Minggu, 26 Juli 2009

Pulsa Telepon


Saat ini berkomunikasi secara verbal sudah lebih mudah dilakukan dengan adanya sambungan telepon, baik telepon rumah maupun telepon genggam. Pemakaian telepon yang berlebihan atau sering mengadakan sambungan langsung jarak jauh ( SLJJ ) dapat meneyebabkan tagihan telepon akan membesar.

Dua bulan yang lalu Nani, adikku yang tinggal di Jakarta berkunjung ke kota kami. Nani bermalam di rumah Ibu kami. Kami sekeluarga menempati rumah kami yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Ibu kami.

Suatu pagi Ibuku mengeluh kepada Nani karena tagihan Telepon bulan berjalan lebih besar dari pada taghan telepon pada bulan-bulan sebelumnya.
“Nan, tagihan telepon bulan ini kok sampai Rp. 250.000,-? Ibuku berkata kepada Nani.
“Coba, saya lihat Rekeningnya, Bu.” Sahut nani kepada Ibuku.
“Iya benar tagihannya Rp. 250.950,- Biasanya berapa tagihan setiap bulannya, Bu?”
“Biasanya dibawah Rp. 100.000,- antara Rp. 60.000 sampai 75.000,- setiap bulan. Mengapa bulan ini sampai seperempat juta? Padahal bulan ini Ibu tidak melakukan interlokal ke kota lain” Ibuku menyahut.
Nani memunyai ide, katanya kepada Ibu “Besok kita minta saja hasil print out nomer telepon Ibu kepada petugas Kantor Telepon.”

Hasil print out dari Kantor Telepon memberikan jawaban atas pertanyaan Ibu tentang besarnya tagihan telepon bulan ini.
Nani menjelaskan kepada Ibu, “Bu, disini tercetak ada 6 kali sambungan interlokal ke kota Kuningan dan 2 kali ke kota Surabaya. Besar biayanya cukup besar. Apakah pada bulan yang lalu Ibu pernah bicara dengan seseorang di Kuningan dan Surabaya?”
“Tidak, Ibu tidak bicara dengan seseorang di Kuningan, apalagi di Surabaya.” Sahut Ibu.
“Kalau begitu siapa ya yang mempergunakan telepon Ibu. Adakah orang lain yang menginap di trumah Ibu? kata Nani.
“ Tidak ada, selain pembantu yang baru 3 bulan bekerja di rumah Ibu.” sahut Ibu kami.
“Apakah ia berasal dari Kuningan?” kata Nani kemudian.
“Iya benar, ia berasal dari sana.” kata Ibu.

Ibu memanggil si Bibi yang bersusia setengah baya.
“Bibi, apakah bulan yang lalu pernah mempergunakan telepon kami?
“Tidak Nya, saya tidak pernah.” sahut si Bibi.
“Bi, berkatalah dengan jujur. Bibi berasal dari Kuningan. Tagihan telepon bulan ni besar sekali dan pernah dipakai untuk interlokal ke Kuningan sebanyak enam kali dan Surabaya dua kali. Apakah Bibi telah memepergunakan telepon di rumah ini?” Ibuku berkata dengan sengitnya.
Si Bibi terdiam sejenak dan ketika perbuatannya diketahui Ibu kami, ia menjawab ”Betul, Nyah saya memakainya.”
Ibu kami berkata lagi “Bi, kalau mau pinjam telepon boleh saja, tetapi bilang dulu, sebab biaya interlokal itu mahal.”
Si Bibi mendadak njeletuk “Kalau begitu saya maling ya.”
Nani cepat menjawab “Kami tidak berkata begitu, BI Yang bilang maling si Bibi sendiri.”

“Kami keberatan kalau tagihan biaya interlokal itu, kami yang membayar.” Kata Ibu.
Si Bibi menjawab dengan entengnya “Biarlah gaji saya dipotong dengan cara mencicil biaya telepon itu Nyah.”
Rupanya si Bibi berbicara dengan salah satu anaknya dan ketika satu kali perbuatannya tidak diketahui dan tidak ada teguran dari Nyonya rumah, Bibi melakukan lagi sampai beberapa kali. Dikiranya perbuatannya itu tidak diketahui oleh siapapun. Benar Ibuku tidak mengetahui, tetapi program komputer di Kantor Telepon mencatat semua pulsa yang dipakai oleh setiap pemilik nomer tepeon secara 24 jam sehari.
Ibu berkata kepada si Bibi “Kalau begitu mulai bulan depan gaji Bibi akan dipotong cicilan biaya telepon selama lima kali.”

Setelah kejadian itu tidak ada lagi keluhan besarnya tagihan biaya telepon di rumah Ibu. Pesawat telepon itu akhirnya dilindungi dengan kotak telepon yang dapat di kunci sehingga dengan demikian telepon itu hanya dapat menerima saja dan kalau hendak bicara kepada orang lain kami harus membuka kunci gembok becil terlebih dahulu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar