Sabtu, 15 Agustus 2009

AC tidak dingin


“Harun, oli Mesin dan air Radiatornya sudah kamu periksa?” isteriku bertanya kepada Supir Kantor tempat isteriku bekerja.
“Sudah, Bu. Masih cukup, tinggal beli Bensin saja sambil keluar Kantor” sahut Pak Harun.

Lima orang karyawan lain segera memasuki Minibus Kijang keluaran tahun 1997 itu. Mereka akan mengadakan kegiatan mobile unit yaitu mengambil darah donor darah di salah satu Bank di kota kami. Hari itu 3 tim mobile unit yang bergerak untuk mengambil darah donor di tempat yang berlainan.

“Run, nyalakan AC nya, panas nih “ isteriku memberikan perintah kepada sang Supir.
“Oh iya Bu, kelupaan” sahut Harun.
Selang tak lama kemudian ada suara dari arah jok belakang “ACnya sudah dinyalakan belum Pak Harun?”
“Sudah, untuk bagian belakang silahkan tombol Blower tengah di-On-kan.”

“Kok hanya udara hangat saja yang keluar” kata Ningsih yang duduk di jok tengah.
“Wah kalau begitu, mungkin gas Freon-nya sudah berkurang” sahut Harun sambil mengemudikan Kijang itu.
“Iya sudah besok ke bengkel AC, sekarang sabar saja dulu, sebentar lagi juga kita sudah tiba di Bank itu “ isteriku menengahi pembicaraan stafnya.
 
Keesokan harinya sepulang dari kantor isteriku melaporkan kepadaku bahwa kunci pintu belakang Kijang dinasnya sulit dibuka. Untuk memperbaiki sewaktu jam kantor sangat sulit karena mobilitas isteriku cukup tinggi. 
“Tolong kuncinya diperbaiki dan sekalian AC untuk bagian belakang Kijang itu minta diperiksa dan diperbaiki agar dingin” isteriku berkata kepadaku.
 
Aku membawa Kijnag Dinas itu ke sebuah toko variasi mobil langgananku. Aku melaporkan kepada temanku masalah Kijang tersebut.
Pak Beni segera memerintahkan seorang tehnisi untuk memperbaiki Pintu belakang dan seorang tehnisi untuk memeriksa AC.
 
Masalah pintu cepat diselesaikan, hanya ganjal rumah kunci pintu yang perlu diganti dengan yang lebih tebal. Masalah AC yang diperiksa oleh Pak Udin ini juga cepat selesai. Ia membuka kap mesin Kijang dan membuka Blower di di dalam Kijang bagian tengah
“Sudah Pak. Semua normal” kata Pak Udin.
“Normal? Tidak ada udara dingin kok normal sih!” aku protes.
“Semua normal, yang keluar udara hangat saja, hembusan fan blower. Tadi saya lihat di dalam blower itu tidak ada pipa-pipa gas Freon. Jadi yang keluar hanya udara hangat saja. Ternyata di dalam blower tidak ada unit pendinginnya, Pak. Di ruang mesin juga tidak ada pipa penyalur udara dingin ke Blower bagian tengah mobil. Jadi normal. Tidak ada unit pendingin ya tidak dingin udaranya” kata Pak Udin sambil tertawa.
 
Aku heran mengapa Blower terpasang tetapi di dalam Blower tidak ada pipa-pipa freon. Lalu untuk apa Blower itu dipasang di dalam Kijang itu.
“Mungkin tadinya ada Pak, tetapi karena rusak, maka tidak dipasang lagi. Hanya Fan yang bekerja menghembuskan udara hangat” kata Pak Udin.
“Jadi bagaimana solusinya Pak Udin?” aku bertanya kepadanya.
“Mesti di pasang satu unit blower dan pipa-pipa yang baru” sahut pak Udin.
“Berapa kira-kira harganya?” aku bertanya lagi.
“Sekitar satu setengah juta rupiah” sahut Pak Udin.
Wah cukup mahal, kataku di dalam hati. Tidak ada unit pendingin, ya tidak dingin udaranya. Suara itu masih teringat olehku.
 
Kejadian ini mirip dengan kisah seorang Ibu yang merasa mesin mobilnya hilang di sebuah halaman parkir.
---

“Tolong bantu Pak, aku mau mundur” kata seorang Ibu yang baru saja keluar dari suatu Mall kepada Tukang parkir.
“Baik, Bu” sahut Tukang parkir.
Beberapa menit kemudian tidak terdengar suara mesin VW kodok Ibu itu, meskipun Ibu tadi sudah duduk di dalam mobilnya.
“Kok mesinnya tidak mau hidup” katanya kepada Tukang parkir.

Tukang parkir bermaksud membantu Ibu tadi lalu berkata “Buka saja kap mesinnya, Bu” katanya sambil berjalan menuju bagian depan VW kodok itu. 
Ketika kap “mesin” itu terbuka, Tukang parkir berkata kepada Ibu itu “Ibu, disini tidak ada mesin mobil. Mesinnya hilang!”
Tergopoh-gopoh Ibu itu keluar dari dalam mobilnya. Ketika ia melihat di dalam kap “mesin” itu tidak ada apa-apa selain sebuah kain lap kumal, ia menangis dan berteriak “Mesin mobilku hilang. Mesin mobilku hilang. Bagaimana ini Tukang parkir tidak menjaga mobilku dengan baik. Siapa pencurinya, heh” ia memegang leher baju Tukang parkir.

“Saya tidak tahu, Bu. Bukan saya yang mengambilnya” sahut Tukang parkir dengan berteriak juga.
Keributan tadi menarik perhatian orang-orang disekitar halaman parkir itu.

“Sebenarnya ada apa?” kata seorang Bapak.
“Kata Ibu ini, mobilnya tidak dapat distater dan ketika kap “mesin” yang di depan mobil itu dibuka, mesin mobilnya tidak ada” kata Tukang parkir tadi menerangkan.

“Ya tentu saja mesinnya tidak ditemukan di situ” kata Bapak itu.
“Jadi mesin mobilku dimana?” tanya Ibu pemilik mobil VW tadi.
“Mesin mobil Ibu tidak hilang, memang tempatnya bukan di depan mobil tetapi terletak di belakang mobil. Cobalah tarik tombol ini untuk membuka kap mesin yang sesungguhnya” kata Bapak tadi.

Rupanya ia mempunyai mobil VW kodok juga.
Setelah terbuka kap mesin itu, ternyata mesin VW itu ada disana. Benar kata Bapak tadi, mesin VW ada dibelakang mobil, bukan di depan mobil. Mesin mobilnya tidak hilang.

Setelah diperiksa kenapa mesin tidak dapat distater, karena bensinnya habis. Tidak terkontrol dan Ibu pemilik VW itu lupa mengisi bensin sebelum berangkat ke Mall itu. Mesin dapat dihidupkan lagi setelah sepuluh liter bensin yang dibeli di pedagang bensin eceran di depan Mall, masuk ke dalam tangki bensin VW tadi.

“Terima kasih Pak, Bapak sudah menemukan mesin mobil saya.” kata Ibu pemilik VW tadi sambil menyalami tangan Bapak tadi.




Selasa, 04 Agustus 2009

TV antik


Delapan tahun yang lalu kami membeli sebuah TV mini berwarna. Ukuran layarnya sekitar 6 inchi yang membutuhkan tenaga listrik yang kecil. TV ini dilengkapi dengan Radio FM dan antene yang dapat ditarik keatas sepanjang 20 Cm. Di sisi kanannya pada bagian bawah TV terdapat sederet lubang untuk audio out put, video out put dan lain-lain. TV ini tidak mempunyai remote controle, dan untuk beralih ke channel TV berikutnya kita mesti memutar sebuah tombol seperti pada sebuah radio jaman dulu yaitu dengan memutar tombol yang bentuknya seperti kancing piyama. TV mini sangat praktis dibawa-bawa atau dipindah-indahkan letaknya. Gambarnya akan lebih tajam bila dihubungkan dengan antene TV yang terpasang diatas atap rumah
 
Ketika putri kami sekolah di salah satu SMU di Jakarta, TV mini ini selalu menemaninya dan diletakkan diatas meja belajarnya. Ia dapat mendengarkan siaran radio FM di Jakarta dan siaran TV swasta. Dengan demikian ia tidak usah pergi ke ruang tengah tempat kost dimana TV Ibu kos berada.
 TV mini ini kembali berpindah tempat ketika putri kami melanjutkan studynya ke luar negeri. TV itu diletakkan di sebuah meja ditempat praktek isteriku yang seorang dokter umum. Dengan setia ia menemani isteriku selama sekitar 1 tahun.
 
Banyak pasiennya yang merasa heran kok masih ada TV seperti itu. Banyak yang bertanya “Apakah Ibu merasa nyaman melihat TV mini ini dari jarak dua meteran. Apakah tidak terlalu kecil gambarnya?”
“Masih enak dan masih dapat menghibur saya” kata isteriku sekenanya.
 
Bulan berganti bulan dan dengan seringnya tombol pencari channel TV swasta di putar-putar menyebabkan sangat sulit kalau akan berpindah channel sebelum TV itu hidup untuk sekitar sepuluh menit. Makin panas TV makin mudah tombol channel bekerja. Bila sudah panas lebih mudah untuk berpindah channel TV. Berabe juga. Tombol volume suara yang berupa sebuah tombol geser di bagian depan TV juga sudah mulai ngadat. Tombol itu mesti diganjal lembaran kertas agar suaranya muncul. TV ini sebenarnya sudah waktunya masuk musium. Mencari orderdilnya juga pasti sangat sulit sebab TV mini ini sudah tidak beredar di pasaran.
 
Suatu sore ada seorang pasien langganan isteriku yang datang berobat. Untuk ke sekian kalinya ia memperhatikan TV mini di ruang praktek itu. Akhirnya ia mengajukan permohonan “Ibu dokter, TV itu sudah kuno dan layarnya terlalu kecil. Boleh tidak kalau saya beli saja?”
“Nanti ya saya bilang sama suamiku dulu” jawab isteriku, sebab TV ini mempunyai nilai kenangan, yang sudah lama menemani putri kami di tempat kosnya.
 
Setiap pak Joni datang berobat, pertanyaan dan jawaban itu selalu terulang kembali. Sampai akhirnya Pak Joni menawarkan barter antar TV mini kami dengan sebuah TV color 21 inchi yang pakai remote controle. Akhirnya kami menyetujui proses barter itu. Pak Joni sangat gembira ketika permintaannya dikabulkan isteriku.
 
Suatu malam ketika isteriku pulang praktek ia berkata “Tadi sore ia datang lagi dan saya bilang boleh Pak Joni barter TV itu. Kemudian Pak Joni pergi sebentar untuk membeli TV 21 inchi buatan RRC di toko TV milik kawannya dan datang kembali dengan membawa 1 Dus TV baru, lengkap dengan Nota pembelian dan Kartu garansinya” 
 
Keesokan harinya aku pergi melihat TV itu. Wah… layarnya cukup besar untuk dilihat dengan jarak 3 meter, suaranya stereo, pakai remote controle, mutu gambar dan suaranya oke punya. Aku puas dengan TV barteran ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri “Mengapa Pak Joni mau menukar TV antik itu dengan TV yang baru dan ukuran layar yang jauh lebih besar? Untuk apa TV kuno itu sebenarnya”
 Isteriku tidak peduli lagi apa alasan Pak Joni mau membarter TV kami. Yang penting ia sekarang sudah punya TV baru yang lebih nyaman.
 
Bulan berikutnya kami bertemu dengan Pak Joni disuatu pernikahan relasi kami dan aku bertanya apa alasannya ia mau menukar TV antik dengan TV baru? 
Pak Joni menjawab “Untuk saya koleksi. Saya senang dengan TV yang antik.” 
Rupanya Pak Joni seorang kolektor TV antik. Aku tidak peduli lagi bila Pak Joni bisa menjual TV mini itu dengan harga yang jauh lebih mahal dari TV 21 inchi hasil barteran kami. Ya sudah win win solution saja.



Minggu, 02 Agustus 2009

Shok terapi


Suatu siang kami berpapasan dengan Agus, temanku di selasar Rumah sakit.  
“Gus, kamu masuk di bagian apa sekarang?” aku bertanya kepada Agus teman seangkatan, ketika kami sekolah Dokter di salah satu Universitas di Bandung. Ketika kami mengikuti tingkat akhir, pendidikan Koasistensi, kami belajar lebih banyak di lingkungan Rumah Sakit pendidikan kami dari pada di dalam Ruangan Kuliah di Kampus.
“Aku di bagian Pediatri ( I.Kesehatan Anak ). Malam ini kau kena jaga malam, Bud” Agus menjawab pertanyaanku.
“Sama, aku jaga malam juga di bagian Bedah” sahutku kepada Agus.

“Budi, siang ini ada Cito operasi di O.K. ( Operasi Kamar ) “ kata Lina rekanku di bagian Bedah.
“Emang giliran siapa yang mendampingi Dokter Singgih?”
“Menurut jadwal, kamu, Budi. Kamu bersiap-siaplah dan masuk O.K. sebelum Dokter Singgih cuci tangan. Kalau kamu terlambat, pasti kena marah” sahut Lina.
“Baiklah aku cuci tangan dulu, Lin” aku menjawab.
 Setelah mengikuti asistensi di O.K. aku menulis laporan kegiatan Bedah siang itu. Yono seorang lekaki, 35 tahun, mengalami Perforasi Appendicitis ( Radang Usus Buntu yang pecah ). Dibanding operasi Appendectomi biasa ( operasi pengangkatan Usus Buntu ), operasi tadi lebih lama karena Dokter Bedah harus membersihkan rongga perut dari segala kotoran yang keluar dari Usus Buntu yang pecah tadi. 
 Malam itu aku jaga malam bersama Dokter Maksum. Enak kalau jaga bersamanya. Para Dokter muda dibimbing dengan baik dalam Ilmu Bedah dan juga tindakan praktis di ruang Poliklinik Bedah Rumah Sakit pendidikan kami.

-----

“Beri jalan, ada pasien.” begitu teriak petugas penerima pasien.
Seorang pemuda Amir, berusia sekitar 30 tahun mengalami kecelakaan lalu-lintas. Aku melihat Betisnya yang mengalami ekskoriasi ( luka lecet ). Bagian tubuh lainnya bersih, tak ada cedera, patah tulang dll. Semula di ruang depan Polikinik, ia dapat berbicara ketika ditanya identitas dirinya dan bahkan ingin menuntut seorang Bapak Toto, pengendara sepeda motor yang menabraknya. Toto mengatakan bahwa si Amir yang tidak hati-hati mengendari sepeda motornya sehingga terjadi tabrakan kedua sepeda motor. Pak Toto tidak mengalami luka dan pasien Amir hanya mengalami sedikit Eksoriasi di Betisnya.

“Siapa namanya?” aku bertanya kepada pasien Amir.
Dia diam saja dan kedua matanya tertutup rapat.
Aku memeriksa tekanan darah, denyut nadi, bunyi jantung dan pernafasan semuanya normal. Tidak ada luka lain atau tanda-tanda patah tulang.
Aku berpikir ia berpura-pura sakit berat dan kalau ia dirawat di R.S. maka ia dapat menuntut uang yang banyak dari Pak Toto yang dianggap penyebab dari lukanya.
Aku melaporkan hasil pemeriksaan pasien kepada Dokter Maksum dan mengatakan keadaan pasien yang ogah-ogahan menjawab semua pertanyaan.
Dokter Maksum berkata “Baik, kita lakukan Shok terapi ke satu saja.”
Aku bingung EST ( Electro Shock Therapy ) hanya dilakukan di bagian Psikiatry ( I. Kesehatan Jiwa ) untuk menenangkan pasien yang mengalami Schizophrenia ( gila ). Apakah di bagian Bedah ini biasa dilakukan EST juga?
Dokter Maksum meminta sebuah Pinset berkapas, dan ia mencelupkannya ke dalam larutan Yodium beralkohol, yang perih bila ditempelkan pada luka. Tanpa bilang apa-apa, Dokter Maksum mengoleskan kapas itu diatas luka lecet sang pasien.
“Aw…..perih…perih sekali” teriak sang pasien yang pura-pura pingsan itu. Ia duduk di atas bed pemeriksaan.
“Budi, pasienmu sudah bangun tuh” kata Dokter Maksum.
O… itu kah yang dinamakan Shok terapi ala Bagian Bedah?
 Akhir minggu kami jaga bersama lagi dengan Dokter Maksum. Sore ini datang seorang pasien lelaki, Abang Becak, umur sekitar 40 tahun. Menurut laporan dari Perawat yang bertugas, pasien terjatuh dari Becak yang dikemudikannya. Menurut pengendara sepeda motor, seorang pemuda 30 tahunan, ketika akan mendahului Becak itu, tiba-tiba dari arah yang berlawanan meluncur sebuah Minibus yang mengambil jalan agak ketengah. Untuk menghindari tubrukan, ia mengarahkan setir sepeda motornya ke kiri dan mengenai kaki si Abang Becak. Abang Becak turun dari Becaknya dan masih dapat berdiri, setelah ia melihat ada seorang sepeda motor yang menyenggol kakinya , ia tiba-tiba terduduk dan minta diantarkan ke Rumah Sakit terdekat yaitu tempat kami bertugas. Ia minta ganti rugi atas kejadian itu. Tidak ada luka atau patah tulang.
Aku bertanya kepada sang pasien yang sudah berada diatas bed pemeriksaan “Pak, dimana yang sakit?”
Abang Becak diam saja.
“Pak, namanya siapa dan dimana rumahnya?” aku bertanya lagi.
Masih diam, matanya tertutup. Wah ini kasus simulasi ( pura-pura ) lagi. Aku melapor kepada Dokter Maksum tentang status kesehatan pasien yang baru masuk ini.
Dokter Maksum berkata “Baik, kita lakukan Shok therapi ke 2.”
Aku bingung, emang ada berapa macam Shok terapi di bagian Bedah ini? Di textbook aku tidak pernah membaca istilah ini.
Dokter Maksum berkata kepada salah seorang Perawat yang bertugas “ Suster, siapkan kamar operasi saat ini juga. Kita harus membedah pasien ini!” dengan mengedipkan mata kanannya.

Mendengar kata Operasi, Abang Becak tadi tiba-tiba bangun dan hendak lari dari ruang Poliklinik Bedah. Para Perawat lainnya menenangkan sang pasien agar tenang dan duduk di kursi.
“Itulah Bud, shok therapi ke 2 bagi pasien yang main simulasi” Dokter Maksum sambil tersenyum dan keluar dari Ruangan Poli.
 Aku dan para perawat tertawa setelah Dokter keluar dari ruangan. Minggu itu aku mencatat ada 2 tipe Shok terapi yang manjur, bila menghadapi pasien yang main simulasi.



Penyakit Agogo


 Pagi itu Badrun berjalan melewati rumahku. Kami bertetangga dekat. Aku melihat ia berpakaian rapih dan wajahnya berseri-seri.
“Mau kemana hari ini, Drun?” aku menyapa Badrun.
“Aku mau ke Jakarta, mengantar bos” jawab Badrun
“Yo wis, selamat jalan Drun.” Aku memberi selamat kepadanya.
Badrun yang supir mobil pribadi bosnya Tn. Rahmat, sudah bekerja selama sekitar 2 tahun. Isterinya berjualan Rujak di rumahnya. Mereka mempunyai seorang putra berumur 1 tahun.
 Lima hari kemudian Badrun mendatangi rumahku untuk sekedar ngobrol.
“Ali, aku mau ngobrol. Kau ada waktu?” katanya kepadaku
“Boleh. Ada apa sih, tumben kau mau ngobrol dengan ku. Biasanya kau hanya lewat rumahku saja” aku meledeknya.
“Begini Li, aku ada masalah.” Kata Badrun.
“Masalah apa sih, sepertinya kau tak ada masalah. Kau sudah punya pekerjaan tetap, mau apa lagi?”
“Aku sakit kencing, Li.” Badrun memulai pembicaraanya.
“Kalau sakit, pergilah berobat ke dokter. Masa datang kepadaku” aku menjawab.
“Itulah yang aku mau tanyakan kepada kau. Ke dokter mana ya” sepertinya Badrun masih bingung.
“Di dekat sini kan ada Dokter Budi. Kau bisa berobat kepadanya” aku menjawab sekenanya.
“Emang kenapa kau sakit kencing?” aku bertanya kepada Badrun.
“Waktu aku mengantar bosku ke Jakarta, kami bermalam disuatu hotel. Ia memasukkan seorang wanita ke dalam kamarnya. Agar aku tidak melaporkan kepada isterinya, aku disuruh mengambil seorang wanitta yang tidak aku kenal. Bosku bilang wanita itu pandai memijit. Semula aku ragu, tetapi karena emang badanku pegel linu sehabis seharian berputar-putar kota Jakarta, akhirnya aku mau juga. Wanita itu masih muda dan tampak bersih. Kami masuk kamar khusus untuk para supir. Wanita itu Wati namanya, tampak seperti murid SMU. Pakaiannya bersih, tutur katanya halus dan pandai merayu. Begitu kami masuk kamar, ia langsung merayuku dan melepaskan celana panjangku. Selanjutnya aku main dengan Wati” tutur Badrun kepadaku.
“Astaga Drun kau tak ingat isterimu? Kok mau-maunya sih engkau bermain dengan wanita lain?” aku menyalahkan Badrun.
Badrun melanjutkan ceritanya “Tiga hari kemudian sepulang dari Jakarta, aku sakit ketika kencing dan celana dalamku ada bercak nanah warna kuning. Itulah ceritanya Li.”
---
Keesokan harinya kami bertemu lagi.
Badrun melaporkan kisah berobatnya kepada Dokter Budi kemarin sore.
“Apa kata dokter, Drun.”
Badrun menjawab “Kata Dokter aku sakit Agogo, Li. Aku tak paham Agogo itu apa? Setelah menyuntik bokongku, dokter memberi resep obat yang aku tebus di Apotik. Sekarang aku tidak sakit kencing lagi, tetapi aku masih harus menghabiskan obatku. Begitu kata dokter.”
“Kau tahu enggak sakit Agogo itu apa, Li” Badrun bertanya lagi.
Aku yang pernah membaca sebuah artikel kesehatan di sebuah majalah mengetahui bahwa Agogo itu suatu plesetan dari penyakit G.O., Gonorrhoe, Kencing nanah, penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin.
“Kau mengidap sakit Kencing nanah, Drun” aku menjawab.
“Hah…” Badrun terkejut mendengar jawabanku
“Wati itu tampaknya bersih, Li, kulitnya halus dan tidak kudisan. Masak aku kena penyakit begituan.” Badrun masih tidak percaya.
“Drun, kuman Agogo itu kecil, tak dapat dilihat dengan mata biasa. Kuman Agogo tidak sebesar bola tennis, sehingga kau tak dapat melihatnya pada diri Wati” aku menjawab, aku mendapat informasi ini dari artikel kesehatan yang pernah aku baca.
“Ya sudah, sekarang engkau sudah berobat. Kau sudah ditraktir oleh bosmu main dengan Wati, apakah bosmu mentraktitr juga biaya pengobatannya? aku bertanya kepada Badrun.
“Aku malu, Li minta penggantian ongkos berobat. Aku kapok main dengan wanita macam Wati itu. Sakit kencingnya itu lho, tak tertahankan” kata Badrun.
“Makanya Drun, jaman sekarang kita mesti eling lan waspodo. Jangan main tancap aja. Ingat isteri dan anak di rumah” aku menasihati Badrun temanku yang supir itu.



Jumat, 31 Juli 2009

Penipuan canggih

Sebagai seorang supir, aku bekerja di keluarga Pak Amir sejak 2 tahun yang lalu. Pak Amir berjualan barang kelontong disebuah pasar tradisionil di kota kami. Pak Amir dengan dibantu isterinya, Ibu Aminah setiap hari sibuk dengan urusan dagang. Mereka mempunyai putra satu-satunya, Umar yang sekarang ingin melanjutkan ke salah satu Perguruan Tinggi di kota Jakarta.
Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi, apalagi di Jakarta memerlukan biaya yang cukup besar. Sebagai seorang supir, aku tidak mungkin menyekolahkan putra kami di Jakarta.
Suatu hari Pak Amir berkata kepadaku “Udin, kau antarlah Ibu ke Agent pemasangan iklan di jalan Asia. Kami ingin menjual mobil Kijang untuk membiayai sekolah si Umar. Biar nanti kami membeli mobil yang lebih murah harganya.”
Selesai mengantar Ibu Aminah memasang iklan di koran lokal, aku bertanya kepada Ibu Aminah “Bu, setelah Kijang ini laku terjual, bagaimana tugas saya. Apakah saya berhenti sebagai supir Ibu?”
“Jangan takut Din, sebelum kami mendapatkan mobil yang lain Paman si Umar akan memberi pinjaman mobil Kijang yang lain. Kamu tetap menjadi supir kami” jawab Ibu Aminah.
Seminggu kemudian datanglah 3 orang laki-laki ke rumah pak Amir. Mereka bermaksud membeli mobil Kijang yang diklankan pada koran lokal. Rupanya setelah tawar menawar harga mobil, memeriksa keadaan mobil dan surat-surat mobil, transaksi penjualanpun terjadi. Harga yang disepakati sebesar 60 juta rupiah. Mereka berjanji akan datang kembali keesokan harinya.
Dengan mengendarai mobil sedan warna putih bernomer polisi D, ketiga laki-laki itu mendatangi rumah Pak Amir. Setelah terjadi pembicaraan, tak lama kemudian Pak Amir meminta aku untuk mengantarkan Ibu Aminah bersama ketiga laki-laki itu ke salah satu Bank swasta papan atas di jalan Mawar. Aku melihat Ibu memasukkan Buku Tabungan Banknya ke dalam tasnya. Pak Amir tidak mengantar isterinya karena harus segera ke toko kelontongnya.
Rupanya Pak Amir dan Ibu Aminah menghendaki agar uang 60 juta hasil penjualan Kijangnya disetorkan langsung ke Rekening Tabungan Ibu Aminah. Permintaan Ibu Aminah ini telah disetujui oleh laki-laki berkumis, salah satu dari ketiga laki-laki itu. Mereka semuanya berperilaku sopan kepada Ibu Aminah.
Saat itu Bank banyak dikunjungi para nasabahnya. Memang Bank tersebut paling laris di kota kami. Laki-laki berkumis itu berkata kepada Ibu Aminah “Ibu tunggu saja, duduk di kursi, kami akan menyetorkan uangnya ke dalam Tabungan Ibu. Mari Bu, Buku Tabungannya.”
Ibu Aminah tanpa curiga sedikitpun menyerahkan Buku Tabungannya.
 Laki-laki berkumis itu segera mengambil antrian yang cukup panjang. Kawannya tak lama kemudian mendatangi laki-laki berkumis itu, mengadakan pembicaraan singkat, kemudian pergi meniggalkan ruangan Bank. Kawannya yang satu lagi tidak ikut masuk ke dalam Bank, rupanya menunggu di dalam sedan mereka. Sekitar sepuluh menit kemudian salah seorang kawanan ini mendatangi laki-laki berkumis yang sedang antri. Mereka berbicara sebentar dan tampak ada sesuatu yang diberikan kepada laki-laki berkumis tadi.
 Hampir satu jam kemudian, setelah mendapat gilirannya laki-laki berkumis itu mendatangi Ibu Aminah dan aku yang duduk di deretan kursi tunggu.
“Ini Bu, Buku Tabungannya. Sudah saya setorkan 60 juta atas nama Ibu.” sambil menyerahkan Buku tadi ke tangan Ibu Aminah.
Segera Ibu Aminah membuka helai demi helai dan mencari tanda cetakan Bank pada Buku Tabungannya.
“Benar sudah masuk 60 juta. Jadi saldo saya ada 64 juta rupiah” kata Ibu Aminah gembira.
“Mana surat-surat dan kunci mobil Kijangnya Bu. Kami akan kembali ke Bandung” kata laki-laki berkumis tadi.
Aku melihat Ibu Aminah menyerahkan semua apa yang diminta laki-laki berkumis itu. Aku sedih, mulai saat itu aku tidak dapat membawa mobil Kijang Ibu Aminah yang sudah terjual yang sudah aku rawat selama 2 tahun.
 Keesokan harinya Ibu Aminah dan aku kembali mendatangi Bak tersebut dengan maksud untuk mentranser uang sebanyak 10 juta untuk pembayaran uang masuk Perguruan Tinggi di Jakarta bagi putra, Umar. Setelah mengisi slip transver uang, Ibu Aminah mengikuti antrian yang pada saat itu tidak terlalu banyak nasabah. Sepuluh menit kemudian aku terkejut, ada teriakan dari arah loket penyetoran uang.
“Ya Tuhan. Aku tertipu. Aku tertipu.” teriak Ibu Aminah dengan histeris. Ibu Aminah terjatuh tak sadarkan diri. Ramailah suasana di ruangan Bank tadi. Beberapa Satpam segera menolong Ibu Aminah dan membaringkan Ibu Aminah di deretan kursi tunggu. Lima menit kemudian Ibu Aminah sadar dan minta diantar olehku menuju Loket transver uang.
Ibu Aminah bertanya kepada petugas Loket “Bagaimana ini bisa terjadi. Kemarin saya menjual Kijang dan uangnya sudah masuk ke Rekening Tabungan saya. Sekarang kok dikatakan uangnya tidak cukup?”
“Ibu ingin mentransver sejumlah sepuluh juta rupiah, tetapi Saldo Ibu yang terakhir di komputer kami hanya tinggal empat juta rupiah. Jadi tidak cukup untuk dana transver Ibu yang sepuluh juta rupiah ” kata petugas Bank.
“Tetapi menurut cetakan Buku Tabunghan saya Saldo saya ada enam puluh empat juta rupiah.”
“Cetakan ini dapat dari mana Bu, kok kodenya berbeda dengan kode Bank kami”.
“Kemarin saya menyerahkan kepada pembeli mobil Kijang kami untuk dicetakkan hasil setoran mereka sebesar enam puluh juta rupiah.”
“Wah Ibu sudah kena tipu. Rupanya mereka mencetak setoran itu dengan mesin cetak yang bukan milik Bank kami.”
Aku teringat kemarin salah satu laki-laki kawanan itu bolak-balik menghampiri laki-laki berkumis. Mungkin ia mengambil Buku Tabungan Ibu Aminah, mencetak hasil setoran 60 juta dan saldo terakhir 64 juta rupiah di dalam sedan putih mereka dan segera mengembalikan kepada laki-laki berkumis itu. Dilihat sepintas lalu, sepertinya laki-laki berkumis itu benar telah menyetorkan uang itu ke dalam Rekening Tabungan Ibu Aminah.
“Jadi bagaimana ini urusannya” kata Ibu Aminah kepada petugas loket
“Sebaiknya Ibu melaporkan kejadian ini kepada Polisi.”
 Kami pulang dengan lemes. Ibu Aminah lemes akibat tertipu, mobil hilang dan uang hasil penjualan mobil tidak ada. Aku lemes karena Ibu Aminah tidak dapat membeli mobil lain yang akan aku rawat. Aku akan menjadi pengangguran lagi. 



Pantai Jimbaran



Don’t die, before see Bali Island. Jangan mati, sebelum melihat Pulau Bali.
Begitu slogan orang Barat yang berbau promosi. Bahkan bagi sebagian orang Australia, Bali adalah tanah air nereka yang kedua. Bali dan Australia masing-masing mempunyai pantai yang indah, tetapi mengapa orang Australia saat liburan lebih suka pergi ke Bali yang dapat dijangkau selama 5 jam penerbangan pesawat? 
Bali mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak heran bila ada kesempatan, orang akan berusaha pergi melihat Pulau Bali, Pulau Kayangan. Wisman mancanegara menganggap pesiar di Bali lebih murah dari pada di negaranya sendiri. Shooping di Bali dirasa lebih murah bila memakai dolar ( USA / Australia ) untuk membeli produk dengan harga IDR ( Indonesian Rupiah ). Hal ini bertentangan denagn kemampuan wisman dalam negeri yang membeli produk disana dengan IDR mereka sebab kebanyakan produk telah dihargai dengan Dolar. Saya pernah melihat harga sepasang sandal jepit biasa US$8.0, di salah satu counter di Ngurah-Rai Airport, Denpasar pada tahun 2000. Kurs saat itu sekitar Rp. 7.000,- an. Dengan uang sebanyak itu berapa pasang sandal jepit kalau kita membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta? Bagi mereka US$8.0, no problem.
Sayang promosi yang gencar dilakukan oleh banyak pihak, tidak berdampak positip akibat ulah para teroris yang telah melakukan pemboman di Bali sampai dua kali. Hancurlah dunia pariwisata Bali, jumlah kunjungan yang merosot tajam, hotel-hotel menjadi sepi, bisnis para pedagang sekitar pantai menurun tajam, makin sulit penduduk lokal mencari nafkah. Pendapatan daerah asli pulau ini sebagian besar mengharapkan dari sektor pariwisata. Lebih parah lagi adanya travel warning oleh pemerintah USA dan Australia bagi warganegaranya untuk lebih berhati-hati bila ingin bepergian ke Bali.
Masih ada masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri yang tetap mengunjungi Bali, meskipun situasinya dianggap kurang aman. Mati atau hidup ada di tangan Tuhan, kalau kita berbuat baik, kenapa mesti takut. Begitu alasan mereka.
------
Aku mengikuti rombongan mantan siswa SMA Negeri angkatan tahun 1966 di kota kami. Sejak 3 bulan sebelum keberangkatan rombongan yang berjumlah 44 orang ini telah mengadakan persiapan yang matang. Rombongan ini terdiri dari dari Ibu dan Bapak yang berusia diatas 55 tahun. Rombongan menggunakan sebuah Bus Pariwisata dari kota Bandung. Bus yang mewah ini berangkat dari depan Mesjid At Taqwa kota Cirebon pada pukul 05.00 WIB tanggal 21 September 2005. Direncanakan kami akan kembali di kota kami kembali pada tanggal 26 Desember 2005 sebelum bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005.
 Bus melintasi Pantai Utara Pulau Jawa, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan tiba di Surabaya sekitar pukul 01.30 dini hari akibat padatnya lalu lintas di Pantura, kami datang lebih lama dari perkiraan waktu tiba. Kami beristirahat di rumah Ibu Yati, isteri seorang mantan seorang Kapolres di daerah Surabaya.
Ketua rombonga kami, Pak Wihara mengadakan kontak melalui telepon genggam bahwa kami akan tiba di rumah Ibu Yati pada tengah malam, meskipun kami berjanji akan tiba sekitar pukul 19.00 untuk menghadiri resepsi pernikahan salah seorang putrinya.
“Selamat datang teman-temanku” Ibu Yati menyambut kedatangan kami.
“Sudah tiga puluh sembilan tahun kita tidak berjumpa sejak tahun 1966, tetapi teman-teman masih ingat kepadaku. Mari masuk, makan, minum sepuasnya dan beristirahatlah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Denpasar” Ibu Yati menerima kami dengan ramahnya. Maklum teman lama. Kami saling melepas kangen dan mengambil beberapa foto bersama.
 
Satu jam kemudian kami pamit kepada keluarga Ibu Yati dan bus menuju Pasir Putih dan tiba pagi hari sekitar jam 07.30 WIB. Bus kami berjalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Hanya berhenti bila mengisi Solar atau tiba di suatu tempat untuk makan atau buang air kecil yang biasanya salah satu pompa bensin. Dengan 2 orang Supir yang bertugas secara bergantian dan 3 orang awak bus Bus kami berjalan nonstop. Di salah satu Rumah Makan kami memanfaatkan fasilitas mandi dan toilet dengan bayaran Rp.2.000,-/orang. 
“Wah segernya mandi disini” aku berkata kepada Marku temanku.
“Betul Bud, airnya segar dan kita sudah 1 hari tidak mandi.he..he..” Marku menjawab.
 
Setelah sarapan rombongan menuju arah Timur menuju kota Ketapang, Banyuwangi, tempat yang paling Timur dari Pulau Jawa. Bus kami menyebrang dari Ketapang dengan menggunakan kapal feri melintas Selat Bali menuju kota Gilimanuk. Setiba di Gilimanuk, P. Bali, bus meluncur kearah utara P. Bali menuju Lovina Beach. Tengah hari kami tiba di pantai ini. Disini sebenarnya banyak ikan Lumba-lumba yang dapat kita lihat bila kita naik perahu motor ke tengah laut. Tidak seorangpun yang mau pergi ke tengah laut di tengah hari yang sangat panas. Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Tengah, mengunjungi Danau Bedugul. Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Selatan menuju Sanur. Kami bermalam dua malam di Hotel Abian Srama (*) untuk melepaskan lelah dan mandi sepuasnya.
 
Kesokan hari sebelum kami ramai-ramai berjalan kaki ke Pantai Sanur, setelah kami sarapan pagi di Hotel.
Marku temanku memesan secangkir kopi. Ketika ia akan membayar Kopinya ia terkejut karena disodori bon sebesar Rp. 10.000,- ( sekitar US$1.0 ).
“Kok mahal amat, harga Kopi di hotel ini. Di Pasar Sukowati ( pasar trdisionil diluar kota Denpasar), harganya hanya Rp.1.500,-”.
Aku menggodanya “Masih untung, kamu tidak ditagih US$4.0 harga normal secangkir Kopi di hotel ini. Mungkin itu sudah harga paket karena kita ini rombongan 44 orang yang nginap disini.”
Tampak kekesalan di wajah Marku, temanku.
 Kami mengambil beberapa foto bersama di pantai Sanur ini. Keadaan berawan sehingga kami tidak dapat melihat Sunrise matahari terbit dan matahari tenggelam, Sunset di pantai Sanur yang indah ini. Sepanjang hari banyak para wisman dalam negeri dan luar negeri berjemur di pantai sanur ini.
 Rombongan mengunjungi objek-objek pariwisata lain seperti Benoa Beach. Di pantai ini kami tiba tengah hari. Ada 2 rombongan masing-masing 10 orang yang menyewa perahu motor dengan bayaran Rp. 10.000,- per orang untuk menuju ke suatu tempat penangkaran Penyu Bali. Di tengah perjalanan perahu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan para wisman ini melihat dasar laut yang dangkal melalui alas perahu yang terbuat dari fiber glass yang transparan sehingga kami dapat melihat rumput laut yang hijau bergoyang-goyang oleh arus air laut, ikan-ikan berwarna-warni. Tiba di tempat penangkaran Penyu Bali, kami melihat banyak Tukik ( anak Penyu ) dan kami berfoto bersama. Ada beberapa Ibu yang ingin berfoto ketika mereka dalam posisi menduduki salah satu Penyu yang terbesar. Wah kocaknya, karena sang Penyu ogah diduduki manusia. Ia bergerak-gerak dan penumpangnya berjatuhan. Wah heboh….Geerrr. tertawa semua. Udara panas dan disana ada penjual Kelapa muda. Kami minum masing-masing sebuah Kelapa muda yang dihargai Rp. 10.000,-/buah yang tidak dapat ditawar. 
“Lima ribu aja ya.” Nur menawar
“Tidak bisa Bu, kami juga membeli dari tempat lain dengan harga yang mahal” Ibu penjual Kelapa itu menolak tawaran Nur.
Ketika air Kelapa habis tersedot, kami minta Kelapa dibelah dengan golok besar dan tajam. Kami menikmati daging buah Kelapa muda yang kenyal dan nikmat itu.
Kami kembali ke Pantai dan banyak para turis yang bermain ski air yang ditarik kapal motor dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang naik Parasut yang di tarik kapal motor sehingga parasut yang membawa seorang penumpang itu naik dan terbang tinggi di udara. Yang lain menaiki perahu karet, bertiga mereka ( dua penumpang dan satu instruktur pendamping ) yang ditarik oleh kapal motor dengan kecepatan sangat tinggi sehingga akhirnya perahu karet ini dapat naik ke udara, seperti ikan terbang, flying fish. Terdengar teriakan-terikan para penumpangnya yang kaget karena tiba-tiba perahu karet yang mereka tumpangi terbang diatas permukaan air laut Benoa beach.
Keesokan harinya kami pindah Hotel, kami menginap semalam di Hotel Ratna (*) di daerah Kuta. Setelah check-in kami ada acara bebas. Kesempatan ini aku dan beberapa teman berjalan kaki menuju Monoment Bom Bali I di daerah Legian, Kuta. Kami sempat mengambil foto-foto yang diambil secara bergantian. Kamera digital Nikon Coolpix7900-ku sangat bermanfaat untuk mengabadikan moment ini. Kami merasa sedih dan mengutuk keras para teroris yang telah melakukan pemboman di daerah ini. Banyak korban yang meninggal dan luka-luka, Bali makin sepi dikunjungi wisman. Nama-nama para korban diabadikan di di dinding Monomen ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Di dekat Hotel Ratna, ada sebuah Toko “Jogger” yang menjual pakaian, T-Shirt, gantungan kunci dan lain-lain produk. Mutu yang lebih bagus dari pada toko-toko lain, Jogger memasang tarif harga yang lebih mahal. Banyak kalimat-kalimat yang menggelitik yang melekat pada T-Shirt, gantungan kunci dll. Yang unik adalah jam buka toko yang semaunya saja. Toko seharusnya dibuka pada pukul 10.00, calon pembali sudah berkumpul banyak di depan pintu masuk. Eh….para petugas toko malah membiarkan mereka menunggu lama dan pada pukul 12.00 tengah hari barulah toko dibuka dan para calon pembeli saling berebut masuk. Mungkin mereka senang melihat para pengunjung berdesak-desakan berebut masuk ke toko mereka.
“Sialan bener nih toko. Kami disuruh menunggu berjam-jam untuk masuk” kata seorang Bapak sambil menuntun putra dan putrinya masuk ke toko Jogger.
“Siapa suruh mau datang ke toko ini”, seorang gadis di belakangnya berbisik kepada temannya. Mereka ketawa cekikian, mentertawai orang lain, padahal mereka sendiri pun sudah antri berjam-jam untuk sekedar membeli T-Shirt atau Jean yang ketat, kesukaan anak-anak muda.
Juga ada ketentuan membeli produk mereka yang di beri label Jogger: setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli sebanyak 6 buah untuk T-Shirt, 3 buah untuk produk lain, dll dengan tujuan agar pengunjung yang lain pun dapat membelinya. Jadi tidak diperkenankan memborong semua barang. Pembayaran dengan Kartu Kreditpun tidak ditolak. Ada Loket pembayaran yang khusus untuk pembayaran dengan Kartu Kredit ini. 
Makin dipermainkan, makin banyak pengunjung Toko Jogger ini. Inilah uniknya. Antri? Siapa takut! Aku yang masuk paling akhir hanya geleng-geleng kepala saja. Penasaran tidak kebagian T-shirt, aku membeli 2 buah untuk putriku, masing-masing seharga Rp. 59.900,-. Kalau di toko lain mungkin setengah harganya. Kalau di Pasar Sukowati tentu harganya paling murah, hanya sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- dengan keterampilan pandai menawar seperti kaum Ibu belanja. Disini pembeli boleh memborong barang yang diinginkan asal cukup uang untuk membayarnya. Keunikan Pasar Sukowati adalah lokasinya yang dipinggir jalan keluar dari kota Denpasar menuju Negara dan Gilimanuk, tempat untuk menyebrang ke P. Jawa. Mau tidak mau setiap mobil / bus harus melewati pasar Sukowati. Pasar ini mirip pasar Tegalgubug, di daerah Arjawinangun, Kabupaten Cirebon yang konon pasar pakaian murah terbesar se Asean (?).
Kami mengunjungi GWK ( Garuda Wisnu Kencana ) di daerah Uluwatu. Tiba di tempat sekitar pukul 15.00 WITA ( WIB + 1jam ). Puluhan Bus pariwisata diparkir di pelataran parkir yang luas. Ketika kami tiba sudah banyak rombongan dari tempat lain antara lain dari suatu pabrik elektronik di Surabaya. Peserta rombongan puluhan Bus mereka disambut dengan Tari Barong dan lain-lain atraksi dan kamipun larut dengan iring-iringan mereka  
Kami menuju suatu bukit dimana terletak GWK. Suatu patung Dewa Wisnu yang terbuat dari lempengan logam. Konon dibuat oleh para seniman di Bandung. Patung ini masih perlu disempurnakan, karena masih belum selesai dan masih menunggu sponsor. Di bukit lain tampak patung seekor Burung Garuda. Disana dipamerkan suatu maket / contoh GWK dalam skala ukuran yang lebih kecil setinggi 1,5 meter. Meskipun belum selesai tetapi aku melihat tinggi patung Dewa Wisnu ini puluhan meter dari permukaan tanah. Dari bukit yang tinggi ini kami dapat melihat pemandangan yang indah disekitarnya. Pemilihan lokasi GWK ini rupanya sudah diteliti matang-matang oleh si pembuatnya.
Puas mengambil foto-foto, kami menuruni bukit untuk b.a.k, di toilet yang terjaga bersih, cukup air mengalir, berbau harum, free of charge alias gratis. Keluar dari toilet aku melihat banyak orang berkerumun di satu tempat. Ternyata itu adalah penjual Es Cendol kesukaanku.
“Berapa harganya segelas, pak?” aku bertanya.
“Opat ribu wae” jawab seorang pemuda sekitar 25 tahunan.
Kok pakai bahasa Sunda sih. Ternyata ia dan kawan-lawannya berasal dari kota Tasikmalaya.
Merasa bisa berbahasa Sunda, aku berkata “Nyuhunkeun deui esna sakedik.” ( minta esnya sedikit lagi ) kepada salah satu penjual.
Tanpa ragu sedikitpun ia memberikan es batu sebanyak yang aku mau, tanpa harga ekstra. Bila satu bahasa maka semuanya bisa diatur. KKN nih!
 
Kami juga mengujungi Tanah Lot, dimana ada Pura yang lokasinya ditepi Pantai. Semua objek pariwisata banyak pengunjuingnya. Banyak anak-anak muda seusia delapan - sepuluh tahunan mereka menjajakan Foto-foto Tanah Lot dan lain-lain dengan harga Rp. 15.000,- / untuk sepuluh foto ukuran Post card dan dengan mutu cetak yang bagus. Aku membelinya untuk kenang-kenangan. Kami tidak pernah melihat seorang pengemispun di Pulau Bali ini.
Nina, seorang guide tour lokal dari sebuah event organizer yang bekerja sama dengan pemilik Bus Pariwisata yang kami pergunakan, membawa kami ke sebuah rumah tempat menyewakan pakaian adat Bali dan berfoto secara perseorangan atau berkelompok. Rumah ini berada di suatu Gang di suatu jalan raya di kota Denpasar. Aku difoto ketika berpakaian adat Bali dari seorang Raja ( kata petugas yang membantuku berpakaian ). Foto-foto yang dibuat sudah tiba di Hotel kami tempat bermalam pada sore harinya. Suatu service cetakan yang baik.
 Sepanjang perjalanan di Pulau Bali, rombongan kami banyak menemui upacara Odalan ( ulang tahun desa / keluarga ). Upacara bakar mayat ( Ngaben ) kami tidak menjumpai, kerena diadakan pada waktu tertentu mengingat biayanya sangat mahal. Begitu kata pak Wayan Wisnu, guide tour kami yang berdomisili di kota Denpasar.
 
Kami juga mengunjungi suatu tempat bernama Celuk, di daerah Sukowati. Kota ini terkenal dengan perhiasan Emas dan Perak murni. Di Toko Bali Gold, kami melihat-lihat. Saya sempat membeli sepasang Cincin Perak untuk isteriku dan aku sendiri dengan huruf initial name masing-masing di cincin Perak itu. Untuk hadiah ulang tahun putriku pada bulan Desember 2005 aku membeli sebuah Cincin mas 23 K yang bermata Mutiara sebesar butiran buah Jagung yang konon hasil produksi Mutiara di P. Lombok. Untuk putraku, aku sudah menyiapkan sebuah cincin bermata Batu Blue Safire yang aku beli dalam kunjungan kami setahun yang lalu ke P. Lombok. Semuanya itu kubayar dengan Kartu Kredit Visa. Cincin itu akan aku bawa dalam kunjungan kami ke Sydney, Australia, pada medio Desember 2005, ketika kami akan menghadiri Wisuda putra kami yang lulus sebagai Dokter di salah satu Universitas di kota Sydney.
 Istana Presiden Tampak Siring juga kami kunjungi. Ketika kami tiba disana sekitar pukul 16.00 WITA. Kami tidak diperkenankan masuk ke dalam halaman dalam Istana, hanya diperbolehkan masuk sampai di halaman depan. Kami sempat berfoto bersama dua orang Petugas Keamanan Istana. Dari kejauhan kami melihat banyak Rusa yang sedang merumput di halaman di depan bangunan Istana.
Suatu malam hari menjelang kepulangan kami kembali ke P. Jawa, kami makan malam bersama di Jimbaran Beach ( Pantai Jimbaran ). Dinner ini merupakan paket Pariwisata yang kami dapatkan dari trip kami ke P. Bali. Kami memasuki halaman belakang dari suatu Rumah Makan. Halaman ini langsung berada di tepi pantai Jimbaran. Ada banyak Rumah Makan sepanjang pantai ini. Ratusan bus dan mobil pribadi di parkir di halaman parkir. Jalan raya yang hanya dapat dilalui oleh 2 mobil kecil sehingga sukar bila 2 bus saling berpapasan. Salah satu Bus mesti mengalah memberi jalan bagi Bus lainnya.
Ketika kami datang sekitar pukul 18.15 WITA, suasana pantai belum beguitu ramai. Setengah jam kemudian seluruh kursi di seluruh Rumah makan sudah terisi. Sepertinya kami harus pesan tempat, bila ingin Dinner di pantai Jimbaran.
Kami mengharapkan sekali agar malam terakhir ini kami dapat menikmati Sunset di panatai Jimbaran. Lagi-lagi kami kecewa, karena awan hitam mendung banyak menghalangi sinar matahari yang akan masuk keperaduannya. Kami berfoto bersama ketika hidangan sudah berada di meja masing-masing. Satu meja untuk delapan orang. Nyala lilin-lilin menambah semaraknya suasana di pantai Jimbaran ini. Baru sekali itu aku menikmati Dinner di pantai Jimbaran. Sayang isteriku tidak berada disampingku, karena urusan kantornya tidak mengijinkan mengikuti Trip kami ini.
Hidangan yang kami nikmati malam itu berupa: sebakul Nasi putih hangat, Ikan-ikan bakar ukuran kecil, Kangkung Pelecing ( ca kangkung yang sedikit pedas yang konon sayur Kangkung ini di datangkan dari P. Lombok ), Tahu, Tempe goreng, Sambel Terasi dan segelas Es Sirop. Nikmat juga Dinner ini. Angin berhembus lembut di pantai Jimbaran. Gelak tertawa saling bersahutan. Terasa aman dan damai. Kami menikmati sekali moment itu.
“Kita belum tentu bisa Dinner bersama lagi dalam kondisi yang sama seperti malam ini, Wi” aku berkata kepada Wihara yang duduk di sampingku.
“Betul Bud, mungkin kita hanya sekali ini bisa makan bersama. Lain kali mungkin jumlah teman tidak selengkap malam ini” jawabnya.
 
Keesokan harinya kami setelah chec-out hotel Ratna menuju Pasar Sukowati. Semua teman Ibu dan Bapak turun dari Bus. Turun hujan cukup besar tidak menghalangi mereka masuk ke dalam Gedung Pasar yang besar ini. Banyak yang memborong pakaian atau sekedar gantungan kunci. Padahal di kota kami ada banyak barang yang dijual dengan mutu yang sama. Mereka rela bersusah payah untuk belanja, katanya untuk oleh-oleh bagi yang di rumah.
Marku, temanku yang pecandu Kopi, memesan segelas Kopi di salah satu warung dan menikmati Kopi dengan harga yang jauh lebih murah dari pada harga secangkir Kopi di Hotel berbintang satu. Wajahnya cerah, secerah sinar matahari yang muncul kemudian setelah hujan reda di Pasar Sukowati. Aku memesan Mie instan kuah hangat ditambah sebutir Telur Ayam yang dilahap nikmat pada saat udara dingin akibat turun hujan di daerah Sukowati ini.
Bus meluncur ke Gilimanuk untuk menyebrangi Selat Bali dan kembali ke P. Jawa setelah melewati Ketapang di ujung Timur P. Jawa. Kami berjalan melewati pantai Selatan P. Jawa. Kami menuju Jember, Lumajang dan Blitar. Di kota Blitar mobil kami di parkir di suatu tempat khusus parkir Bus. Kami mandi di rumah-rumah penduduk yang menyewakan kamar mandinya bagi para pejiarah makam Bung Karno. Dengan Tarif Rp.2.000,- kami dapat mandi sepuasnya. Makan pagi sekitar pukul 10.00 WIB berupa nasi Pecel, Rempeyek Kacang dan segelar air Teh hangat seharga Rp. 3.000,- sungguh nikmat. Badan segar sehabis mandi, perut kenyang, harga cukup terjangkau, kami bersiap-siap naik becak menuju Museum Bung Karno dan Makam Bung Karno.
Aku naik becak berdua dengan Marku, becak lain diisi isteri Marku dan anak gadisnya. Dengan tarif Rp. 10.000,- pulang pergi ke tempat asal, pelataran parkir Bus, kami mengunjungi Museum Bung Karno.
Musium Bung Karno sebagai Proklamator negera kita terletak di dalam sebuah rumah yang besar. Bangunan yang kuno ini mempunyai halaman yang luas dan dihuni oleh kerabat dekat Bung Karno. Semua ruangan bangunan diisi dengan perabot rumah tangga, lukisan dll barang. Kami dimintakan berfoto instan Polaroid dimana saja dengan membayar Rp. 10.000,- dan kami diperbolehkan untuk melihat-lihat musium Bung Karno sepuasnya.
Di halamanan belakang samping bangunan, diparkir sebuah mobil Mercedes warna hitam keluaran puluhan tahun yang lalu. Tampaknya mobil ini sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Mobil yang mempunyai makna bersejarah ini tampak anggun dan aku sempat berfoto di samping Mercy hitam ini.
Kami menuju Makam Bung Karno dengan naik becak yang dengan setia menunggu kami. Kompleks Makam yang sedang dipugar ini cukup bagus. Di halaman depan tampak berdiri beberapa bangunan bergaya modern dan ada kolam air mancur yang belum selesai. Dibelakang bagunan ini tampak sebuah halaman yang luas. Ditengah halaman ini berdiri sebuah bangunan beratap gaya Jawa. Tampak ada 3 makam. Di tengah adalah Makam Bung Karno dan di sisi kiri dan kanan adalah Makam Ibunda dan Ayahanda Bung Karno. Makam ini terbuat dari bahan yang bagus, lantai makam berupa keramik yang licin mengkilap.
Setelah semua peserta berkumpul di dalam Bus, kami lenjutkan perjalanan pulang. Bus menuju kota Yogya kemudian kami tiba di kota kecil Wates pada pukul 18.30 WIB. Bus berhenti di Rumah Makan Ambarketawang, satu Rumah Makan yang besar. Kami sempat mandi dan Dinner makanan khas Jawa Tengah. Sistim pembayaran yang khas pula. Rp. 10.000,- makan prasmanan sepuasnya. Selesai Dinner, kami masuk ke Toko yang menjual bermacam-macam Snack di sebelah Rumah Makan ini. Beban Bus kami bertambah berat karena hampir semua penumpang memborong makanan / Snack yang dijual disini.
Bus melanjutkan perjalanan ke kota Gombong, Puwokerto, Prupuk, Ketanggungan, Losari dan masuk kota Cirebon. Jalan raya di daerah Selatan Jawa tidak sebaik jalan raya berhotmix di Pantai Utara Jawa. Kami tiba kembali di depan Mesjid At Taqwa Cirebon pada tanggal 26 September 2005 pukul 02.30 dini hari, tempat Start dan Finish Trip kami ke P. Bali. Seperti ketika Start, kami saat Finish bersama-sama memanjatkan doa dan bersyukur bahwa kami dapat selamat diperjalanan dan tiba kembali di kota kami dengan selamat pula, baik para penumpang, krew Bus dan Busnya sendiri yang tidak pernah mogok, meskipun selama perjalanan lebih banyak mesinnya hidup dari pada berhenti.
5 hari setelah kami tiba di Cirebon, kami mendengar melalui siaran TV bahwa pada tanggal 1 Oktober 2005 malam hari, terjadi ledakan Bom di Pantai Jimbaran dan Pantai Kuta ( Raja’s Bar & Restaurant, Kafe Menage dan Kafe Nyoman ). 22 orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka. Kami telah dilindungiNya dan terhindari dari bencana maut itu. Kami baru saja meninggalkan Pantai Jimbaran. Puji syukur dan terima kasih kami panjatkan kepada Tuhan. Para peserta Trip ini saling berkirim SMS menyatakan puji syukur kepada Tuhan yang telah melindungi kami dari ledakan Bom Bali II dan mengutuk keras para pelakunya.-



Rabu, 29 Juli 2009

Minta Sepeda motor


Kehidupan kami di suatu RT, Rukun Tetangga di kotaku tampak tenang. Kehidupan bertetangga dapat dikatakan baik. Tidak heran bila kami saling mengenal satu sama lainnya.
Tetangga di sebelah rumah kami adalah Pak Haryono. Bapak yang sudah setengah baya ini hidup dengan isterinya dan 2 orang anaknya. Anaknya yang sulung seorang putri, Nani telah menikah dan tinggal bersama dengan suaminya yang pegawai disalah satu kantor swasta. Anaknya yang bungsu, Suyono baru saja menyelesaikan pendidikan di salah satu SMU di kota kami dan saat ini melanjutkan di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.
Pak Haryono mempunyai 20 becak yang disewakan kepada para tukang becak. Ia menerima Rp. 2.000,- utk setiap becaknya setiap 24 jam. Segala kerusakan becak ditanggung oleh si penyewa. Tidak semua becaknya itu dapat dipergunakan. Setiap hari ada saja becak yang diperbaiki. Hari ini ada 2 becak yang bannya kempes, hari lain ada 1 becak yang rantainya mesti diperbaiki dan lain lain kerusakan. Pak Haryono membantu para penyewa memperbaiki becak-becaknya. Kesibukan Pak Haryono setiap hari adalah mengurusi semua becaknya. Sebagai bandar becak Pak Haryono, hidupnya cukup tenang. Biaya hidup sehari-hari dipenuhi dari hasil menyewakan becak-becaknya. Biaya pendidikan Suyono di tanggung oleh kakaknya dan suaminya.
Dalam kehidupan bertetangga Pak Haryono cukup supel dan mau membantu tetangga yang minta bantuannya. Setiap hari ada saja tetangga yang meminjam pompa secara gratis untuk mengisi angin sepeda mereka terutama pada saat-saat berangkat ke sekolah.
Aku yang bekerja di salah satu Kantor Pemerintah, pada malam hari sering mengunjungi rumah Pak Haryono untuk sekedar ngobrol di rumah. Rumahku persis disebelah rumahnya. Suatu malam Pak Haryono berkata “Agus, aku ingin curhat kepadamu.”
“Ada masalah apa Pak?” aku bertanya.
“Beberapa hari yang lalu Suyono, anakku mengirim surat dari Jakarta.”
“Apa isi suratnya, Pak?” aku bertanya lagi.
“Ia minta disediakan uang sebanyak Rp. 8.000.000,- untuk membeli sepeda motor bekas” Pak Haryono melanjutkan.
“Sepeda motor Pak?” aku bertanya lagi.
“Betul sepeda motor. Padahal jarak rumah kos ke sekolahnya hanya 10 menit berjalan kaki. Katanya ia malu kalau setiap hari ia berjalan kaki ke sekolahnya. Hampir semua temannya naik sepeda motor atau mobil pemberian orang tuanya.”
“Sudah bisa sekolah saja sudah bagus ya Pak. Lagi pula jarak ke sekolahnya tidak terlalu jauh dan anggap saja berolah raga setiap hari.” Aku memberi alasan yang membesarkan hati Pak Haryono.
“Itulah Gus, masalahku sekarang ini.”
“Lalu apa Bapak sudah ada uangnya?” aku bertanya lagi
“Belum, aku bermaksud menjual 4 Becak. Kalau masing-masing 2 juta rupiah maka pas menjadi 8 juta rupiah, tetapi aku perlu waktu untuk mencari pembelinya. Tak ada tukang beca yang mau membelinya, mereka cukup sewa 2 ribu rupiah setiap hari, mereka sudah dapat menghidupi keluarganya. Aku harus mencari bandar becak yang lain, tetapi kalau borongan becakku hanya ditawar 6 juta untuk 4 becakku. Aku bingung, Gus.” Kata Pak Haryono

Aku merasa iba kepada tetanggaku ini.
“Lalu apa jawab Bapak kepada Suyono?”
“Aku bilang coba tunggu sampai bulan depan. Kalau tak ada pilihan lain maka 6 becakku akan kujual kepada bandar becak yang menawar becakku. Ini berarti penghasilanku setiap hari akan berkurang banyak. Kami juga membutuhkan biaya berobat selain untuk makan. Kami sudah tua dan sakit-sakitan. Sepertinya anakku itu tidak punya perasaan” Pak Haryono mengeluh.
“Iya sudah Pak, sabar saja. Barangkali ada bandar becak yang lain yang mau membeli becak Bapak dengan harga yang bagus atau Tuhan memberikan pemecahan masalah bapak” aku menghiburnya.
----
Bulan berikutnya aku ngobrol lagi dengan Pak Haryono.
“Bagaimana Pak ada perkembangan baru dengan penjualan becak Bapak?”
“Wah, Gus… Pak Bandono, bandar becak yang mau membeli becakku sekarang dirawat di rumah sakit. Kata keluarganya, ia sakit Tipes dan itu membutuhkan biaya. Ia membatalkan pembelian becak-becakku” Pak Haryono menjawab pertanyaanku.
“Lalu bagaimana Pak dengan kedatangan Suyono yang akan pulang meminta uang 8 juta itu?”
“Entahlah Gus, aku belum punya uangnya” Kata Pak Haryono lemes.
------
Siang itu terjadi keributan di rumah Pak Haryono. Rupanya Suyono datang dan marah-marah kepada Bapaknya ketika uang yang dimintanya belum tersedia. Ia memecahkan semua kaca jendela rumah mereka dan membanting piring yang ada di meja makan. Pak Haryono tidak kalah sengitnya dan memaki-maki putranya.
“Anak tidak tahu diri. Sudah disekolahkan dengan biaya besar. Sekarang minta beli sepeda motor. Aku tak punya uang. Carilah uang sendiri agar kau bisa membeli sepeda motormu” bentaknya kepada Suyono, putranya.
“Aku malu Pak. Malu kepada teman-temanku. Mereka naik sepeda motor kalau ke Kampus. Apa Bapak tidak mengerti perasaanku?’ balas Suyono.
Praaang…… terdengar kaca jendela dilempar sebuah piring oleh Suyono.
Para tetangga berdatangan, ingin tahu apa yang telah terjadi di rumah bandar becak tetangga kami itu.
Tiba-tiba Pak Haryono pergi meninggalkan rumahnya, meninggalkan isteri dan putranya. Mukanya merah menahan amarahnya. Stres berat menimpa dirinya. Aku berharap agar tidak terjadi apa-apa yang lebih memberatkan penyakit Darah Tingginya.
Suyono masih marah-marah. Kemarahannya beralih kepada Ibunya. Ibunya hanya dapat menangis. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Ibu Yati tetanggaku mempunyai ide. Idenya minta bantuan Dokter. Ia mempunyai Dokter langganan. Ia menelepon Dokternya dari sebuah Wartel di RT kami. Tak lama kemudian Ibu Yati datang dan memberitahu kami bahwa Dokternya tidak mau datang untuk urusan keluarga Pak Haryono.
Aku bertanya” Ibu Yati, apa alasan Pak Dokter tidak mau datang?”
Ibu Yati menjawab “Meskipun aku sudah memohon Pak Dokter untuk dapat datang tetapi ia menjawab katanya itu bukan wewenang dokter untuk menyelesaikan masalah keluarga. Kalau terjadi keributan sampai merusak rumah, panggillah Polisi.”

Tiba-tiba aku teringat akan Pak Dedi. Ia seorang Polisi yang bertugas dibagian Intel Kantor Polisi. Kami mendatangi rumah beliau. Pak Dedi yang saat itu baru kembali dari tugasnya, mau membantu kami. Akhirnya Suyono dibawa ke Kantor Sektor Kepolisian terdekat. Ia diinterogasi semalaman dan keesokan harinya, Suyono diperbolehkan pulang setelah berjanji tidak akan berbuat keributan atau menganiaya orang tuanya.
Rupa ia sadar akan perbuatannya. Tanpa pamit kepada orang tuanya, ia kembali ke Jakarta.
Aku membatin “ Kualat kau Yono. Anak tak tahu diri.”