Senin, 27 Juli 2009

R o k o k

Sore itu aku jengkel kepada suamiku. Sudah 1 minggu batuknya tidak mereda bahkan makin parah. Tidurku selalu terganggu oleh suara batuknya. Suamiku seorang perokok, 2 - 3 pak rokok kretek setiap hari dihisapnya. Kalau sedang menghadapi masalah di kantornya ia menghabiskan 3 pak rokok.

Ketika ia melamarku untuk menjadi isterinya, ia bukanlah seorang perokok. Setelah menikah dan ia dipromosikan jabatan yang lebih tinggi di kantornya. Ia menjadi seorang perokok. Aku perhatikan hampir semua teman yang berkunjung ke rumah kami adalah perokok. Ruang tamu penuh dengan asap rokok kalau mereka datang ke rumah kami. Aku benci asap rokok.

Orang bilang kalau cinta sama isteri maka suami akan melakukan apa yang isteri minta, tetapi suamiku tidak begitu. Apakah ia sudah tidak mencintaiku lagi? Setelah aku melahirkan anak ke 2 yang saat ini duduk di kelas 6 SD, suamiku kurang memperhatikan aku lagi. Jabatan yang tinggi baginya merupakan isteri kesatu dan aku sebagai isterinya dijadikan isteri kedua. Urusan kantor menjadi prioritas nomer satu lain-lainnya nomer dua dan seterusnya. Laki-laki adalah mahluk yang menyebalkan.

“Bu, besok sore kau antarlah aku pergi ke Dokter Herman.” pinta suamiku suatu malam kepadaku. Dokter itu langganan kami untuk berobat.

“Emang kenapa Pak? Engga enak badan? Kok tumben ingat sama dokter.” aku menjawab seolah-olah aku tidak tahu masalahnya.
“Aku kok merasa sedikit sesak nafas” ia berkata kemudian.
“Apa kataku, hentikan merokok. Rokok itu mengganggu kesehatan” 
“Ah..sok tahu kau. Bisa engga kau antar aku ke dokter?” kata suamiku lagi.
“Bisa. Bisa. Bapak sediakan saja waktu besok sore. Jangan terima tamu besok sore ya” aku menjanjikan.

“Ada keluhan apa Pak Simon? Sudah lama tidak kontrol kesehatan.” Kata Dokter Herman menyambut kami di ruang prakteknya.
“Maklumlah dok, saya sibuk akhir-akhir ini.” suamiku menjawab asal-asalan.
“Sibuk atau sibuk?” kata dokter Herman yang suka humor itu.
Geli aku mendengar dialog mereka. Ah… tak usah pakai basa-basi segala. To the pont sajalah. Aku mulai jengkel melihat percakapan itu.
Aku memotong percakapan mereka “Dokter, suamiku yang perokok ini, mengeluh sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Akhirnya ia memintaku untuk mengantarnya datang kesini. Tolong Dok, periksalah suamiku ini.”

“Baik, Pak Simon, silahkan berbaring di bed.” Kata dokter Herman sambil menunjuk bed pemeriksaan.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter Herman mempersilahkan suamiku duduk kembali di kursi di samping aku.

“Pak Simon anda terserang Bronchitis menahun. Kemungkinan besar akibat rokok yang Bapak hisap setiap hari. Berapa pak rokok yang Bapak hisap setiap hari?” tanya dokter Herman kepada suamiku.

“Hanya tiga pak, Dok” jawab suamiku.
Dokter Herman berkata lagi sambil menghitung “Tiga pak kali enam ribu sama dengan delapan belas ribu rupiah. Dengan uang sebanyak itu Bapak bisa membeli 1kg beras terbaik, 1 kilogran telur ayam, 1 liter susu sapi dan 1 sisir pisang untuk keluarga Bapak.”

“Pak Simon, berhentilah merokok, agar penyakit Bapak sembuh.” pinta Dokter Simon kepada suamiku.

“Sukar, Dok karena sudah kebiasaan. Kalau tidak merokok pikiran tidak bisa konsentrasi” suamiku membela diri.
“Kalau Pak Simon tidak menghentikan rokok, percuma saya beri resep obat. Yang utama adalah tidak ada asap rokok di dalam saluran nafas. Kalau Bapak tidak mau berjanji akan berhenti merokok, saya tidak akan memberi resep obat. Percuma saja” ancam Dokter Herman.

Aku memihak Dokter dan berkata “Pak, dengarlah advis Dokter. Percuma Bapak pergi ke Dokter, kalau Bapak tak mau berhenti merokok.”

Pak Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya.
Melihat ada dua lawan satu, suamiku makin bertahan dengan berkata “Percuma Dok, merokok atau tidak merokok akan mati juga.”
“Berdasarkan statistik kedokteran orang perokok akan lebih dulu meninggal dunia dari pada orang bukan perokok. Artinya bapak akan meninggal lebih dulu dari pada orang lain. Bapak pilih yang mana?” perkataan Dokter Herman memojokkan suamiku.

Suamiku diam saja. Aku kasihan melihatnya, lalu berkata “Iya dok, lebih baik berhenti merokok, agar sehat. Masalah mati dan hidup kita serahkan kepada Tuhan dan kita berusaha hidup yang sehat. Betul kan Dok?”

“Bagaimana Pak Simon?” Dokter Herman mendesak suamiku.
Rupanya perdebatan kecil di ruang praktek itu, menyadarkan suamiku, lalu suamiku berkata “Baiklah Dok, saya berjanji akan berhenti merokok, tetapi tolonglah kali ini saya diberi resep obatnya agar batuk saya reda agar saya dapat tidur.”

“Baiklah, kalau begitu akan saya tuliskan resep untuk pak Simon. Banyak minum ya Pak agar dahaknya encer dan mudah dibatukkan” Dokter Herman menasehati suamiku yang sudah menyerah untuk berhenti merokok.

Aku mengucap syukur kepada Tuhan karena suamiku mau berhenti merokok berarti ia akan hidup sehat dan rumah kami terbebas dari bau asap rokok. Aku berjanji akan lebih memperhatikan suamiku agar suamiku dapat hidup sehat dan menikmati hidup bersamaku dan anak-anak kami. Malam itu kami tidur nyenyak dan menyadari bahwa hidup sehat akan lebih baik dari pada hidup berkecukupan tetapi sakit-sakitan.-

Minggu, 26 Juli 2009

Pulsa Telepon


Saat ini berkomunikasi secara verbal sudah lebih mudah dilakukan dengan adanya sambungan telepon, baik telepon rumah maupun telepon genggam. Pemakaian telepon yang berlebihan atau sering mengadakan sambungan langsung jarak jauh ( SLJJ ) dapat meneyebabkan tagihan telepon akan membesar.

Dua bulan yang lalu Nani, adikku yang tinggal di Jakarta berkunjung ke kota kami. Nani bermalam di rumah Ibu kami. Kami sekeluarga menempati rumah kami yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Ibu kami.

Suatu pagi Ibuku mengeluh kepada Nani karena tagihan Telepon bulan berjalan lebih besar dari pada taghan telepon pada bulan-bulan sebelumnya.
“Nan, tagihan telepon bulan ini kok sampai Rp. 250.000,-? Ibuku berkata kepada Nani.
“Coba, saya lihat Rekeningnya, Bu.” Sahut nani kepada Ibuku.
“Iya benar tagihannya Rp. 250.950,- Biasanya berapa tagihan setiap bulannya, Bu?”
“Biasanya dibawah Rp. 100.000,- antara Rp. 60.000 sampai 75.000,- setiap bulan. Mengapa bulan ini sampai seperempat juta? Padahal bulan ini Ibu tidak melakukan interlokal ke kota lain” Ibuku menyahut.
Nani memunyai ide, katanya kepada Ibu “Besok kita minta saja hasil print out nomer telepon Ibu kepada petugas Kantor Telepon.”

Hasil print out dari Kantor Telepon memberikan jawaban atas pertanyaan Ibu tentang besarnya tagihan telepon bulan ini.
Nani menjelaskan kepada Ibu, “Bu, disini tercetak ada 6 kali sambungan interlokal ke kota Kuningan dan 2 kali ke kota Surabaya. Besar biayanya cukup besar. Apakah pada bulan yang lalu Ibu pernah bicara dengan seseorang di Kuningan dan Surabaya?”
“Tidak, Ibu tidak bicara dengan seseorang di Kuningan, apalagi di Surabaya.” Sahut Ibu.
“Kalau begitu siapa ya yang mempergunakan telepon Ibu. Adakah orang lain yang menginap di trumah Ibu? kata Nani.
“ Tidak ada, selain pembantu yang baru 3 bulan bekerja di rumah Ibu.” sahut Ibu kami.
“Apakah ia berasal dari Kuningan?” kata Nani kemudian.
“Iya benar, ia berasal dari sana.” kata Ibu.

Ibu memanggil si Bibi yang bersusia setengah baya.
“Bibi, apakah bulan yang lalu pernah mempergunakan telepon kami?
“Tidak Nya, saya tidak pernah.” sahut si Bibi.
“Bi, berkatalah dengan jujur. Bibi berasal dari Kuningan. Tagihan telepon bulan ni besar sekali dan pernah dipakai untuk interlokal ke Kuningan sebanyak enam kali dan Surabaya dua kali. Apakah Bibi telah memepergunakan telepon di rumah ini?” Ibuku berkata dengan sengitnya.
Si Bibi terdiam sejenak dan ketika perbuatannya diketahui Ibu kami, ia menjawab ”Betul, Nyah saya memakainya.”
Ibu kami berkata lagi “Bi, kalau mau pinjam telepon boleh saja, tetapi bilang dulu, sebab biaya interlokal itu mahal.”
Si Bibi mendadak njeletuk “Kalau begitu saya maling ya.”
Nani cepat menjawab “Kami tidak berkata begitu, BI Yang bilang maling si Bibi sendiri.”

“Kami keberatan kalau tagihan biaya interlokal itu, kami yang membayar.” Kata Ibu.
Si Bibi menjawab dengan entengnya “Biarlah gaji saya dipotong dengan cara mencicil biaya telepon itu Nyah.”
Rupanya si Bibi berbicara dengan salah satu anaknya dan ketika satu kali perbuatannya tidak diketahui dan tidak ada teguran dari Nyonya rumah, Bibi melakukan lagi sampai beberapa kali. Dikiranya perbuatannya itu tidak diketahui oleh siapapun. Benar Ibuku tidak mengetahui, tetapi program komputer di Kantor Telepon mencatat semua pulsa yang dipakai oleh setiap pemilik nomer tepeon secara 24 jam sehari.
Ibu berkata kepada si Bibi “Kalau begitu mulai bulan depan gaji Bibi akan dipotong cicilan biaya telepon selama lima kali.”

Setelah kejadian itu tidak ada lagi keluhan besarnya tagihan biaya telepon di rumah Ibu. Pesawat telepon itu akhirnya dilindungi dengan kotak telepon yang dapat di kunci sehingga dengan demikian telepon itu hanya dapat menerima saja dan kalau hendak bicara kepada orang lain kami harus membuka kunci gembok becil terlebih dahulu.





Pak Mamad

 Suatu sore terdengar dering bel Ruang periksa saya. Setelah pintu terbuka, aku melihat seorang Bapak yang sudah kukenal sebagai pasien lama dan sangat akrab denganku.
“Selamat sore, Dok,” katanya.
“O... Pak Mamad, jangan panggil Dokter, panggil saja namaku, Pak . Mari masuk.” Aku mempersilahkannya masuk Ruang Periksa.
“Ada keluhan apa Pak?” aku bertanya.
“Biasalah, pusingnya kumat lagi.”

 Segera aku memeriksa pasienku ini. Tekanan darahnya 160/90 mmHg, denyut jantung lebih cepat dari normal, berat badan 80 Kg, lain-lain normal. Dibandingkan 10 tahun yang lalu, tekanan darahnya normal 120/80 mmHg, berat badan 60 kg, tidak teralu jelek untuk tinggi badan 167 Cm. Makin bertambah umur manusia cenderung akan mengalami kenaikan tekanan darah dan berat badan bila pola hidup dan pola makan tidak dijaga ketat. Sosial ekonomi Pak Mamad biasa-biasa saja. Mungkin ada faktor genetik sehingga badannya sekarang menjadi gemuk. Ia dan isterinya satu rumah dengan putra / anak sulungnya yang bekerja di sebuah toko telepon genggam. Dua orang putrinya lainnya sudah berkeluarga dan mengikuti suaminya yang tinggal satu kota.

“Tekanan darahnya sedikit tinggi, Pak. Apa ada masalah keluarga?” saya bertanya kepada Pak Mamad.
“Masalah sih tidak ada, tetapi semalam saya kurang tidur.”
“Mengapa susah tidur?” aku bertanya.
“Gigi geraham saya berlubang. Saya sudah berobat ke Puskesmas di dekat rumah tetapi sakit. Hari ini saya mau ke Puskesmas lagi. Mungkin perlu ditambal.”

 Sebuah gigi yang ukurannya relatip kecil bila dibandingkan dengan organ tubuh lainnya dapat menyebabkan seseorang menderita. Bila tidak segera diobati, akan menyebabkan gangguan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, marah-marah, tidak selera makan dsb.

“Pak Mamad, ini resepnya.” Saya memberikan resep untuknya berupa anti pusing dan sedikit penenang generik .
“Belilah di apotik terdekat.” Sambil menyerahkan resep obat dan 2 lembaran uang dua puluh ribuan kepadanya.
“Wah terima kasih nih. Sudah diberi resep obat, bahkan diberi uang lagi. Semoga hari ini banyak pasiennya, Bud.” Kata Pak Mamad sambil tersenyum meninggalkan Ruang Perikaku.
“Amin.” Aku mengamininya.
“Hati-hati di jalan, ya Pak.” Kataku.

-----

 Tahun 1954 memasuki kelas 1 SD Zending school ( SD Kristen, Jl. Kromong Cirebon ), saya masuk sekolah sore hari mulai pukul 13.00 – 17.00. Jarak rumah kami dengan sekolahku cukup jauh, sekitar 3 km. Ayahku bekerja sebagai petugas pembukuan di sebuah toko kelontong. Ibuku menerima jahitan pakaian wanita dan dibantu seorang tukang jahit. Orang tuaku praktis tidak dapat mengantar dan menjemputku pulang dari sekolah setiap hari. Tugas antar-jemput ini diserahkan kepada Pak Mamad. Sekarang istilahnya Tukang ojek sepeda. Aku dudak dibelakang sepeda ayahku yang dikayuh oleh Pak Mamad. Saat itu sepeda motor dan mobil masih sangat sedikit jumlahnya.

 Pekerjaan Pak Mamad sebenarnya adalah Montir truk. Pamanku dan ayahku mempunyai 2 buah truk angkutan barang Cirebon – Jakarta. Umur truk yang sudah tua, jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan Pantura yang seperti kubangan kerbau menyebabkan Truk itu hampir selalu harus diperbaiki setelah mengantar barang ke Jakarta dan kembali ke Cirebon. Truk tersebut disimpan di sebuah garasi dengan halaman yang cukup luas diseberang rumah kami ( sekarang telah menjadi T.K. Kristen, Jl. Merdeka ). Paman menyewa tanah itu dari seorang Bapak Haji, tetangga kami.

Suatu sore setelah jam pelajaran selesai, aku mencari-cari Pak Mamad yang biasanya sudah menunggu di halaman SD. Sampai semua murid SD pulang, Pak Mamad masih belum muncul juga. Hari makin gelap karena awan hitam menutupi sinar sang Surya. Aku ingin naik becak, tetapi aku takut dimarahi Ibuku dan takut diculik karena aku belum paham benar jalan-jalan di kotaku saat itu.

Di depan SD aku menangis, takut, marah karena jemputan tak kunjung tiba. Tak seorangpun lagi berada di depan SDku. Rupanya Ibuku saat itu juga merasa ada yang aneh, mengapa sudah sore begini aku masih belum pulang dari sekolah dan belum berada di rumah.
“Pak Mamad, mengapa Budi belum dijemput? Sekarang sudah lewat waktu jemputan.” tegur Ibuku kepada pak Mamad.
“Pasang ban Truk ini masih belum selesai dan malam ini truk akan berangkat ke Jakarta, Bu.” Jawab Pak Mamad.
“Iya sekarang saya, akan jemput Budi di sekolah.”
Aku menggerutu selama waktu yang ditempuh sepeda Pak Mamad menuju SDku. Apa jadinya nanti bila aku benar-benar tidak dijemput?

“Sudah jangan menangis lagi, Bud. Saya lupa menjemput. Mari kita pulang.” bujuk Pak Mamad kepadaku.
Kejadian seperti itu terjadi beberapa kali, tetapi kali yang kedua dan seterusnya aku tidak menangis lagi. Aku sudah menghafalkan route jalan dari SD ke rumahku dan sebaliknya. Bila jemputan terlambat lagi aku akan pulang jalan kaki saja. Aku malu diledek tukang nangis oleh Pak Mamad. Saat itu ia tidak menyangka bahwa anak tukang menangis ini kelak menjadi seorang Dokter dan dimasa tuanya anak ini bisa mengobati penyakit tuanya.

-----

 
Waktu berjalan dengan cepat, aku lulus menjadi Dokter, menikah dan mempunyai 2 orang putra dan putri. Saat ini aku sudah pensiun dari Departemen Kesehatan R.I. Umurku sudah 58 tahun, putra kami sudah lulus juga sebagai Dokter Umum dan tahun depan adiknya akan diwisuda juga. Aku merasa sudah S2 ( Sudah Sepuh ). Sudah waktunya alih generasi.

Bila bertemu dengan Pak Mamad, saya bersyukur bahwa ia masih diberi umur yang panjang, sepanjang umur Ibuku saat ini, 78 tahun. Mereka diberi umur yang panjang. Sayang ayahku sudah dipanggil Tuhan 13 tahun yang lalu akibat serangan Stroke, tidak bisa lagi ngobrol dengan Pak Mamad montir pamanku. Hari-hari tertentu atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pak Mamad mampir ke tempatku hanya untuk ngobrol-ngobrol atau berkonsultasi tentang kesehatannya. Tak lupa saya memberikan uang transport yang ia terima dengan senang hati. Lumayan katanya untuk beli beras, teh kesukaannya dan makanan burung Perkututnya.

Kring…….aku terkejut mendengar bel pintu Ruang Periksa ditekan oleh pasien berikutnya.






Sabtu, 25 Juli 2009

Manula

Hari ini 29 November 2005, genap 1 tahun aku memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Panti Wreda Kasih GKI Pengampon Cirebon yang terletak di daerah Perumnas Cirebon.

Aku mendapat Surat Penugasan dari Majelis Jemaat GKI Pengampon untuk melaksanakan pelayanan kesehatan disana. Teman Sejawat Dr. Y. tidak dapat melayani di tempat ini lagi, karena mendapat tugas di suatu Instansi Kesehatan di Kabupaten Cirebon. Oleh karena itu untuk mengisi kekosongan Tenaga Medis, aku mendapat tugas tsb. Selain aku masih ada Teman Sejawat Dr. K. yang secara bergantian kami memberikan pelayanan pada setiap hari Sabtu pukul 11.00 - 12.00.

Semasa lokasi Panti Wreda ini di daerah Kejawanan, aku juga pernah memberikan pelayanan kesehatan, setelah Teman Sejawat seniorku yaitu Dr. A. B. dipanggil Tuhan. Untuk mendapatkan daya tampung yang lebih besar maka lokasi Gedung Panti dialihkan ke daerah Perumnas. Lokasi yang tenang dan udara yang bersih maka tempat ini lebih nyaman untuk ditempati.

Tidak adanya Catatan Kesehatan ( Medical Record ) yang memadai mendorong aku membuat Kartu Medrec yang ditempeli Pasfoto masing-masing warga Panti, sehingga lebih mudah mengenali pemiliknya. Hobi fotografiku banyak bermanfaat dalam pengambilan pasfoto tsb.

Setiap hari Sabtu tertentu, supir Gereja dengan rajin menjemputku dan mengantarkan pulang dari rumahku ke Gedung Panti. Sepulang dari Panti aku hampir selalu membeli buah-buhan Nangka, Pepaya atau lainnya di kios buah di depan Pasar Perumnas. Bila kami pergi bersamaa dengan Ibu Kun, uangku tidak laku untuk membayar harga buah yang aku beli karena sudah dibayar oleh beliau. Terkadang aku malu dibuatnya.

Di masa pensiunku dari Departemen Kesehatan aku masih buka praktek swasta di rumahku pada pagi dan sore hari. Uang gaji pertama sebagai PNS dan pensiun yang aku terima setiap tanggal 2 selalu aku berikan kepada Ibuku untuk membiayai segala kebutuhan rumah orang tuaku. Sudah sewajarnya bila aku mengembalikan uang orang tuaku yang sudah dipakai untuk membesarkan, menyekolahkan aku, dikembalikan lagi kepada beliau. Kami masih diberi rejeki oleh Tuhan dari hasil parktek swasta. 

Umur Ibuku sudah mencapai 78 tahun. Ayahku sudah dipanggil Tuhan 13 tahun yang lalu setelah sakit Stroke dan mengalami koma selama 3 hari. Seperti lazimnya Manula, Ibuku sering mengeluh sakit seluruh badan yang merupakan gejala Osteoporosis ( keropos tulang ), penglihatan tidak jelas akibat penyakit Katarak. Beberapa tahun yang lalu kedua Lensa matanya sudah dioperasi dan diganti Lensa buatan. Keluhan Telinga mendesing ( Tinitus ) juga kadang kala dikeluhkan Ibuku. Dengan pengobatan yang kuberikan kepada Ibuku, keluhannya tidak banyak lagi. Aku membayangkan kalau aku diberi umur panjang oleh Tuhan, maka aku juga akan mengalami keluhan-keluhan seperti itu.

Ketika aku memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Manula di Panti Wreda. Keluhan-keluhan yang dilontarkan mereka sudah sangat hafal aku bagiku, mirip dengan keluhan Ibuku. Rata-rata umur warga Panti Wreda diatas 60 tahun. Sudah mempunyai KTP seumur hidup. Sering kali umur panjang tidak diikuti dengan tingkat kesehatan yang memadai, bahkan menurun banyak sesuai dengan meningkatkan umur.

Sering kali aku bertanya kepada masing-masing warga Panti. 
“Tadi pagi apakah sarapannya dihabiskan?”
Kalau jawabanya “ Habis, dok”. Aku senang karena orang yang masih mau makan maka ia masih punya keinginan dan harapan untuk hidup.
Harapan? Ya harapan. Kita perlu berharap agar Tuhan masih memberikan kehidupan agar hidup kita masih ada gunanya bagi orang lain. Berbahagialah mereka yang masih mau makan, karena mereka masih berharap diberi kehidupan oleh Tuhan. Bila seseorang yang sakit khronis sudah tidak mau makan selama 2-3 hari, ia mempunyai Prognosa ad malam ( harapan sembuh yang jelek ). Umurnya tidak akan lama lagi.

 Sering kali aku dipanggil keluarga pasien untuk memeriksa kesehatan salah satu anggota keluarganya. Biasanya sakit Stroke yang sudah bertahun-tahun, Kanker stadium lanjut, atau penyakit khronis lainnya. Begitu melihat tubuhnya yang sudah kurus, kulit membalut tulang saja, aku trenyuh melihatnya. 
Timbul pertanyaan di dalam hatiku “Mengapa Tuhan membiarkan mereka hidup menderita seperti itu selama bertahun-tahun?” Adakah rencana Tuhan yang kita tidak ketahui? Apakah tidak lebih baik bila Tuhan segera memanggil mereka segera agar penderitaanya segera berakhir dan biaya hidup kelurganya tidak dibebani biaya obat, rumah sakit dll yang sangat besar? Hanya Tuhan yang tahu.

---
 Sabtu siang itu terasa hangat menjengat, maklum udara kotaku tergolong panas seperti layaknya daerah di Pantura Jawa. Entah mengapa aku ingin minum air teh hangat sambil memeriksa kesehatan warga Panti Wreda. Tak lama kemudian pesananku tiba dan terletak diatas mejaku. Segera tanganku secara refleks kutarik dari gelas teh tsb. Panas sekali. Mana bisa aku minum air sepanas itu? Harapanku meminum air teh hangat tidak terkabul. Sejak saat itu aku usahakan agar di dalam tasku, aku membawa sebotol plastik air minum. Rasanya lebih enak bila aku tidak usah merepotkan orang lain hanya untuk minum.

 Pekerjaanku masih belum selesai, masih ada 3 orang yang belum kuperiksa. Udara kamar pemeriksaan yang sempit membuat aku merasa tidak nyaman. O.. rupanya pesawat AC tidak bekerja lagi. Hanya udara hangat yang berhembus karena Fan outdoor tidak berputar karena aliran strom listrik terganggu.

“Yong, Ayong…..” aku memanggil Ayong, salah satu warga Panti.

“Ada apa, Dok?”

“Tolong pinjam Kipan angin yang di ruang makan dibawa kemari. Disini udara panas sekali.”

Hembusan udara terasa sedikit menyejukkan badanku. Aku sudah melaporkan kepada Pak S. dan Ibu R. sedikitnya sudah empat kali, tetapi setelah diperbaiki AC tidak berfungsi lagi ketika akau melakukan tugas pelayanan di Panti. Aku harus puas dengan keadaan di ruang pemeriksaan kesehatan itu. Keadaan yang tidak nyaman menyebabkan aku tidak dapat berkonsentrasi memeriksa kesehatan pasien. Keadaan berubah setelah di dalam Rapat Pleno Majelis Jemaat dibahas tentang kerusakan AC ini. AC dapat menghembuskan udara yang sejuk, meskipun tidak sesejuk udara di Gunung Guci, tapi lebih baik dari pada hembusan Kipas angin. Aku berterima kasih kepada petugas yang telah menghidupkan AC ini dari keadaan koma selama beberapa minggu.

---

Ema S, 71 tahun dengan berat badan 30 Kg, mengeluh sering batuk dan sesak nafas. Dari Foto yang pernah dibuat ternyata ia menderita Bronchitis khronis ( radang paru menahun ) dan Cardiomegalia ( pembesaran jantung ). Kami memberikan pengobatan antibiotika, anti sesak nafas, tablet penguat Jantung dan macam-macam Vitamin & Mineral. Keadaan kesehatannya tidak membaik bahkan berat badan makin menurun. Dalam 3 bulan menjadi 27 Kg. Selera makan menurun banyak, makan 2 suap lalu berhenti. Sesak nafas tidak berkurang, susah tidur. Aku mempunyai firasat mungkin sebentar lagi akan dipanggil Tuhan. Semua obat tetap diberikan.

Siang itu aku didaulat oleh Ibu P. untuk mewakili Pengurus Panti Wreda dalam acara perpisahan kerja praktek para mahasiswa STIKES dari Kabupaten Cirebon. Semula aku menolak sebab kapasitasku bukan sebagai Pengurus Panti tetapi hanya sekedar pelayan kesehatan. Aku melihat roman muka Ibu P. yang sudah putus asa sebab panggilan melalui telepon kepada semua para Pengurus, tidak satupun yang dapat hadir ketika mereka dibutuhkan. Sedikitnya ada 5 orang yang termasuk Pengurus tetapi tidak ada satupun yang dapat hadir ketika diperlukan.

