Jumat, 10 September 2010

Ikan


Ketika saya utak-atik Blogger.com ternyata ada fasilitas “Fish”. Saya manfaatkan untuk meramaikan penampilan di Blog Kumpulan Cerpen ini.

Pada sebelah kanan tampilan Blog tampak 8 ekor ikan Mas dan 1 ekor ikan Hitam. Mereka aktip “berenang”. Bila kita klik Mouse di dekat Ikan-ikan tsb , maka akan terbentuk sebuah titik hitam. Klik berulang-ulang akn memunculkan sejumlah titik sebanyak klik yang kita buat.

Bintik-bintik Hitam itu seakan-akan makanan bagi mereka. Ikan-ikan itu akan berebutan melahap makanan yang kita berikan kepada mereka.

Ketika saya jenuh dengan kehidupan sehari-hari, maka dengan memberi makan kepada ikan-ikan itu, maka saya menjadi terhibur. Terkadang saya sudah beberapa hari tidak berkunjung ke “akuarium” itu dan lupa memberi makan ikan-ikan itu, tetapi mereka tetap hidup. Badan mereka tidak bertambah kurus karena tidak diberi makan dan mereka tidak bertambah besar / gemuk meskipun setiap hari diberi makan.

Bila anda berkunjung ke Blog saya ini, silahkan klik-lah Mouse anda berulang-ulang untuk memberi makan ikan-ikan saya. Terima kasih atas kesediannya.

Salam sukses.

Selasa, 23 Maret 2010

Menolak rejeki






Sebagai salah seorang karyawan suatu perusahaan swasta, aku berpenghasilan cukup memadai untuk menghidupi keluargaku dengan seorang isteri dan seorang putri.

Pada musim hujan seperti sekarang, rumput liar mudah sekali tumbuh di halaman depan rumah kami dan di tepi trotoar. Pada hari libur / Minggu saya sering membersihkan halaman dan mencabuti rumput di halaman depan. Sudah setahun cat pagar rumah kami sudah banyak yang terkelupas akibat teriknya sinar matahari dan derasnya air hujan yang turun saat ini.

Terpikir olehku untuk meminta seseorang yang dapat mengerjakan pekerjaan itu. Aku teringat kepada Pak Kosim yang sering datang untuk meminta pekerjaan kepada kami. Pak Kosim, 35 tahun dan isterinya bekerja sebagai penunggu sebuah kantor swasta di dekat rumah kami. Tugasnya menunggui Kantor itu, membersihkan dan menyediakan air minum untuk ara karyawan yang bekerja di kantor tsb. Pekerjaannya tidak berat, sehingga ada banyak waktu bagi Pak Kosim untuk mengerjakan pekerjaan sambilan di saat senggangnya.

Uang tabungan Pak Kosim sering dibelanjakan untuk membeli sebuah sepeda bekas dan kemudan dijual lagi bila dirasa ada keuntungan. Di depan kantor tempat ia bekerja ada banyak orang yang berjualan sepeda dan barang-barang rumah tangga lainnya.

Suatu hari Sabtu pagi ketika saya akan pergi ke tempat pekerjaan saya, saya sengaja mengunjungi Pak Kosim. Kebetulan Pak Kosim sedang menyapu halaman kantor tempat ia bekerja.

“Pak Kosim, ada pekerjaan nih. Bisa bantu saya?” saya berkata kepada Pak Kosim.

Pak Kosim menjawab “ Wah senangnya saya kalau dapat pekerjaan sambilan. Kapan Pak? “

Saya berkata lagi “Kalau ada waktu datanglah besok pagi ke rumah kami. Tugas Pak Kosim mencat pagar halaman rumah kami dan mencabuti runput liar di tepi trotoar.”

Saya pikir Pak Kosim akan menyanggupi permintaan saya, tetapi jawaban Pak Kosim ternyata katanya ia harus mengantar isterinya ke rumah salah satu saudaranya yang sedang sakit sehingga ia tidak dapat bekerja di rumah kami. Kalau hari kerja, Pak Kosim menjawab tidak bisa sebab ada tugas dari tempat ia bekerja. Entah tugas apa. Jadi Pak Kosim saat ini hanya dapat bekerja pada hari Minggu saja.

Saya pikir hari Minggu pagar rumah kami selesai di cat kembali, Jadi cukup hanya kerja 1 hari saja, tetapi ternyata Pak Kosim tidak mau mengerjakan tugas tsb. Padahal dengan bekerja sambilan di rumah kami ia akan mendapat uang ekstra bagi keluarganya.

Saya membatin berbuat kebaikan juga tidak mudah ya.
Akhirnya saya putuskan untuk mencari seorang Tukang yang mau bekerja keesokan harinya yaitu pada hari Minggu. Ternyata Pak Sidik menyanggupi untuk bekerja di rumah kami pada hari Minggu itu. Rejeki yang semula akan diberikan kepada Pak Kosim akhirnya berpindah ke tangan Pak Sidik. Sejak itu kalau ada perkerjaan di rumah kami, saya ogah minta bantuan Pak Kosim lagi.

Minggu, 21 Maret 2010

Manfaat lain nginap di Rumah sakit






Aku seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta. Di umur ini 40 tahun aku bekerja sebagai tenaga administrasi. Pemilik perusahaan ini adalah teman ayahku sehingga aku tidak sukar bekerja di perusahaannya. Aku betah bekerja selama 5 tahun dengan gaji yang layak untuk dapat menghidupi keluargaku. Isteriku bekerja sebagai seorang Guru sebuah Taman Kanak-kanak di kota kami.

Kami mempunyai 2 putra, Alimin, 10 tahun dan Sidik 8 tahun. Mereka mengikuti pendidikan di sebuah SD yang tidak jauh dari rumah kami. Rumah sederhana ini adalah pemberian dari ayahku. Aku bersyukur kepada Tuhan bahwa keluarga kami diberkati keadaan tubuh yang sehat dan hidup layak. Untuk transporatasi sehari-hari kami menggunakan sebuah sepeda motor yang kami beli dengan mencicil. Setiap pagi aku mengantar isteriku ke tempat tugas dan anak-anak pergi ke sekolah mereka dengan berjalan kaki.

Suatu hari ketika bangun tidur aku merasa tubuhku lemas, sedikit demam, padahal kemarin aku masih sehat. Pulang dari kantor tubuhku makin demam. Aku berobaat kepada seorang dokter praktik umum yang terdekat dengan rumah kami. Aku dianjurkan agar dilakukan pemeriksaan darah. Hasil pemeriksaan darahku, menunjukkan aku menderita Tipes. Dokter menyarankan agar aku dirawat di Rumah Sakit. Setelah berunding dengan keluargaku, aku dirawat di Rumah Sakit Umum di kotaku. Beruntung bos-ku bersedia membiayaiku perawatan di RS.

Ah…ternyata menjadi pasien ternyata tidak enak. Badan demam, lesu, tidak selera makan dan yang lebih parah lagi aku tidak dapat berkumpul untuk sementara dengan keluargaku. Setiap sore isteri dan kedua anak kami menengok aku di Rumah Sakit. Demam akan muncul ketika sore hari dan malam hari, pada pagi hari demam menurun. Aku minum beberapa macam obat yang diberikan oleh dokter Herman yang merawatku.

Sakit dapat diderita oleh siapa saja. Kalau bisa jangan sakit sebab sakit pada saat ini merupakan suatu kemewahan bagi kebanyakan orang. Biaya berobat atau perawatan di Rumah Sakit akan banyak menyedot biaya.

Berbaring di bed dalam waktu beberapa hari membuat aku tidak betah. Dari pada aku membuang waktu aku akan mencoba menukis dikala aku tidak demam.

“Santi, tolong bawakan aku sebuah buku dan sebuah ballpoint untuk aku menulis,” kataku kepada suatu sore kepada usteriku.

“Pak untuk apa?” jawab isteriku.

“Aku ingin menulis di kala aku tidak demam. Aku tidak betah kalau diam saja berbaring menunggu aku sembuh.” Aku menjawab.

Isteriku berkata lagi “Menulis? Tumben kalau di rumah tidak biasanya bapak menulis. Iya sudah besok aku bawakan. Semoga tulisan bapak dapat berguna.”

Sepulang mereka membesuk aku sore itu dan melahap jatah makan malam aku teringat akan sebuah kata yang aku baca dari sebuah buku yang berbunyi demikian ”Menulis adalah salah satu cara untuk menghilangkan Stres.”

Stres? Benar, aku mengalami Stres juga dikala aku di rawat di Rumah Sakit ini.
Aku mencoba menulis, tetapi mau menulis apa? Akhirnya aku menulis Diary, sebuah catatan harian selama aku masuk Rumah Sakit ini. Tidak terasa tulisanku sudah mencapai sepuluh halaman buku tulis yang diberikan oleh isteriku. Kecapean aku menulis, membuatku tertidur dengan lelap. Aku bangun keesokan harinya dengan badan agak segar. Demamku sudah tidak ada lagi setelah aku dirawat selama 4 hari.

Ketika Dokter Herman datang memeriksaku pagi itu, aku bertanya apakah aku sudah boleh pulang? Setelah melihat catatan grafik suhu tubuhku yang sudah normal, ia berkata “Pak Abidin, besok bapak boleh pulang.”

Ah…betapa senangnya. Aku sudah boleh pulang berarti aku sudah mulai sembuh, meskipun dokter menyarankan agar aku perlu istirahat 1-2 hari lagi di rumah. Isteriku dan kedua putra kami juga gembira, kalau aku sudah boleh pulang ke rumah besok pagi.

Sepulang dari Rumah Sakit, kebiasaanku membuat tulisan semakin gemar aku lakukan. Bahkan aku belajar dari teman sekantor untuk membuat sebuah Blog di Internet. Dari Buku-buku panduan yang aku pinjam dari temanku ini, aku mulai membuat sebuah Blog pribadi. Artkel-artikel yang aku posting ke Blog-ku berkisar antara pengalaman-pengalaman yang aku alami sejak kecil samai aku berkeluarga.

Aku membeli sebuah Laptop bekas untuk menunjang penulisan Blog di Internet. Kegiatan mengakses Internet ini mempunyai hikmah lain yaitu aku jadi dapat berkomunikasi dengan teman-teman seolah ku semasa di SMU melalui email. Di kala senggang kedua putra kami juga ikut belajar Internet.

Aku bermimpi suatu saat kelak aku dapat membeli sebuah Laptop lagi agar keluarga kami dapat mengakses Internet. Pendidikan anak-anak kami juga akhirnya nanti akan mempergunakan komputer / Laptop. Isteriku yang semula tidak menyetujui rencanaku, akhirnya juga ikut menikmati browsing di Internet untuk mencari berita atau hiburan.

Ternyata hikmah dari aku nginap di Rumah Sakit adalah keluarga kami rajin menggunakan Laptop dan mengakses Internet.

Mirip slogan Coca-cola, Internet dapat dilakukan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja alias 24 jam.

Sabtu, 13 Maret 2010

Doa yang tulus



Aku menikah 3 tahun yang lalu dan diberkati seorang putra 1 tahun. Kami tinggal di sebuah rumah pemberian Mertua. Sosial ekonomi mereka tergolong lebih mampu dari pada sosial ekonomi keluargaku.

Aku bekerja di sebuah Bank swasta di kotaku. Gajiku setiap bulan cukup untuk membiayai keluargaku. Tahun yang lalu terjadi suatu musibah yang tidak aku duga. Pihak Mertuaku meminta aku agar menceraikan isteriku. Proses perceraian di Pengadilan sudah disiapkan. Mungkin Mertuaku kurang berkenan mendapat menantu yang hanya seorang karyawan dan ingin agar putrinya dinikahkan dengan pria lain yang lebih mapan. Akhirnya kami berpisah dengan isteri dan putraku tercinta. Dunia ini aneh, apa saja dapat terjadi sesuai dengan keinginan asal tersedia fasilitas, meskipun sebenarnya itu tidak manusiawi.

Aku kembali ke rumah Ibuku yang sudah lanjut, 75 tahun. Keluargaku tidak dapat berbuat banyak, selain menghiburku agar aku tetap tabah. Iya benar akau harus tetap tabah dan tetap semangat. Aku pikir tidak menjadi gila saja aku sudah bersyukur.

Saat ini aku sudah berhenti dari Bank itu. Sekarang aku bekerja di sebuah toko makanan jadi seperti Mie instan dll. Pemilik toko, Tn. A ini adalah atasan aku semasa aku bekerja di Bank tadi. Tn. Dan Ny. A ini cukup pelit meskipun aku bekerja sungguh-sungguh. Tugasku adalah menjadi driver sebuah mobil box yang setiap harinya mensuply 2-3 toko lain. Untuk menjalankan tugasku ini, aku tidak diberi asisten untuk mengangkat dus-dus mie tadi. Jadi tugasku merangkap jadi driver dan pengangkut barang.

Saat istirahat siang haripun aku hanya mendapat jatah mie instan. Jarang aku makan nasi pada saat makan siang. Makan nasi hanya 2 kali yaitu pagi dan malam hari di rumah ibuku. Itupun dengan lauk yang sederhana seperti Tahu, Tempe dan Kecap. Dari pada aku kelaparan dan tidak dapat hidup maka aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Mau pindah kerja saat ini terasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup.

Hari demi hari aku menjalani hidup dengan sabar. Aku bersyukur akau masih dapat tinggal di rumah ibuku. Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dengan gajiku kami hidup berdua dengan Ibuku di sebuah rumah kecil.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat dielakkan. Suatu pagi, Ibuku ketika hendak berdiri setelah sarapan pagi, tiba-tiba Ibuku terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Aku terkejut melihat Ibuku terjatuh. Ya Tuhan….cobaan lagi yang menimpa keluarga kami. Ada sedikit benjolan di belakang kepala Ibuku dan muntah satu kali.

Aku minta ijin kepada bos karena harus mengantar Ibuku untuk berobat kepada dokter terdekat. Ada seorang Dokter, dr. B yang buka praktik dekat dengan rumah kami. Ibuku setelah diperiksa oleh dr. B. katanya kesehatan Ibuku dalam keadaan baik. Ada sebuah benjolan yang terjadi akibat adanya perdarahan dibawah kulit. Ibuku mendapat resep obat berupa tablet dan gel untuk menghilangkan benjolan di kepala.

Terdengar ketukan pintu samping ruang praktik dr. B. Rupanya Ibunda dr. B ingin bicara dengan putranya. Ketika pintu terbuka ternyata Ibuku dan Ibunda dr. B saling kenal dan sempat ngobrol sejenak. Ibunda dr. B tampaknya lebih tua dari usia Ibuku tetapi masih segar dan sehat.

Ibuku bercerita keadaan keluarganya terutama keadaanku setelah bercerai ( dengan tidak wajar ) dengan isteri dan putranya. Ibuku prihatin benar dengan penghasilanku setiap bulan meskipun bekerja tidak mengenal lelah. Ibuku tampak seperti putus asa dalam menjalani hidup kami di dunia ini.

dr. B banyak memberikan banyak kata-kata penghiburan dan memberikan dorongan agar aku dan Ibuku tetap semangat dalam menghadapi segala macam cobaan hidup ini. Keadaan sosial ekonomi keluarga dr. B juga katanya tergolong sederhana saja, bukan dari keluarga yang kaya. Hal ini membuat dr.B lebih tabah dan lebih kuat dalam segala cobaan hidup. Aku mendengar perkataan dr. B bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat dipikul oleh manusia artinya Tuhan Maha Mengetahui kondisi setiap umatnya. Tabah dan tetap semangat dalam hidup ini. Kalau isteri dan putraku harus meninggalkan aku, sudahilah kenangan pahit itu dan hiduplah untuk hari ini dan selanjutnya tanpa harus melihat ke belakang lagi. Mohonlah dan ketuklah pintu Tuhan semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagiku dan Ibuku tercinta.

Tidak terasa hampir 1 jam kami berkonsultasi dengan dr. B yang baik hati itu.
Ibuku minta agar dr. B mendoakan kami. Dengan spontan dr. B berdoa bersama kami di ruang praktiknya. Doa dipimpin oleh dr. B yang diikuti oleh aku dan Ibuku dalam hati dan mengamini setiap permohon kami kepada Tuhan. Doa yang ringkas, padat dan rendah kati akhirnya ditutup dengan kata Amin. Hatiku dan hati Ibuku lega setelah didoakan. Kami tahu bahwa dr.B bukanlah seorang rohaniawan tetapi seorang dokter yang baik hati.

Aku dan Ibuku tidak kuasa membendung air mata kami yag menetes keluar. Sungguh mulia dr. B ini yang menaruh perhatian kepada kami. Ketika aku akan membayar biaya pemeriksaan Ibuku, dr. B berkata “Tidak usah, untuk beli obat saja di Apotik terdekat dan semoga lekas sembuh” kepada Ibuku. Kami dengan tulus berkata “ Terima kasih, dok. Tuhan memberkati.”

Dalam perjalanan pulang kami bersyukur, masih ada orang yang mau memberikan semangat kepadaku. Aku harus tetap semangat! Aku harus tetap semangat! Amin.

Kamis, 27 Agustus 2009

Tersedot kloset


Pesawat Boeing 767 Sydney – Jakarta yang saat itu mengangkut 165 penumpang terbang dengan mulusnya. Siang itu udara cerah. Awan putih berada jauh di bawah pesawat.

Penerbangan selama 7 jam nonstop itu terasa membosankan karena film yang ditayangkan di layar tengah kurang menarik. Majalah yang terletak di bagian seat di depanku sudah kulihat berulang kali. Aku sudah bolak-balik sebanyak 2 kali ke Toilet yang berada di tengah pesawat. Ukuran Toilet yang hemat tempat ini, sangat bermanfaat bagi para penumpang. Jumlah Toilet ada 6 buah, 3 di tengah pesawat dan 3 dibelakang pesawat.

Setelah santap siang disajikan para penumpang sibuk dengan masing-masing aktifitas. Ada yang melihat film, ada yang mendengarkan siaran radio FM melalui headset ada yang melihat majalah, ada yang melamun, ada yang ngobrol sesama teman seperjalanan dan bayak pula yang tertidur.

Aku yang mendapat seat dekat Toilet di tengah pesawat tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari salah satu Toilet tersebut. Terdengar suara “Help, help”. Pintu Toilet sedikit terbuka.
Salah satu Pramugari menghampiri Toilet dan bertanya “What happen, Sir” kepada seorang Bule yang berada di dalam Toilet itu.
“Your Toilet bite me. I can’t stand up. Help me please” kata orang Bule setengah baya itu.
2 orang Pramugara berusaha membantu mengangkat orang itu yang dalam posisi duduk. Usaha mereka tidak berhasil.

Rupanya kejadian seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Setelah buang air besar dan kecil serta membersihkan diri dengan kertas Tissue yang banyak tersedia, pengguna Toliet seharusnya berdiri terlebih dahulu, menutup Toliet dengan penutup Toilet, kemudian menekan tombol Flush. Tenaga mesin jet pesawat akan menyedot semua kotoran yang ada di dalam Toliet. Rupanya pria tadi setelah membersihkan diri, dalam posisi masih duduk, ia sudah menekan tombol Flush. Dengan demikian kedua bokongnya tersedot hisapan mesin dan sulit dilepaskan.

Seorang Parmugari berkata kepada salah seorang rekannya “Give him some Bir.”
Pria itu disuruh minum Bir sebanyak-banyaknya sampai ia mabuk. Dalam keadaan mabuk, usaha mengangkat badan pria itu dilakukan lagi. Dengan sudah payah, akhirnya badan pria itu dapat terlepas dari Toilet. Pria itu tidak terasa kesakitan akibat ia sedang mabuk berat.

Oleh Pramugara, pria itu diantar kembali ke seatnya. Isterinya yang menduduki seat di sebelahnya rupanya tertidur ketika peristiwa yang menghebohkan itu terjadi dan terbangun ketika sang suami di dudukkan oleh Pramugara. Melihat suaminya tertidur, iapun melanjutkan tidurnya tanpa mengetahui bahwa sang suami telah mengalami kecelakaan kecil di dalam Toilet pesawat.-



Terlambat Haid



Tiga minggu yang lalu aku kehilangan salah satu anggota keluargaku. Ibundaku meninggal dunia pada usia 77 tahun. Sebelum meninggalkan kami, Ibunda tidak mengalami sakit yang serius, beliau pergi ketika kami hendak membangunkan solat subuh. Beliau tidak bereaksi dan tubuhnya dingin. Ibundaku telah pergi tanpa pesan apa-apa. Aku menangis di samping Ibundaku.

Aku, suamiku dan putra kami, Yusuf tinggal bersama Ibundaku menempati rumah peninggalan Ayahandaku. Ayahandaku telah mendahului Ibundaku sejak lima tahun yang lalu. Aku merasa kehilangan sekali, aku sedih, aku stres berat. Aku sekarang yatim piatu. Kalau mendapat masalah aku selalu meminta pendapat kepada Ibundaku. Beliau mau mendengarkan segala keluh kesahku dan dapat menghiburku. Sekarang tidak ada lagi orang yang dapat dimintai pendapatnya bila aku mendapat masalah.

Hubungan dengan suamiku kurang baik akhir-akhir ini. Pekerjaan di kantornya banyak dan sering kali membawa masalah kantor ke dalam rumah kami. Di kantor tempat aku bekerja sebagai juru tik tidak ada masalah. Beban kerjaku tidak terlalu berat dan tidak pernah membawa masalah Kantorku ke dalam rumah kami.

Yusuf, putra kami yang duduk di kelas 3 S.D. baik-baik saja. Prestasi belajarnya cukup baik, di atas rata-rata teman sekelasnya. Berangkat dan pulang sekolah ia tidak perlu diantar lagi karena Ia dapat berjalan dengan temannya ke gedung SD yang hanya berjarak 200 meter dari rumah kami. Sekarang kami tinggal berempat. Saya, suamiku, Yusuf dan Marisa. Marisa adalah kakak perempuanku yang tertua tetapi tidak mempunyai suami. Kepada Marisa-lah kami menitipkan Yusuf ketika kami bekerja di Kantor.
----

“Mas aku terlambat Haid” aku berkata kepada suamiku, pagi hari sebelum ia berangkat ke Kantornya.
Kami tidak menggunakan salah satu cara KB, kami ingin Yusuf mempunyai adik.

“Sudah berapa hari?” suamiku bertanya.
“Sudah hampir 2 minggu ini” aku menjawab.
“Kok, baru sekarang kamu bilang” suamiku mulai menyalahkan aku.
“Aku kan sedang stres setelah Ibundaku meninggal. Aku kurang memperhatikan lagi siklus Haidku pada bulan ini” kataku
“Apa, kamu tidak nyeleweng dengan laki-laki lain?” suamiku menuduhku seenaknya.
“Mas, ingat Mas, aku sejak kawin denganmu tidak pernah bergaul erat dengan laki-laki manapun. Kok sekarang Mas menuduhku yang bukan-bukan” aku membela diri.
“Ya siapa tahu” suamiku tidak mempercayaiku.
“Ya Tuhan, setan mana yang telah merasuki suamiku ini?” mukaku pucat, badanku dingin, aku ingin menangis dan mengadu kepada Ibundaku, tetapi beliau sudah pergi meninggalkan aku. Aku tidak dapat curhat kepada beliau lagi. O Tuhan kuatkanlah hatiku, aku memohon kepadaNya.

Suamiku pergi ke Kantor, setelah berkata “Pergilah ke Dokter secepatnya.”
Di Kantorku, aku curhat kepada temanku Siti.
“Jangan panik dulu, Ani. Berkonsultasilah dengan Dokter. Saya antar ya nanti sore” perkatakan Siti menyejukkan hatiku, seharusnya suamiku yang berkata seperti itu.
“Tidak usah repot-repot Ti, aku akan minta suamiku mengantar ke Dokter agar jawaban Dokter dapat didengar juga oleh suamiku juga. Aku tidak berhubungan dengan lelaki lain selain dengan suamiku dan sejak 3 minggu ini kami tidak berhubungan su-is karena kesibukan Kantor kami masing-masing” aku menolak ajakan Siti temanku.

“Mas, sore ini antarlah aku ke Dokter Stefen” aku meminta kepada suamiku.
“Baik, aku akan mengantarmu, kebetulan tidak ada pekerjaan Kantor yang harus diselesaikan di rumah pada sore ini” jawab suamiku. Kadang kala suamiku temperamennya lembut, kadang kala temperannya kasar. Apakah ia juga mengalami Stres di Kantornya? Aku belum sempat bertanya kepada suamiku tentang hal ini.
----

“Silahkan duduk Ibu dan Bapak. Ada masalah apa?” kata Dokter Stefen dengan ramahnya.
Kami sudah sejak lama mengenal Dokter Stefen. Beliau sudah menjadi Dokter Keluarga kami. Aku menceritakan bahwa aku sudah 2 minggu terlambat Haid, dan sejak 3 minggu yang lalu kami tidak berhubungan su-is dan 3 minggu yang lalu Ibundaku meninggal dunia. Aku sedih berat.
 “Baik, saya periksa duku ya” kata Dokter Stefen.
Beliau memeriksa tekanan darahku, meraba perutku di bawah Pusar dan lain-lain pemeriksaan rutin.
“Rahim Ibu tidak membesar, lain-lain baik. Begini saja, Ibu periksa Urine dulu di Laboratorium Klinik di sebelah tempat praktek saya dan nanti hasilnya dibawa kemari” Dokter Stefen memberi advisnya.

Setelah hasil pemeriksaan Kehamilanku dibaca oleh Dokter Stefen, beliau berkata “Hasil Tes Kehamilannya Negatip, berarti Ibu tidak sedang Hamil saat ini.”
“Tidak hamil, Dok” suamiku bertanya.
“Benar. Kalau Hamil maka hasil tes-nya akan Positip, Pak. Tenang….” kata Dokter Stefen.

Suamiku bertanya lagi “Kalau tidak Hamil, lalu mengapa Isteri saya terlambat Haidnya, Dok?”
“Tidak datangnya Haid, bila seorang wanita tidak Hamil, disebabkan karena ada ketidakseimbangan hormon Estrogen dan Progesteron didalam tubuhnya.” Dokter Stefen menjelaskan dengan sabar.
“Apa penyebab ketidakseimbangan hormon tadi, Dok “ suamiku terus bertanya.
“Stres yang berat misalnya kehilangan suami, isteri, ayah. ibu, anak dsb” 
Dokter Stefen melanjutkan “Apakah Ibu pernah mengalami Strres berat dalam kurun waktu 3 minggu ini?
“Benar, Dok. Ibundaku meninggal dunia 3 minggu yang lalu. Aku merasa kehilangan sekali atas kepergian beliau” jawabku kepada Dokter.
“Cocok. Haid bagi seorang wanita itu unik. Kalau datang diomelin, tetapi kalau terlambat datang diminta datang. Emang sifat manusia begitu, tidak pernah puas apa yang didapatnya” kata Dokter.

“Lalu bagaimana solusinya, Dok” suamiku bertanya lagi dengan tidak sabar.
“Ya dipancing, agar Haidnya datang. Saya akan tuliskan resep untuk Ibu. Sehari 1 tablet selama dua hari berturut-turut. Tunggu 7 – 10 hari. Haid Ibu akan datang. Itulah Plan A.” jawab Dokter.
“Kalau tidak datang Haid setelah 10 hari bagaimana Dok “ kata suamiku masih penasaran.
“Kita lakukan Plan B” jawab Dokter Stefen singkat.

Kami tidak sempat bertanya apa yang dimaksud dengan Plan B itu, karena Dokter Stefen segera mempersilahkan kami keluar untuk memeriksa pasien berikutnya.

Lima hari kemudian ketika aku bangun tidur, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres pada CD-ku. Ada bercak merah di CD-ku. Haidku datang. Terima kasih Tuhan. Memang Dokter Stefen adalah seorang Dokter yang pintar. Kami merasa beruntung mempunyai seorang Dokter seperti Dokter Stefen. Tanpa melakukan Plan B, yang kami belum tahu apakah itu, Haidku sudah datang. Aku mencium kening suamiku yang masih tidur di sisiku.
 




Rabu, 26 Agustus 2009

Sering kecelakaan


Aku merasa heran terhadap Pak Iwan, tetangga sebelah rumahku. Dalam setahun ini ia mengalami kecelakaan sebanyak 5 kali sejak awal tahun. Meskipun tidak sampai fatal tetapi Pak Iwan mesti mengalam rawat inap atau rawat jalan di Rumah sakit Umum di kotaku.

