Minggu, 23 Agustus 2009

Mercedes antik


Sekitar tahun 1992, kami sekeluarga dari kota Cirebon dengan menggunakan sedan Mercedes warna Kuning kecoklatan, produksi 1976 menuju kota Jakarta. Liburan sekolah pura/i kami isi dengan berlibur pergi ke Jakarta, kerumah Kakek dan Nenek mereka. Mengendari sedan bermesin 2800 CC dan berpower streering pada kemudinya ini cukup nyaman. Sedan melaju dengan mantap dengan kecepatan 70 – 80 Km per jam. Terasa keempat ban sedan menggigit aspal jalan raya.
 
Kami bangun dan berangkat pagi hari karena akan menempuh jarak jauh. Ketika mobil kami tiba di daerah Sukra, Kabupaten Indramayu, isteriku yang duduk di jok sebelah saya selaku pengemudi dan kedua putra/i kami yang duduk dijok belakang tertidur. Nyamannya duduk di sedan yang nyaman ini, sering kali membuat para penumpang ngantuk dan tertidur. Saya sebagai pengemudi berusaha sekuat mungkin agar saya tidak ngantuk.
 
Disuatu tempat, saya melihat jalan raya masih sepi pada pukul 06.30. Sekitar 100 meter di depan mobil kami, saya melihat seekor Kerbau Hitam berdiri di sisi kiri jalan yang akan dilalui sedan kami. Aku merasa tenang, karena Kerbau itu diam di tempat. Aku sedikit mengurangi kecepatan karena ada beberapa lubang kecil dijalan. Kwalitas jalan raya disitu pada saat itu kurang baik.
 
Pada posisi 50 meter dari Kerbau berdiri, aku masih melihat ia masih diam di tempatnya. Pada posisi 10 meter, aku melihat tiba-tiba Kerbau itu sudah berada di tengah jalan raya dan diam disana.
 
Aku menjerit “Ya Tuhan, tolong kami”
Aku tetap memegang kemudi dengan panik dan pedal rem aku injak habis, bunyi ban menggesek aspal terdengar dari dalam sedan kami. Kemudi sedan tidak aku banting ke kanan, karena akan mengambil jalan kendaran lain dari arah yang berlawanan. Aku tidak membanting kemudi ke arah kiri karena jalan raya diatas tanah tepian jalan, ada semacam jarak yang cukup besar. Kemudi aku pegang erat, tetap ke arah depan. Aku mengira jarak 10 meter tidak akan cukup untuk menghentikan sedan kami tanpa menabrak Kerbau Hitam itu. Aku makin dalam menginjak pedal rem dengan mata tertutup. 

Aku membayangkan sedan kami akan menabrak sang Kerbau dan sedan kami akan terlempar, kami akan mengalami luka-luka atau patah tulang. Sedan berhenti tepat 10 Cm di depan Kerbau. Sedan kami tidak bergeming. Arahnya tetap ke depan, tidak ke kiri atau ke kanan.

“Puji Tuhan, kami selamat. Terima kasih Tuhan” aku membatin.
Mulut kerbau komat-kamit mengunyah makanannya, ia cuek saja. Padahal nyawanya akan melayang bila sedan kami menabrak badannya. Ia segera berlari setelah penggembalanya, seorang bicah menyuruh ia berjalan menyebrangi jalan yang akan kami lalui.

“Ada apa? isteriku terbangun, karena sedan berhenti.
“Ada kerbau melintasi jalan dan aku menginjak Rem mobil. Aku tidak berkata apa yang terjadi sebelumnya. Putra/i kami tidak terbangun dari tidur mereka.
“O… kirain ada ada apa” isteriku melanjutkan tidurnya dan aku melanjutkan tugas mengemudikan sedan kami ke kota Jakarta.
 
Setelah lima menit sedan kami meninggalkan tempat kejadian itu, aku menarik nafas dalam dan sangat bersyukur kalau kami mengendari sedan Mercy yang stabil dan Tuhan sudah menyelamatkan kami. Kalau sedan made in Japan aku tidak dapat membayangkan apakah kami akan selamat dari kejadian yang berlangsung sangat cepat itu, hanya sekian detik.
 
Beberapa tahun kemudian Sedan yang bersejarah itu kami jual dan kami mendapatkan gantinya produksi tahun 1985, warna Merah Dunhill. Mobil antik dengan merek yang sama juga. Mobil ini banyak menghasilkan uang, karena sering disewa oleh banyak pasangan Pengantin yang ingin duduk di Sedan dengan merk yang antik di hari yang bahagia mereka.
 
Saat ini kami tidak mempunyai sedan Mercy lagi akibat harga sparepart dan bahan bakar yang tinggi. Sebagai pensiunan, aku tidak sanggup lagi memelihara mereka. Kami bersyukur kami telah mencicipi dan memelihara Sedan Mercy selama hampir 15 tahun.-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar