokter yang baik hati.

Aku dan Ibuku tidak kuasa membendung air mata kami yag menetes keluar. Sungguh mulia dr. B ini yang menaruh perhatian kepada kami. Ketika aku akan membayar biaya pemeriksaan Ibuku, dr. B berkata “Tidak usah, untuk beli obat saja di Apotik terdekat dan semoga lekas sembuh” kepada Ibuku. Kami dengan tulus berkata “ Terima kasih, dok. Tuhan memberkati.”

Dalam perjalanan pulang kami bersyukur, masih ada orang yang mau memberikan semangat kepadaku. Aku harus tetap semangat! Aku harus tetap semangat! Amin.

Kamis, 27 Agustus 2009

Tersedot kloset


Pesawat Boeing 767 Sydney – Jakarta yang saat itu mengangkut 165 penumpang terbang dengan mulusnya. Siang itu udara cerah. Awan putih berada jauh di bawah pesawat.

Penerbangan selama 7 jam nonstop itu terasa membosankan karena film yang ditayangkan di layar tengah kurang menarik. Majalah yang terletak di bagian seat di depanku sudah kulihat berulang kali. Aku sudah bolak-balik sebanyak 2 kali ke Toilet yang berada di tengah pesawat. Ukuran Toilet yang hemat tempat ini, sangat bermanfaat bagi para penumpang. Jumlah Toilet ada 6 buah, 3 di tengah pesawat dan 3 dibelakang pesawat.

Setelah santap siang disajikan para penumpang sibuk dengan masing-masing aktifitas. Ada yang melihat film, ada yang mendengarkan siaran radio FM melalui headset ada yang melihat majalah, ada yang melamun, ada yang ngobrol sesama teman seperjalanan dan bayak pula yang tertidur.

Aku yang mendapat seat dekat Toilet di tengah pesawat tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari salah satu Toilet tersebut. Terdengar suara “Help, help”. Pintu Toilet sedikit terbuka.
Salah satu Pramugari menghampiri Toilet dan bertanya “What happen, Sir” kepada seorang Bule yang berada di dalam Toilet itu.
“Your Toilet bite me. I can’t stand up. Help me please” kata orang Bule setengah baya itu.
2 orang Pramugara berusaha membantu mengangkat orang itu yang dalam posisi duduk. Usaha mereka tidak berhasil.

Rupanya kejadian seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Setelah buang air besar dan kecil serta membersihkan diri dengan kertas Tissue yang banyak tersedia, pengguna Toliet seharusnya berdiri terlebih dahulu, menutup Toliet dengan penutup Toilet, kemudian menekan tombol Flush. Tenaga mesin jet pesawat akan menyedot semua kotoran yang ada di dalam Toliet. Rupanya pria tadi setelah membersihkan diri, dalam posisi masih duduk, ia sudah menekan tombol Flush. Dengan demikian kedua bokongnya tersedot hisapan mesin dan sulit dilepaskan.

Seorang Parmugari berkata kepada salah seorang rekannya “Give him some Bir.”
Pria itu disuruh minum Bir sebanyak-banyaknya sampai ia mabuk. Dalam keadaan mabuk, usaha mengangkat badan pria itu dilakukan lagi. Dengan sudah payah, akhirnya badan pria itu dapat terlepas dari Toilet. Pria itu tidak terasa kesakitan akibat ia sedang mabuk berat.

Oleh Pramugara, pria itu diantar kembali ke seatnya. Isterinya yang menduduki seat di sebelahnya rupanya tertidur ketika peristiwa yang menghebohkan itu terjadi dan terbangun ketika sang suami di dudukkan oleh Pramugara. Melihat suaminya tertidur, iapun melanjutkan tidurnya tanpa mengetahui bahwa sang suami telah mengalami kecelakaan kecil di dalam Toilet pesawat.-