Suatu malam kami mendapat giliran jaga Siskamling di kampung kami. Aku sempat ngobrol dengan pak Iwan di Gardu jaga di dekat perempatan salah satu Gang. Sudah lama aku mengenal pak Iwan sejak kepindahan keluarganya ke sebelah rumahku. Oleh Pimpinan Kantornya Pak Iwan yang berasal dari kota lain, dipindahkan ke kotaku. Pak Iwan bersifat agresif kalau berbicara dengan orang lain, tidak peduli orang lain belum selesai bicara, ia sudah berbicara lebih banyak. Ia tidak mau menerima saran orang-orang sekitarnya. Akibatnya ia sering bertengkar dengan teman sekantor atau teman sekampungnya.

“Bulan Januari tahun ini aku masuk Rumah Sakit di kota dimana Kantor Pusat kami” kata Pak Iwan mengawali obrolan kami sambil mengisap rokoknya.
“Mengapa Bapak Masuk Rumah Sakit” aku bertanya.

“Aku mengalami kecelakaan lalu lintas ketika aku mengendarai mobil dinasku. Ada sebuah Minibus Suzuki yang mendahului mobil dinasku dengan tidak membunyikan klakson terlebih dulu. Setelah mobil itu berada di depan mobilku. Aku tanjap gas lagi untuk mendahului mobil itu. Dahulu mendahului terjadi sebanyak 3 kali. Yang terakhir kali perhitunganku meleset. Ketika akau ingin mendahuui mobil tadi, mendadak aku melihat ada Bus dari arah yang berlawanan. Aku banting setir kekiri persis di belakang mobil yang akan aku kejar. Mobilku menabrak sisi jembatan, kakiku patah, aku masuk Rumah Sakit selama 1 bulan.
Bertutur-turut aku megalami kecelekaaan lain yang lebih ringan”

“Bulan Maret ketika aku sedang menaiki tangga ketika akan memperbaiki genteng rumah kami yang bocor, aku terjatuh dari ketinggian 2 meter. Aku kurang hati-hati memasang tangga di atas selokan air. Salah satu kaki tangga masuk ke selokan air dan tangga itu miring sehingga kesimbanganku terganggu dan aku terjatuh. Untung aku tidak luka-luka. Padahal sebelumnya isteriku sudah memperingatiku, katanya lebih baik penggil orang untuk memperbaiki genteng yang bocor itu, tetapi aku bilang genteng itu hanya melorot sedikit saja. Mudah digeser sedikit gentengnya, pasti tidak bocor lagi. Saat itu aku tidak menerima anjuran isteriku dan aku harus menanggung akibatnya” kata Pak Iwan.

“Bulan April tangan kananku terbakar. Setelah membersihkan tanganku dengan lap yang dibasahi bensin sehabis membersihkan mesin mobil dinas, aku ingin merokok. Ketika korek api itu menyala, api langsung menjilat tanganku yang masih basah oleh bensin. Aku kaget dan secara refleks aku memasukkan tangan kananku ke dalam ember yang berisi air bekas mencuci mobil itu” Pak Iwan melanjutkan kisahnya.
“Bagaimana selanjutnya Pak Iwan?” aku dan teman-teman Siskamling makin asik mendengarkan kisah pak Iwan. Malam makin larut dan turun hujan gerimis.

“Bulan Juni, aku kena musibah lagi. Suatu saat aku dan temanku pergi ke suatu tempat dalam rangka survey lapangan. Saat istirahat kami masuk ke sebuah Rumah Makan. Perut kami sudah lapar dan aku memasukkan Nasi ke dalam mulutku, tanpa minum terlebih dahulu. Tiba-tiba akau tidak dapat nafas dan Nasi itu nyangkut di tenggorokanku. Aku panik dan temanku panik juag. Ia minta tolong kepada seorang lelaki yang duduk di meja sebelah kami.
“Pak, tolong teman saya. Tampaknya ia keselek makanan” kata teman sejawatku.
“Laki-laki itu segera mendekatiku dan tanpa ragu-ragu, ia menepuk pundak dekat leherku dengan satu tepukan yang agak keras. Nasi itu keluar dari mulutku dan hampir mengenai wajah teman sejawatku. Aku segera minum air teh yang tersedia. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak yang tidak kami kenal sebelumnya. Ternyata ia seorang perawat sebuah Rumah Sakit yang sedang dalam perjalanan bersama keluarganya dan makan di Rumah Makan itu. Wah aku malu juga atas kejadian itu” kata Pak Iwan.

“Mengapa pak Iwan sebelum makan tidak minum dahulu, agar tenggorokan basah dan makanan mudah masuk ke lambung Pak Iwan?’ kata aku yang pernah mengalami hal yang sama. Untung saja dengan dorongan air minum, nasi di dalam tenggorokanku dapat segera terdorong masuk ke lambungku.

“Bulan Agustus, aku mendapat kecelakaan lagi. Hampir saja wajahku tersiram air panas” Pak Iwan melanjutkan kisahnya.
“Air panas, Pak?” Didin bertanya kepada Pak Iwan.
“Iya air panas” Pak Iwan menegaskan dengan bersemangat.
“Minum dulu Kopinya Pak” aku mempersilahkan pak Iwan minum kopi.
Setengah gelas Kopi masuk ke dalam perut Pak Iwan.