Akhirnya aku berprinsip “Tiada rotan, akarpun jadi.” 
Aku menyatakan kepada Ibu P. “ Kalau tidak ada Pengurus Panti, biarlah aku yang mewakili dalam acara penting ini.” 
Acara perpisahan berjalan mulus, bahkan kami dapat mengambil foto bersama. Para mahasiswa memberikan 2 bungkusan besar sebagai kenang-kenangan untuk Panti Wreda. Salah satu bungkusan itu konon sebuah Rice cooker, untuk memasak Nasi.

“Dok, Ema S. saat ini makin parah dan tidak mau bangun” begitu laporan salah satu Suster Panti. Aku sempatkan masuk ke kamar Ema S. Keadaannya makin parah, pernafasan sudah makin lambat dan denyut Jantung melemah. Rupanya waktu jemputan makin mendekat. Tak banyak yang dapat kami lakukan selain meminta datang keluarganya yang berdomisili di Jatiwangi (?) dan berdoa.

Keesokan harinya ada telepon yang mengatakan bahwa Ema S. sudah dipanggil Tuhan. Dengan mobil Gereja aku, Bapak & Ibu Pdt T. dan Ibu K. pergi ke Panti Wreda. Setelah meyakinkan ketiadaan Ema S. , aku membuat Surat Keterangan Kematian yang dibutuhkan untuk proses pemakamannya. Selamat jalan Ema S….

Berkali-kali aku melihat seseorang rekan atau pasien masih sehat dan berkali-kali pula aku melihat mereka sudah meninggalkanku dengan cepat. Tadi pagi aku masih bersalaman degan Pak R. tetapi selang 8 jam kemudian aku mendengar ia telah tiada karena mobilnya ditabrak kereta api. Yang lain menderita bertahun-tahun, tetapi ada juga hanya dalam bilangan menit sudah dipanggil Tuhan. Siapapun, apapun pangkatnya, dan berapapun banyak hartanya, tetapi kalau sudah saatnya tiba, tidak akan ada satu kekuatan apapun yang dapat menghalangiNya.

Sebelum ajal tiba, aku ingin berbuat baik dan menolong orang lain, seperti kalimat:

Bila ingin bahagia beberapa jam, pergilah memancing.

Bila ingin bahagia sebulan, menikahlah.
Bila ingin bahagia selamanya, tolonglah orang lain.








Kebutuhan Hidup


Setelah lulus SMP di sebuah kota kecil, aku melanjutkan sekolah di salah satu SMU di kota yang lebih besar yang berjarak 100 km dari kota kelahiranku. Aku tinggal di rumah Pamanku, Dr Hendra, seorang dokter umum. Pamanku mempunyai seorang isteri, 3 orang anak. 2 putranya yang sudah menyelesaikan SMU mereka dan melanjutkan sekolah di SMU dan Perguruan Tinggi di kota lain. Anak yang bungsu, Titin, seorang putri yang masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Pamanku sudah memasuki masa pensiunnya dari Pegawai Negeri Sipil di Departemen Kesehatan. Meskipun sudah pensiun Pamanku masih tetap melakukan praktek swasta pada pagi dan sore hari di bagian samping rumah. Pagi dan sore hari Pamanku sibuk menggeluti profesinya sebagai dokter dalam melakukan pelayanan kesehatan. Kadang-kadang ada keluarga pasien yang memanggil Paman untuk memeriksa salah satu anggota keluarganya yang sakit di rumahnya.

Keluarga Pamanku mempunyai seorang supir, Pak Toto. Seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan yang sudah bekerja sejak sebelum aku tinggal di rumah Paman. Pak Toto sikapnya cukup sopan dan ramah kepada anggota keluarga Pamanku. Ia pernah bercerita bahwa ia harus menanggung biaya hidup keluarganya yang lima orang, termasuk ia sendiri, isterinya dan ketiga putra-putrinya yang masih duduk di SD. Mempunyai seorang Supir berarti mempunyai tanggung jawab kepada sebuah keluarga. Tugas Pak Toto selain membersihkan mobil sedan Paman, juga mengantar Ibu belanja, mengantar dan menjemput Titin sekolah.

“To, mobil sudah dibersihkan?” tanya Pamanku kepada Pak Toto, suatu pagi hari.
“Sudah Pak.” Jawabnya.
“Sebelum menjemput Titin di sekolah, antarkan Ibu. Ibu akan mengunjungi salah seorang temannya yang sedang sakit.”
“Baik Pak, tapi…”
“Tapi apa ..To” kata Paman.
“ Kalau boleh saya mau pinjam uang ” kata Pak Toto.

“ Untuk apa uang itu dan berapa?” sahut Pamanku.
“Lima puluh ribu, untuk memperbaiki atap rumah kami yang bocor,” kata Pak Toto.