“Ketika itu, dalam sebuah perjalanan ke luar kota mesin mobil dinas kami ngadat. Mobil tidak dapat dipacu lebih cepat. Aku melihat alat pengukur suhu mesin di dashboard, Ternyata panasnya melebihi angka yang ditetapkan. Mesin mobil kami panas sekali. Mungkin Radiatornya bocor atau Karet Radiatornya sudah aus sehingga air Radiator menguap dari sana.” Kata Pak Iwan sambil menghisap trokok kreteknya.

“Aku parkir mobil itu di pinggir jalan, lalu membuka kap mesinnya. Meskipun teman seperjalananku mengatakan bahwa sebaiknya mesin mobil itu didiamkan saja dahulu agar suhunya menurun dengan sendirinya, aku tidak mendengarkannya. Kalau menunggu berarti kami akan tiba di tempat tujuan lebih lama. Kemudian aku dengan menggunakan kain lap aku mencoba membuka tutup Radiator mobil itu. Seketika itu juga uap panas munrat ke atas. Secara refleks aku memalingkan wajahku ke kanan, tetapi terlambat tangan kananku tersembur uap panas itu. Temanku segera mengambil botol air minum kami dan segera menyiram tangan kananku dengan air minum. Meskipun tertolong tetapi tangan kananku sempat melepuh juga. Temanku menyalahkan aku yang tidak mendengar sarannya agar mesin mobil jangan diutak-utik dulu sebelum suhu mesin menurun. Aku menyesal, tetapi menyesal kemudian tidak ada gunanya. Lihatlah ada bekas luka bakar di tangan kananku. Rupanya air di Radiator itu sudah neyusut banyak sehingga mesti diisi air tambahan agar sistim pendingin mesin bekerja dengan baik.

“Oleh keluargaku, aku dilihat oleh orang pintar. Katanya musibah yang beruntun ini akibat aku diganggu mahluk halus. Aku sudah diruwat, dimandikan dengan air kembang tujuh rupa, tetapi rasanya di dalam pekerjaanku aku selalu cenderung mengalami kecelakaan. Barangkali ada diantara saudara-saudara ada yang mempunyai saran?” Pak Iwan bertanya kepada kami yang sedang jaga Siskamling.
“Kalau upaya paranormal tidak berdaya guna, mungkin lebih baik bila Pak Iwan berkonsultasi dengan Dokter Stefen. Ia dokter umum dan merupakan dokter keluarga kami. Tempat prakteknya di dekat kampung kami Pak” kata Pak Saleh kepada Pak Iwan.
“Kalau ke dokter aku malu” kata Pak Iwan
“Kok malu Pak. Bapak kan tidak menderita penyakit menular. Aku mau mengantar Pak Iwan ke Dokter Stefen” kataku, karena Pak Iwan tetangga paling dekat dengan rumahku.
“Baiklah, kalau Pak Junaedi mau mengantar aku, besok sore kita kesana ya” kata Pak Iwan gembira.
---

Setelah Dokter Stefen bertanya riwayat penyakit dan memeriksa Pak Iwan, beliau berkata “Badan Pak Iwan baik-baik saja, tidak ada kelainan fisik. Kecelakaan yang Pak Iwan alami itu namanya Accident prone atau kecenderungan mengalami kecelakaan lebih banyak dari orang biasa. Kepribadian Pak Iwanlah yang menyebabkan kecelakaan itu dan bukan karena gangguan mahluk halus.”

“Kepribadian saya biasa-biasa saja Dok, saya juga sudah beristeri dan mempunyai 2 orang anak” kata Pak Iwan yang tidak mau dianggap mempunyai gangguan kepribadian.

“Bukan itu masalahnya. Coba diingat-ingat: apakah Pak Iwan bersifat agresif kalau melihat ada orang yang sedang berbicara atau selalu ingin mendahului mobil lain yang telah mendahului mobil Pak Iwan. Juga apakah Pak Iwan mau mendengarkan saran atau advis orang lain termasuk isteri pak Iwan sendiri?” kata Dokter Stefen.

Kepala Pak Iwan mengangguk-angguk seperti kepala ayam mematuk butiran padi di tanah. Ia teringat bahwa kecelakaan yang dialaminya kebanyakan akibat ia bersifat agresif, tak mau menerima saran atau tidak mau mendengar nasehat temannya atau isterinya sehingga ia terjatuh dari tangga pada bulan yang lalu.

“Pak Iwan mesti merubah, sikap mental Pak Iwan agar mau lebih banyak mengalah dan menerima saran orang lain. Lain kali Bapak datang lagi kesini untuk bicara soal kepribadian, ya” kata Dokter Stefen sambil membukakan pintu ruang prakteknya.