Aku mendengar pamanku berbisik kepada Bibiku “ Hutangnya yang tiga ratus ribu belum lunas, sekarang mau pinjam lima pulu ribu lagi.”
Meskipun demikian Pak Toto masih dapat menerima pinjamannya tadi yang akan dipotong secara mencicil setiap bulan kepada Paman.

Beberapa bulan kemudian menjelang ujian akhir, suatu malam ketika aku melintas ruang keluarga Paman, aku mendengar Paman berkata kepada Bibiku “Hutang Toto sudah mencapai tujuh ratus ribu. Setiap bulan ketika aku mau memotong uang gajinya, ia selalu berkata, bulan ini jangan dipotong Pak. Kami memerlukan untuk biaya berobat anaknya lah, untuk beli buku sekolah anak-anaknya lah dan lain-lain.
“Apa Bapak sudah memperingatinya?” sahut Bibiku.
“Sudah sih sudah, tapi sepertinya Toto tidak mau mengerti tuh”, sahut Paman dengan sengit.
“Apa lebih baik kita berhentikan saja supir kita itu? kata Paman.
“Kalau diberhentikan bagaimana denganku Pak. Aku kan tidak bisa mengemudikan mobil.” Bibiku menjawab dengan lemah.
“Begini saja, besok Ibu ikut Kursus Mengemudi selama 1 bulan. Setelah mahir mengendarai dan mempunyai Surat Ijin Mengemudi, Toto kita berhentikan dari tugasnya. Dengan demikian pengeluaran bulanan kita menjadi lebih irit. Biaya sekolah si Nanang dan Nono di SMU dan Universitas juga makin membesar, karena uang sekolah dan kuliah mereka makin naik.
“Kalau begitu aku setuju” jawab Bibi.

Dalam bulan berikutnya aku tidak begitu memperhatikan perkembangan di dalam rumah Pamanku, maklumlah karena aku sibuk dengan persiapan ujian akhirku.
Suatu siang Paman tampak marah besar.
“Bu coba pikir, apa aku yang salah atau si Toto yang bikin gara-gara” kata Pamanku kepada Bibi.
“Ada apa sih Pak, kok marah-marah begitu “ Bibiku bertanya kepadanya.
“Tadi pagi, aku dapat panggilan dari pasienku. Setelah selesai memeriksa pasien di rumahnya dan ketika baru saja aku duduk di jok belakang mobil, Toto berkata “Bagian saya mana Pak?”
“Bagian apa, To” Paman balik bertanya.
“Bapak kan baru saja mendapat uang setelah memeriksa pasien tadi, saya yang antar Bapak ke rumah pasien itu. Jadi saya harus kebagian dong. “
Paman mejawab “Pak Toto kan sudah mendapat gaji dari saya setiap bulan. Saya pergi kemana, pergi ke rumah pasien atau lainnya, saya pikir itu hak saya dan pak Toto sudah saya bayar dan tidak perlu menuntut uang apa-apa lagi dari saya.”

Entah dari siapa bisikan yang meracuni pikiran Pak Toto itu, sehingga ia menagih uang ketika majikannya mendapat bayaran dari pasiennya.
Paman berpikir hutangnya sudah banyak dan enggan membayar cicilan setiap bulan, sekarang mau bikin gara-gara lagi.

Bibiku turut emosi juga dan merasa ia sudah dapat mengemudikan mobil dan sudah mempunyai SIM, lalu memihak suaminya “Pak, saya kira pak Toto tidak perlu kita pelihara lagi. Lebih baik diberhentikan saja.”

Akhir bulan saat gajian supir Pamanku dipanggil menghadap dan terjadilah pembicaraan “To, ini gaji bulan sekarang dan mulai besok, artinya bulan berikutnya Pak Toto tidak usah bekerja pada kami lagi.”
“Kalau Bapak sudah tidak membutuhkan tenaga saya lagi, baik. Saya bisa cari kerja di orang lain” kata Pak Toto.
“Silahkan cari kerja di tempat lain, tetapi bagaimana hutang Pak Toto yang tujuh ratus ribu yang belum lunas?” tanya Pamanku.
“Saya akan bayar hutang saya, kalau saya sudah punya uang” jawab pak Toto dengan entengnya. 
Mungkin ia sudah ancang-ancang kalau ia diberhentikan, ia sudah ada tempat yang akan menampungnya dan ia bikin gara-gara agar ia diberhentikan yaitu dengan meminta uang setiap Pamanku mendapat panggilan dari pasiennya.

Hutang tinggal hutang. Sampai aku meninggalkan rumah Paman untuk melanjutkan sekolahku di Perguruan Tinggi di kota lain dan pada saat aku berkunjung ke rumah Paman, satu tahun kemudian, kata Bibi hutang Pak Toto masih belum dilunasi.